Hobi Menjadi Mandiri, Mandiri Menjadi Nyata

Rasa suka itu tumbuh bukan diawali dari usia remaja, melainkan dari kecil sudah timbul namanya suka.
Terbiasa melihat, mendengar, dan sering menjumpa
membuat rasa ini semakin terarah menjadi kebiasan yang dicoba.
Jangan salah sangka dengan kata-kata.
Bukan jatuh Cinta pada hal yang membuat baper semua remaja.
Hobiku muncul dan dimulai sejak kecil, yaitu berbisnis. Sering melihat, mendengar dan menjumpai secara langsung sistem jual beli membuat diri ini terarah dan memulai mencoba. Kebiasan itu diawali dari sekolah dasar (SD). Kebiasan ibu mengajak berjualan ke pasar membuat diri ini juga mencoba ingin menghasilkan. Mulai dari menjual makanan ringan, buah-buahan dan mainan. Konsep yang tertanam pada awal sudah membuat anak kecil ini tumbuh menjadi diri yang lebih belajar dan lebih peduli lagi untuk menghasilkan. Konsep nyata dan teknik-tekniknya belum dipahami, hanya mengerti "yang penting duit dapat", semua ini berlangsung sampai SMA. Belum mengenal dan belum mengetahui potensi diri terdapat pada hobi itu sendiri. Kenapa semua ini masih dibilang hobi? karena menghasilkan namun masih meminta uang jajan sehingga belum mandiri.
Semua itu kembali mengawali,
Perkuliahan mengajarkan banyak hal yang harus di sadari,
kedewasaan, emoisional dan potensi diri harus kita pahami.
Bukan jalan sekedar jalan, bukan belajar sekadar mencari gelar.
Ibarat kata, dunia perkuliahan dapat menunjang semua namun bukan yang menjadikan potensi diri yang semestinya. Dari pengeluaran yang sering sekali kita lakukan selama kuliah membuat saya lebih berpikir. Hmmm, apakah saya harus seperti ini terus?. Haruskah tangan saya di bawah terus-menerus. Meminta pada orang tua walau saat itu juga menghasilkan. Azam pada diripun mulai muncul dan tersadarkan, mulai sekarang saya harus menghasilkan dengan cara saya sendiri. Waktunya bukan meminta, waktunya bukan terus menengadah tangan, saat ini waktunya kamulah yang memberi.
Kekuatan itu semakin kuat ketika melihat dan semakin meresapi perjuangan sosok pahlawan hidup, yaitu "Orang tua". Ternyata menghasilkan uang 1000 rupiah itu sangat melelahkan, membutuhkan pengorbanan yang besar dan kita hanya bisa melakukan penghabisan besar-besaran tanpa berpikir mereka itu berkorban. Berkorban waktu, tenaga, dan perasaanpun berkecambuk jadi satu. Semua itu dilakukan hanya untuk membuat mimpi dan anaknya menjadi luar bisa dilihat orang dan dikenal dunia. Sungguh jahat diri ini...
Momen ini yang membuat saya berbikir "Mandiri".
Tidak ada kata meminta yang ada harus memberi.
Perasaan itu semakin menjadi-jadi.
Semangat itu terus muncul seriring dengan terbayangnya pengorbanan pahlawanku tercinta.
Yang awalnya hobi, kini menjadi mandiri.
Menghasilkan dan mencoba memberi.
Merasakan lelah yang mereka rasakan
Perjuangan saya mulai dari jualan mandiri, buka bisnis bersama teman, menjadi guru les, gojek anak sekolah, sampai magang menjadi guru PAUD. Ternyata secapek ini orang tua saya mencari uang. Saat itupun berpikir siapapun yang memberi saya, usahakan tak mengambilnya secara mudah, seperti pada masa kecil dulu sambil nangis dan air mata bercampur ingus kalau tidak dikasih, wkwkwk..
Kini Pemikiran itu menjadi dewasa dan berkata tegas pada diri, "bukan meminta lagi tapi memberi", ini sebuah prinsip. Setelah mandiri, mulailah rasa ini berpikir dan lebih semangat lagi. Karena tak mau tangan di bawah lagi, kini saatnya tangan harus di atas dan terus berbagi. Dari sanalah timbul sebuah "mimpi".
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah” (HR. Bukhari 1429, Muslim 1033).
Kemandirian itu mengajarkanku untuk terus berbagi dan berada dalam setiap momen dimana orang-orang membutuhkan diri kita disanalah kita siap untuk berbagi. Misi untuk membuat orang lebih baik lagi dan menumbuhkan visi untuk terus bermanfaat dan termanfatkan orang dalam kebaikan kini menjadi mimpi yang tetap dan menjadi motivasi untuk terus berjuang mandiri. Karena saya ingin menjadi orang kaya, kaya yang bukan hanya dinikmati diri sendiri namun dinikmati semua orang. Dari mandiri munculah mimpi-mimpi.
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
“Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain”.
"Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri . . . ” (QS. Al-Isra':7).
Banyak mimpi yang saat ini mulai menjadi kenyataan. Membangun komunitas untuk kepedulian sosial, bisnis kecil-kecilan, dan masih banyak mimpi besar lainnya. Saya tidak akan pernah takut bermimpi, saya yakin Yang Maha Memiliki Segalanya tahu niat setiap hamba-Nya. Keyakinan terbesar saya ketika kita melakukan niat baik, pasti Allah akan mudahkan. Izin sama Allah itu nomor 1 dan jika semua yang kita lakukan itu karna Allah pasti kekecewaan itu sedikit, bahkan tak ada. Beda dengan yang ngarep sama manusia...
Saat ini fokuslah dan Jangan takut bermimpi.
Jadikanlah apa yang kamu mimpikan adalah sebuah ladang, dimana kamu niatkan sebagai ladang amal.
Jika seseorang meninggal maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak shalih yang mendoakan orang tuanya” (HR. Muslim).
Banyak hal yang harus menjadikan kita terus bermanfaat bagi sesama, karena hidup bukan sekedar untuk berkelana, namun mencari bekal untuk akhir nyata.
-- R.A, NA --

Komentar

  1. masya allah
    sangat termotivasi dan luar biasa

    semoga istiqomah dalam menulis kebaikan😍

    BalasHapus
  2. Smangat kk...
    Semoga Allah mudahkan

    BalasHapus
  3. Kisah yg sangat inspiratif, semoga sukses selalu kk.
    Mudah-mudahan makin banyak yg termotivasi..

    BalasHapus
  4. Teima Kasih telah menyempatkan waktu untuk berkunjung dan membaca.
    Semoga bermanfaat untuk kita semua.

    BalasHapus

Posting Komentar

Selalu berbuat baik dan menebar senyum kebaikan
".. Satu hal bahagia adalah ketika melihat senyum orang lain karena kebaikan yang kita lakukan .."
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?