Postingan

Ketika Logika dan Rasa Tak Lagi Bersatu

Tulisan ini mungkin akan menuai pro kontra. Tapi dengan tulisan ini aku juga ingin bersuara bagi mereka yang takut untuk hanya sekedar bercerita padahal lukanya sudah berakar amat dalam. Semoga pembaca tidak baper, jika salah mohon dimaafkan dan jika ada kebermanfaatan mohon disebarluaskan ^^. Lagi-lagi kali ini mimin akan bahas tentang cinta. Ah gak pernah ada habis-habisnya memang jika membahas tentang perasaan bahkan sampai ada frasa “cinta tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata” memang buaya benar mimin kali ini hahaha.   Aku t’lah tahu kita memang tak mungkin  Tapi mengapa, kita selalu bertemu?  Aku tlah tahu hati ini harus menghindar  Namun kenyataan ku tak bisa?  Maafkan aku terlanjur mecinta  Sudah bubar-bubar jangan nyanyi lagi^^ Haloo kamu apakabar? Aku pengen ngajak kenalan boleh gak?. Ada lagi dengan jurus lainnya aku sedang cari patner nih buat bantuin sesuatu boleh gak aku minta hatimu*eh no hp. Aku udah lama bang...

Pecandu Kepastian

Gambar
Apakah hari ini akan baik-baik saja?. Apakah besok akan hujan?. Bagaimana jika 5 tahun lagi aku tidak akan bisa mencapainya?. Bagaimana jika dimasa depan aku berakhir mengecewakan?. Bukankah ini hanya frasa yang sering kita utarakan. Rasa khawatir yang terus mengebu-ngebu dan cemas yang tak berujung. Berteman dengan kepastian sudah sangat mengakar untuk aku, mungkin tanpa kamu sadari kamu juga pecandu. Menyusuri jalan yang sama setiap ingin pulang. Merasa aman jika membeli produk jika telah melewati ribuan kolom pencarian. Memilah dan menentukan pilihan tanpa ingin sejenak menoleh ke produk lainnya. Meminum vitamin dan suplemen untuk penyakit-penyakit yang kita belum ketemui. Mungkin yang paling relate dengan kita yaitu memilih mengenal orang lebih dalam. Apalagi untuk dijadikan pasangan hidup yang akan mengusap wajah di pagi hari dan ingin rasanya sehidup semati sampai pada akhirnya dipertemukan kembali di surga-Nya. Semua berusaha untuk kita setting seperti yang kita harapkan...

Toxic Parents ? #4

Gambar
Toxic Parents 3 Aku kembali ke rumah dan menemukan Bunda di meja makan dengan tangan menutupi wajahnya. Aku memantapkan diri melangkahkan kaki untuk menghampiri Bunda. Bunda yang sepertinya sadar seseorang melangkah ke arahnya, mengangkat kepalanya. Terciduk sedang menangis Bunda buru-buru menghapus air matanya. “ Sini duduk, Bunda mau ngobrol ”. Dengan lembut Bunda memintaku duduk di sampingnya. Bunda memutar tubuhnya agar berhadapan dengan ku, menatap wajahku lekat sampai-sampai rasanya Bunda bisa melihat ke dalam diriku. “ Bunda nggak sadar kapan kamu bisa tumbuh jadi sebesar ini ”, Bunda menarik nafasnya dalam dan membuangnya halus sebelum melanjutkan kalimatnya, “ Sepertinya selama ini Bunda menjadi Bunda yang kamu takuti bukan segani ya? ”, tanyanya pelan dan aku menggeleng cepat, Bunda tersenyum melihat reaksiku, “ Makasih, ya, sudah jadi anak baik. Makasih sudah tetap sayang Bunda walaupun Bunda egois ”. Aku sedih mendengar kalimat Bunda barusan, “ Makasih Bunda sudah...

Jangan Iri Dengan yang Hanya Terlihat

Sahabat kebaikan sudah lama mimin tidak menyapa. Apa kabar?, semoga dalam keadaan baik yah.. Iri menjadi salah satu sifat yang lumrah dimiliki oleh diri sendiri dan orang lain. Eits tapi jangan salah loh iri ini kemudian diwujudkan dalam berbagai tindakan. Ada sesi dimana iri ini akan berdampak untuk menyalahkan diri sendiri. Lah, ituloh istilah yang sekarang lagi hits insecure . Banyak banget yang sudah foto dengan toga mereka, pegang bunga, selempang dan segala perlengkapan atribut wisuda LDR. Tapi ada juga yang masih stagnan untuk memikirkan skripsi akan dibawa kemana. Lalu berucap aku, kapan yah begitu . Sebenarnya jawabannya sederhana ayo dikerjakan, jangan dipikirin. Cuma nih ternyata berdampak banget menjadi tekanan psikologis apalagi kalo dibumbui dengan pernyataan netizen 'kapan wisuda' atau emak yang udah lantang menyuarakan kegelisahan hati noh si onoh tetangga sebelah udah wisuda, kamu kapan? . Kasus paling membuat baper sejagat raya nih yaitu ta'aruf yan...

Maaf dari Saya

Gambar
Aku pernah bercakap di bawah langit Agustus saat malam tiba. Ditemani ribuan bintang yang semesta sisihkan untuk tata surya. Berbicara tentang gemerlapnya dunia, yang kerap kali membuat kita buta. Pertanyaanku masih tetap sama. Bagaimana cara jatuh cinta. Karena panjangnya tahun hingga dua puluh satu pun aku masih belum bergetar menatap netra keduanya. Karena hingga matahari kian memanas pun aku belum bisa meneteskan air mata karenanya. Sungguh, tak sepantasnya aku berulang menatap mereka, bersamaan dengan hati yang kosong tanpa kasih yang tak ku pilih. Begitu tega rasanya jika setiap pagi menjelang, suara lemah penuh harap dan do’a itu tak ku sambut dengan tenang. Entah kenapa, aliran darah yang mengikat kita tak menggetarkan jiwa yang kini meronta. Kerap kali aku menoleh iri pada sekitar. Pada mereka yang begitu jatuh cinta. Pada mereka yang setiap hari mengangkat telefon dari keduanya. Pada mereka yang air mukanya berubah ceria ketika melihat layar yang tertuliskan naman...

Toxic Parents ? #3

Gambar
Toxic Parents ? #2 Aku melempar tasku sembarang dan membanting diri ke kasur. Minggu depan ujian akhir semester dan rasanya niat belajarku berada pada titik nol persen. Ini baru permulaan, pembelajarannya tidak sesulit itu, sungguh, lagipula aku tidak sebodoh itu dalam belajar tapi, aku hanya sedikit muak, itu terlalu kasar harap maklum it’s my day one of pms and I feel too sensitif for everything . Okay, mari refreshing sebentar. Aku mengambil kanvas, kuas dan cat lukisku, demi Tuhan, sebentar saja setelahnya 48 jam di weekend -ku akan kugunakan untuk belajar, janji. “ Ujian kamu dua hari lagi, Sea, ini bukan waktu yang tepat untuk melukis ”. Aku tersentak karena Bunda yang tiba-tiba masuk tanpa ketuk pintu dulu, aku membuang nafas kasar menahan sesuatu dalam diriku yang rasanya akan meledak sekarang juga “ Sebentar aja Bunda, aku butuh refreshing sebelum ujian ”, rengekku pelan. Bunda duduk di sampingku dan membelai lembut rambutku, “ Refreshing setelah ujian ya, harus ...

Toxic Parents ? #2

Gambar
Toxic Parents ? #1 Ini tahun pertama dan semester keduaku menjadi mahasiswi disalah satu universitas terbaik di kotaku yang sudah jadi sasaran Bunda sejak aku SMP, kata Bunda, belajar di universitas berakreditasi baik akan berpengaruh baik terhadap perjalanan cita-citaku. Ribet, is my first impression soal jurusan yang sekarang ku tekuni. Kedokteran. Salah satu jurusan yang paling digilai banyak orang tua, termasuk Bundaku dan katanya juga jurusan idaman mertua. But for you guys information , sejak 19 tahun yang lalu aku dilahirkan ke dunia sampai sekarang I’m offically 19 , nggak pernah sekalipun terlintas dipikiranku untuk menjalankan profesi mulia penyelamat banyak orang itu. Bukan karena aku nggak suka, it’s just not my passion . Aku hanya suka seni, terutama melukis. Sedari kecil waktu luang yang ada aku habiskan dengan melukis. Aku masih ingat lukisan pertamaku adalah Putri Odette dalam film Barbie of Swan Lake , yang kalauku lihat lagi pada usia saat ini itu menyeramkan...