SEBERAPA PENTINGKAH BAJU LEBARAN?
Sebentar
lagi lebaran, ramai sekali media memberitakan euforia masyarakat untuk membeli
baju lebaran. Rela desak-desakan tidak peduli pandemi, mungkin mereka golongan
yang akan memprakarsai herd immunity
yang berdampak pada berkurangnya populasi penduduk Ibu Pertiwi. Saya sih berdoa
semoga negara kita baik-baik saja meski masyarakatnya masih banyak yang bebal
dan menganggap bahwa aturan itu dibuat untuk untuk dilanggar. Lalu munculah
tanya dalam amigdagala saya yang paling dalam, seberapa penting baju lebaran
ini sampai sebegitu relanya orang-orang untuk berbondong-bondong beli baju
lebaran bahkan rela mempertaruhkan nyawa (lebayy sih tapi bener loh).
Sebelum
kita masuk ke dalam seberapa penting baju lebaran ini, mari kita tengok sejarah
baju lebaran di Indonesia. Ya tidak salah, memang betul ada sejarahnya, dan
diabadikan dalam buku “Sejarah Nasional Indonesia” karangan Marwati Djoened
Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. Dijelaskan di sana bahwa tradisi membeli
baju lebaran di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1596, wahh sudah lama
sekali ya, lebih lama mana sama proses move
on-mu?. Wkwkwkwk. Tradisi itu bermula dari Banten dan Yogyakarta. Di
Kesultanan Banten pada tahun itu banyak warga berbondong-bondong untuk membeli
baju baru saat lebaran, kalian tau sendirilah, Kesultanan Banten memang sangat
religious. Bagi kaum borjuis yang berduit mereka akan membeli baju di pasar,
sedangkan bagi yang ekonominya lemah lembut, mereka akan menjahit bajunya agar
lebih minimalis dari segi biaya sehingga pada masa itu muncul banyak penjahit
musiman. Di Yogyakarta pada tahun itu juga tidak jauh berbeda, sebelum lebaran
mereka juga membeli baju lebaran. Begitulah sejarah awal mulanya hingga sekarag
“ritual” beli baju lebaran ini masih dilangsungkan.
Baju
lebaran ini menjadi penting karena beragam alasan, mulai dari alasan agamawi
sampai duniawi. Kita bahas alasan agamawi dulu, alasannya tentu saja jelas
karena dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Al Bukhori menyatakan bahwa
saat lebaran Nabi Muhammad menganjurkan untuk memakai pakaian yang terbaik.
Padahal yang terbaik belum tentu baru kan. Akan tetapi alasan ini mampu membuat
keturunan Hawa berkeliling ke sepuluh toko hanya untuk memilah dan memilih baju
yang terbaik menurutnya, padahal nanti ujung-ujungnya akan beli baju di toko
yang pertama, ada yang sama? Whehehehe.
Selanjutnya
kita akan masuk kepada alasan duniawi yang begitu banyak. Saya ingat beberapa
waktu lalu seorang teman pernah bercerita kepada saya bahwa di tempat
tinggalnya satu orang anak bisa membeli 5 potong baju lebaran, itu hanya satu
orang anak saja, lalu bagaimana bila punya 11 orang anak?. Bila tidak dibelikan
anak-anak akan tantrum dan bahkan mogok makan, inilah mungkin yang melatarbelakangi
para orang tua rela berdesak desakan dengan dalih demi membahagiakan anak,
padahal perilaku ini sama saja dengan menumbuhkan sifat hedonisme pada anak.
Baru-baru
ini saya menemukan sebuah konklusi baru kenapa baju lebaran menjadi penting
bagi sebagian orang. Apalagi kalau bukan karena gengsi dan kebutuhan konten
insta story serta story WA. Saya tidak sedang menggenalisir, tetapi hal seperti
ini memang ada dan jumlahnya tidak sedikit. Sedihnya sebagian besar dari mereka
kaum perempuan, jelas memang karena kaum perempuan sangat memperhatikan
penampilannya, berbeda dengan lelaki yang terkesan bodoh amat. Dihari lebaran
nanti bersiap-siaplah, akan ada insta story dan story WA yang titik titiknya
seperti daftar isi dan menampilkan beragam pose menggoda dengan baju baru
bermerk. Sekali lagi saya tegaskan, tidak semua orang seperti ini, hanya
segelintir saja. Dengan adanya spesies orang-orang yang seperti ini.
Saat
semakin dewasa saya pribadi merasa bahwa baju baru saat lebaran tidak lagi
menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak. Berbeda saat kecil dulu, menggunakan
baju baru saat lebaran adalah kebutuhan primer yang harus segera dipenuhi,
kalau tidak aksi pamer kepada teman dan keluarga tidak akan berjalan lancar.
Baju
baru saat lebaran tidak serta merta dapat melegitimasi bahwa jiwa seperti
terlahir kembali. Esensi hari raya Idul Fitri tidak terletak pada bajunya, tapi
terletak pada kembalinya manusia pada keadaan suci.

Suka banget sama tulisan ini 🤩
BalasHapus