Ceritera Wanita
Apa matamu tahu kerlingnya menguji?
Suaramu, ya, terlalu lembut mengusik telinga para lelaki
Dan aduh, wajahmu, manisan beracun panah syaithan
Yang ku maksud itu diriku.
Seorang wanita.
Tunduk mata
Tunduk
Wajahmu terlalu
Jelas. Terpampang pada beranda-beranda.
Yang ku maksud itu diriku.
Seorang wanita.
Inginmu apa sebenarnya?
Jadi baskara pagi
atau senja jingga
yang sering dielu-elu banyak jiwa?
Kuharap hai putri tiap ayahmu
Kita jadi calak
Pada saban tingkah dan polah
Di tapak hidup
Di hadap Rabb pemberi hirup
Hingga pesona
Jadi saksi nanti
Saat mulut dikunci
Dihisab tuk bisa pulang
Disikat dulu atau langsung melaju
Pesan tuk kita,
Jangan pulang kecuali ke Surga.
Suaramu, ya, terlalu lembut mengusik telinga para lelaki
Dan aduh, wajahmu, manisan beracun panah syaithan
Yang ku maksud itu diriku.
Seorang wanita.
Tunduk mata
Tunduk
Wajahmu terlalu
Jelas. Terpampang pada beranda-beranda.
Yang ku maksud itu diriku.
Seorang wanita.
Inginmu apa sebenarnya?
Jadi baskara pagi
atau senja jingga
yang sering dielu-elu banyak jiwa?
Kuharap hai putri tiap ayahmu
Kita jadi calak
Pada saban tingkah dan polah
Di tapak hidup
Di hadap Rabb pemberi hirup
Hingga pesona
Jadi saksi nanti
Saat mulut dikunci
Dihisab tuk bisa pulang
Disikat dulu atau langsung melaju
Pesan tuk kita,
Jangan pulang kecuali ke Surga.
-- ZZ, I2 --

MasyaAllah 🤗
BalasHapus