Postingan

Jangan Iri Dengan yang Hanya Terlihat

Sahabat kebaikan sudah lama mimin tidak menyapa. Apa kabar?, semoga dalam keadaan baik yah.. Iri menjadi salah satu sifat yang lumrah dimiliki oleh diri sendiri dan orang lain. Eits tapi jangan salah loh iri ini kemudian diwujudkan dalam berbagai tindakan. Ada sesi dimana iri ini akan berdampak untuk menyalahkan diri sendiri. Lah, ituloh istilah yang sekarang lagi hits insecure . Banyak banget yang sudah foto dengan toga mereka, pegang bunga, selempang dan segala perlengkapan atribut wisuda LDR. Tapi ada juga yang masih stagnan untuk memikirkan skripsi akan dibawa kemana. Lalu berucap aku, kapan yah begitu . Sebenarnya jawabannya sederhana ayo dikerjakan, jangan dipikirin. Cuma nih ternyata berdampak banget menjadi tekanan psikologis apalagi kalo dibumbui dengan pernyataan netizen 'kapan wisuda' atau emak yang udah lantang menyuarakan kegelisahan hati noh si onoh tetangga sebelah udah wisuda, kamu kapan? . Kasus paling membuat baper sejagat raya nih yaitu ta'aruf yan...

Maaf dari Saya

Gambar
Aku pernah bercakap di bawah langit Agustus saat malam tiba. Ditemani ribuan bintang yang semesta sisihkan untuk tata surya. Berbicara tentang gemerlapnya dunia, yang kerap kali membuat kita buta. Pertanyaanku masih tetap sama. Bagaimana cara jatuh cinta. Karena panjangnya tahun hingga dua puluh satu pun aku masih belum bergetar menatap netra keduanya. Karena hingga matahari kian memanas pun aku belum bisa meneteskan air mata karenanya. Sungguh, tak sepantasnya aku berulang menatap mereka, bersamaan dengan hati yang kosong tanpa kasih yang tak ku pilih. Begitu tega rasanya jika setiap pagi menjelang, suara lemah penuh harap dan do’a itu tak ku sambut dengan tenang. Entah kenapa, aliran darah yang mengikat kita tak menggetarkan jiwa yang kini meronta. Kerap kali aku menoleh iri pada sekitar. Pada mereka yang begitu jatuh cinta. Pada mereka yang setiap hari mengangkat telefon dari keduanya. Pada mereka yang air mukanya berubah ceria ketika melihat layar yang tertuliskan naman...

Toxic Parents ? #3

Gambar
Toxic Parents ? #2 Aku melempar tasku sembarang dan membanting diri ke kasur. Minggu depan ujian akhir semester dan rasanya niat belajarku berada pada titik nol persen. Ini baru permulaan, pembelajarannya tidak sesulit itu, sungguh, lagipula aku tidak sebodoh itu dalam belajar tapi, aku hanya sedikit muak, itu terlalu kasar harap maklum it’s my day one of pms and I feel too sensitif for everything . Okay, mari refreshing sebentar. Aku mengambil kanvas, kuas dan cat lukisku, demi Tuhan, sebentar saja setelahnya 48 jam di weekend -ku akan kugunakan untuk belajar, janji. “ Ujian kamu dua hari lagi, Sea, ini bukan waktu yang tepat untuk melukis ”. Aku tersentak karena Bunda yang tiba-tiba masuk tanpa ketuk pintu dulu, aku membuang nafas kasar menahan sesuatu dalam diriku yang rasanya akan meledak sekarang juga “ Sebentar aja Bunda, aku butuh refreshing sebelum ujian ”, rengekku pelan. Bunda duduk di sampingku dan membelai lembut rambutku, “ Refreshing setelah ujian ya, harus ...

Toxic Parents ? #2

Gambar
Toxic Parents ? #1 Ini tahun pertama dan semester keduaku menjadi mahasiswi disalah satu universitas terbaik di kotaku yang sudah jadi sasaran Bunda sejak aku SMP, kata Bunda, belajar di universitas berakreditasi baik akan berpengaruh baik terhadap perjalanan cita-citaku. Ribet, is my first impression soal jurusan yang sekarang ku tekuni. Kedokteran. Salah satu jurusan yang paling digilai banyak orang tua, termasuk Bundaku dan katanya juga jurusan idaman mertua. But for you guys information , sejak 19 tahun yang lalu aku dilahirkan ke dunia sampai sekarang I’m offically 19 , nggak pernah sekalipun terlintas dipikiranku untuk menjalankan profesi mulia penyelamat banyak orang itu. Bukan karena aku nggak suka, it’s just not my passion . Aku hanya suka seni, terutama melukis. Sedari kecil waktu luang yang ada aku habiskan dengan melukis. Aku masih ingat lukisan pertamaku adalah Putri Odette dalam film Barbie of Swan Lake , yang kalauku lihat lagi pada usia saat ini itu menyeramkan...

Jatuh Cinta Sama Sahabat Sendiri? DILEMA Sekali Rasanya!

Gambar
Sahabat kebaikan kali ini biachan mau membahas seputar hubungan persahabatan lawan jenis yang mungkin pernah kalian alami. Dalam hubungan persahabatan kadangkala perasaan suka dan kagum terhadap sahabat sendiri merupakan hal yang lumrah. Namun, apa jadinya jika terjadi pada sahabat yang salah satunya memendam perasaan cinta? Ada dua kemungkinan. Cintanya terbalas atau tak berbalas. Kemungkinan lainnya muncul jika masa pacaran telah berakhir. Antara berakhir di pelaminan atau justru menjadi memori yang menyakitkan. Hanya takdir dan semesta yang mampu menjawabnya. Teruntuk kalian yang berada dalam situasi jatuh cinta terhadap sahabat sendiri. Ada dua pilihan di tanganmu. Pilihan pertama, apakah kamu akan mengungkapkannya lalu mendapatkan jawaban yang menyenangkan atau meruntuhkan hatimu?. Pilihan kedua, apakah kamu akan memendam saja perasaan itu hingga akhir dengan resiko suatu saat nanti dia bersama orang lain atau kamu beruntung berujung dengan kisah teman tapi menikah?. Pilihl...

Perintah dan Pelajarannya

Gambar
Adalah sore itu, seorang anak kecil saling bertukar cerita dengan ayahnya. Keduanya saling menyahuti dengan canda. Sampailah sang ayah pada sebuah kalimat perintah untuk gadis kecilnya. " Sholat nak, ayo sana sebelum kita pulang ke rumah " ujarnya. Sang anak tampak tak terima, ia menggugat. " Ayah saja tidak pernah shalat! " Dan kuceritakan pada kalian sahabatku, ayah gadis itu bungkam. Kehilangan katanya untuk menyanggah alasan sang anak tak menerima arahannya. Pada cerita itu mari kita mencari pelajaran bagi diri yang punya hati. Bahwasanya sebelum berbicara baiknya kita menjadi pelaku utama. Paling pertama menjadi contoh yang diambil teladannya. Pada kisah ini bisa kita ambil mutiaranya. Bahwa untuk menjadi orang tua, haruslah siap ilmu juga akhlak yang ahsan digugu si penerus, titipan-Nya. Maka jika yang membaca ini adalah para orang tua, mari berbenah lagi, berupaya jadi sebaik-baik sosok bagi Allah dan si buah hati. Bila yang meneliti tulis...

Menyandingkan “Cuma” dan “Doang” dalam Sebuah Kalimat Adalah Bentuk Pemubaziran Tak Termaafkan

Gambar
Sejauh mata memandang dan sejauh telinga mendengar, “Cuma” dan “Doang” kerap hadir bersamaan, bersanding tanpa restu kaidah kebahasaan dalam sebuah kalimat. Betapa sering kita mendengar atau bahkan mengeluarkan kalimat seperti ini “Cuma gitu doang mah gampang!”, kita melontarkan kata-kata itu dengan sangat ringan, kayak gak lagi ngelakuin kesalahan apa-apa, ayo ngaku saja!. Saya sadar betul dalam percakapan sehari-hari menyandingkan “Cuma” dan “Doang” nikmatnya kayak gibahin tetangga sebelah, astagfirullah, becanda sayang. Saking nikmatnya menyandingkan “Cuma” dan “Doang” saya berani bilang kalau hampir semua orang Indonesia pernah menyandingkan keduanya baik secara sadar maupun tidak sadar, karena alasan itu tadi, nikmat dan mantap rasanya bilang begini “Cuma kamu doang yang ada di hati aku”, apalagi kalau sedikit dipoles dengan kebohongan, sensasinya beda, adrenalin terpacu kencang. Akan tetapi kenapa ya semua yang mantap-mantap itu yang dilarang? Sudah menjadi tradisi sejak za...