Menjadi Bucin Yang Bermartabat, Emang Bisa?
Mencintai seseorang bukan perkara yang kita putuskan sendiri, ada kekuasaan yang lebih dari sekadar kekuasaan biasa yang menggerakkan hati untuk mencintai. Lantas apakah sesuatu yang tidak kita putuskan sendiri ini adalah kesalahan kita? Tentu saja bukan kan? Itulah mengapa mencintai seseorang tidak akan membuat Malaikat Atid kerepotan mencatat dosa, sebab ini fitrah yang Tuhan sudah gariskan. Akan tetapi, dalam perilaku mencintai ini banyak yang berlebihan, hingga salah arah dan tersesat. Menurut istilah muda mudi saat ini, golongan ini disebut bucin a.k.a budak cinta. Budak cinta ini sekarang sudah sama bahayanya dengan virus, setelah terinfeksi susah setengah mati cari penawarnya. Tapi masalahnya sekarang bagaimana tetap bisa bermartarbat meski terinfeksi virus bucin?
Hal yang sangat sulit dilakukan oleh manusia bumi yang tengah terinfeksi virus bucin yaitu mengendalikan akal agar selaras dengan rasa, hal ini bagi mereka sama sulitnya dengan memecahkan misteri rumus Helmhotz. Ketika bunga-bunga cinta merekah indah, logika seperti telah hilang di dasar laut palung Mariana. Pujangga Arab pernah berkata “Cintamu kepada sesuatu menjadikanmu buta dan tuli”, kalimat yang melampaui kata tepat untuk merepresentasikan para korban virus bucin. Memanglah terlalu mencintai dan kebodohan hampir-hampir menjadi afinitas, susah dipisahkan seperti tahu isi hangat dengan cabai rawit hijau.
Beberapa kawan saya, penyintas penyakit bucin menceritakan betapa penyakit bucinnya sudah sangat parah dan hampir stadium akhir. Salah satu dari mereka mengungkapkan virus bucin telah menggerogoti tubuhnya, kini pikirannya hanya dipenuhi "dia hanya dia di hatiku ohhh". Lebih mengenaskannya lagi, tegasnya bahwa ia tidak tidur tiga hari tiga malam hanya karena memikirkan kelakukan lelaki yang ia cintai yang saat itu tengah bermesra dengan gadis lain, ettdah drama abis, untung kawan saya masih hidup dan sehat wal’afiat. Fakta lainnya, virus bucin juga menjadikan penderitanya membenci makanan, pada beberapa kasus mereka bahkan tidak makan berhari-hari, tidak menutup kemungkinan mereka bisa terkena bulimia, seperti yang pernah dialami oleh Lady Diana karena terlalu memikirkan Pangeran Charles, baru tau kan Lady Diana sebucin itu?, tapi dia bucin jalur halal karena yg dibucinin suami sendiri, bolehlah kita sedikit hiperbola dengan mengatakan inilah yang dinamakan bucin kelas internasional. Bucin sebenarnya virus yang tanpa sadar dapat membunuh korbannya secara perlahan. Kebucinan yang normal tidaklah membahayakan, kebucinan yang abnormal adalah pangkal kemunduran jiwa dan kualitas berpikir. Nah kalau sudah begini bukan bucin bermartabat namanya.
Pada beberapa kasus, si penyintas penyakit bedebah bucin ini sebenarnya sadar bahwa ia tengah dilanda bucin, tetapi inilah tahap puncak destruksi dari virus bucin. Sadar diri dilanda bucin, tapi tetap saja dijalani dengan sepenuh hati, inilah kebodohan yang hakiki. Bila kita mau melihat dari sudut pandang lain, sebenarnya penyintas bucin sudah dianugerahi kekuatan luar biasa daripada orang lain yang tidak terkena bucin? Eh kok bisa gitu? Jelas orang-orang bucin punya semangat dan hati yang lebih kuat daripada yang lain, lah demi objek bucinnya menjelajahi banyak benua seperti Ibnu Batutah saja sanggup dilakukan (hiperbola eeeu). Nah bila semua potensi kekuatan yang ada dalam diri si Bucin digunakan semestinya, ia akan menjadi bucin bermartabat. Berikut lebih detail lagi tentang bagaimana menjadi bucin bermartabat.
- Gunakanlah Kebucinanmu untuk Mengukir Prestasi
Saya teringat dulu saat masih SMA, saat itu frasa pacaran sehat sedang booming-boomingnya. Teman saya kebetulan mengikat status pacaran dengan kakak kelas yang cemerlang dalam akademik. Karena tidak mau menanggung malu dan cemoohan tetangga kelas, jadilah ia memacu diri, bermodal kebucinannya yang punya semangat bar-bar melebihi agen FPI diterapkanlah pacaran sehat itu, walau sebenarnya tidaklah ada yang namanya pacaran sehat, iya kan? Haha. Tidak mau kalah dia mengabdikan diri menjadi bucin garis lurus, mengukir banyak prestasi dimana-mana agar bisa pantas bersanding dengan doinya itu. Inilah kekuatan potensial si bucin yang tidak dimiliki banyak orang. - Gunakanlah Semangat Bucinmu untuk Menjadi Orang yang Bermanfaat
Semua pasti setuju kalau si bucin punya sifat dermawan yang tinggi, iya kan? Tapi sebatas kepada objek bucinnya saja, kepada orang lain? ya belum tentu, cobalah semangat rela berkorbanmu untuk doi itu digunakan juga untuk kemaslahatan orang banyak, gunakan untuk menolong orang yang membutuhkan bantuan. Si Bucin sebenarnya adalah manusia baik hati, cuma bedanya bucin yang bermartabat akan menggunakan energi bucinnya dalam rela berkorban untuk kepentingan yang lebih luas. Ingatlah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang banyak. - Gunakanlah Perilaku “Menyerahkan Diri Kepada Doi” untuk Kepentingan Ukhrawi
Agak provokatif ya? Tapi ini beneran bisa dilakukan. Buat kamu para bucinista yang biasanya selalu siap menyerahkan diri untuk doi, cobalah gunakan perilaku mau menyerahkan diri ini untuk kepentingan ukhrawi, coba gunakan kekuatan menyerahkan diri kepada doi itu untuk Tuhan. Kepada makhluk-Nya saja si bucin bisa, lalu kenapa tidak akan bisa mneyerahkan diri kepada Pencipta Makhluknya?. Berserah diri kepada Tuhan ini akan sangat bisa diterapkan si bucin apabila orang yang dia sukai atau objek bucinnya itu tidak memberikan feedback atas perasaan yang sudah diserahkan, ceilaahh. Hahaha. Jadi begitulah, menjadi bucin juga harus taat agar jadi bucin yang bermartabat.
" Untuk kamu yang sedang dilanda virus bucin, jadilah bucin bermartabat !"
- Imbet -

keren :)
BalasHapusTulisan yg memotivasi, keren banget
BalasHapusGood, bisa memotivasi menjadi buchen bermartabat
BalasHapus๐
BalasHapus๐ ๐
BalasHapuskeren dan bermanfaat๐
BalasHapusKeren banget tulisannya kak
BalasHapusMasya allah
BalasHapusKeren abis ey
Teima Kasih telah menyempatkan waktu untuk berkunjung dan membaca.
BalasHapusSemoga bermanfaat untuk kita semua.