Menyandingkan “Cuma” dan “Doang” dalam Sebuah Kalimat Adalah Bentuk Pemubaziran Tak Termaafkan
Sejauh mata memandang dan sejauh telinga mendengar, “Cuma” dan “Doang” kerap hadir bersamaan, bersanding tanpa restu kaidah kebahasaan dalam sebuah kalimat. Betapa sering kita mendengar atau bahkan mengeluarkan kalimat seperti ini “Cuma gitu doang mah gampang!”, kita melontarkan kata-kata itu dengan sangat ringan, kayak gak lagi ngelakuin kesalahan apa-apa, ayo ngaku saja!. Saya sadar betul dalam percakapan sehari-hari menyandingkan “Cuma” dan “Doang” nikmatnya kayak gibahin tetangga sebelah, astagfirullah, becanda sayang. Saking nikmatnya menyandingkan “Cuma” dan “Doang” saya berani bilang kalau hampir semua orang Indonesia pernah menyandingkan keduanya baik secara sadar maupun tidak sadar, karena alasan itu tadi, nikmat dan mantap rasanya bilang begini “Cuma kamu doang yang ada di hati aku”, apalagi kalau sedikit dipoles dengan kebohongan, sensasinya beda, adrenalin terpacu kencang. Akan tetapi kenapa ya semua yang mantap-mantap itu yang dilarang? Sudah menjadi tradisi sejak za...