Sebuah Seni Untuk Bersikap Tau Diri
Tau diri itu ada seninya. Bila tau diri tidak dilakukan dengan seni yang tepat, bersiaplah untuk diinvasi oleh perasaan rendah diri. Tau diri dan rendah diri, keduanya merupakan dikotomi yang kadang-kadang sering ingin “kawin lari” lalu menghasilkan anak-anak yang bernama “minder” dan “depresi”. Kalau jiwa kita sudah digerilya oleh minder dan depresi, bagaimana kita akan menikmati mie sedap Siwon kuah Korea dengan potongan cabai rawit hijau saat hujan?, tolong jangan ngiler, hahaha.
Lalu tau diri itu apa?, tau diri dalam KBBI berarti mengenal keadaan dirinya. Tulisan sebenarnya “tahu diri”, sengaja saya tulis “tau” agar lebih easy peasy untuk dibaca dan tidak akan terbayang lezatnya tahu goreng hangat dicocol saus sambal saat membaca ini, wkwkwk. Hal yang ingin saya tegaskan juga, dalam tulisan ini saya tidak akan membahas jenis tau diri untuk mengenal Tuhan atau orang yang melakukan retret untuk lebih mengenal dirinya dalam rangka mencapai pengenalan lebih mendalam dengan Tuhan, itu bahasan yang menuju ranah Tauhid, dalam tulisan ini saya tidak akan membahas itu karena saya “tau diri” saya masih fakir ilmu. Tau diri yang akan saya bahas adalah tau diri yang berkenaan dengan perasaan (saya yakin reader “Bucin Bermartabat” pasti paham yang saya maksud), wkwkwkw land.
Ada sebuah paradigma sosial hasil dari sebuah konstruksi sosial yang dibangun cukup lama, mungkin. Paradigma itu adalah wanita pintar hanya cocok dengan lelaki pintar (translate: dalam hal akademik). Pada kenyataannya, menurut pengamatan saya wanita lebih banyak yang meraih prestasi daripada laki-laki, maaf saat menulis ini saya memposisikan diri sebagai feminis yang mencoba untuk humanis pada laki-laki, haha. Hal tadi berdampak pada beberapa laki-laki menjadi “tau diri” dan tidak berani meminang wanita yang pintar nan cantik dan berprestasi. Sudah bagus tau diri, tapi tau dirinya tidak dengan seni, jadinya hanya berdiam diri. Wanita inginnya diperjuangkan, cobalah para lelaki belajar dari Tsun Zu, ahli strategi militer China yang mampu menaklukkan musuh dengan seni berperangnya. Lelaki perlu menjadi ahli tau diri dengan seni, tidak hanya tau bela diri saja. Bila sudah tau diri seperti itu, lakukanlah kiat-kiat yang membuat tau diri itu menjadi pecut untuk berkembang, belajar lebih baik lagi dan bisa bersanding dengannya, jangan malah karena tau diri jadi rendah diri lalu minder atau bahkan depresi, ingatlah semua manusia sama di hadapan Tuhan.
“Saya tau diri kok, saya tidak secantik dia, tidak seglowing dia, tidak sepintar dia, ilmu agama saya juga masih kurang, jelaslah dia tidak memilih saya”. Dalam pergaulan saya bersama banyak wanita (jelas karena saya wanita jadi saya bergaul dengan banyak wanita, ehehe) kalimat tadi sering saya dengar. Banyak wanita tau diri lalu sedih karena si dia tidak memilihnya karena menurutnya beberapa alasan tadilah penyebabnya. Tau diri seperti itu ada baiknya, mungkin dengan begitu merelakannya jadi lebih mudah sebab tepuk tangan tidak bisa dilakukan dengan satu tangan bukan? Tapi tau diri yang seperti itu kadang menjebak kita ke dalam kubangan minder yang menjijikkan. Tidak dapat saya pungkiri saya pernah mengalaminya, tidak sekali tapi beberapa kali, saya melihat diri saya begitu buruk, tidak memiliki kelebihan apa pun, tidak pantas bagi siapa pun, tidak cantik, dan tidak glowing kalau saja self healing saya tidak baik, kemungkinan besar saya berakhir di meja psikiater yang angker, hahahaha, jangan tanya kenapa saya begitu, kalimat pertama paragraf keempat ini menjelaskan alasannya, wkwkw. Lalu perasaan tau diri itu saya olah lagi dengan banyak merenung, melakukan dialog batin. Semua manusia terlahir dengan kompetensinya masing-masing, hanya perlu mengolahnya saja, tidak perlu rendah diri, tau diri tadi jadikan introspeksi diri, terus maju, eksplorasi diri dan terus berkembang. Hingga sampailah saya pada satu titik perenungan tentang tau diri tadi pada pemikiran seperti ini “Bila saya menganggap diri saya rendah, berarti saya tidak menghargai proses penciptaan Tuhan terhadap saya yang sudah dilakukan dengan sangat luar biasa”, lalu saya bangkit, tau diri saya jalani dengan seni, sekarang saya merasa lebih bahagia menjalani hari-hari.
Lalu tau diri itu apa?, tau diri dalam KBBI berarti mengenal keadaan dirinya. Tulisan sebenarnya “tahu diri”, sengaja saya tulis “tau” agar lebih easy peasy untuk dibaca dan tidak akan terbayang lezatnya tahu goreng hangat dicocol saus sambal saat membaca ini, wkwkwk. Hal yang ingin saya tegaskan juga, dalam tulisan ini saya tidak akan membahas jenis tau diri untuk mengenal Tuhan atau orang yang melakukan retret untuk lebih mengenal dirinya dalam rangka mencapai pengenalan lebih mendalam dengan Tuhan, itu bahasan yang menuju ranah Tauhid, dalam tulisan ini saya tidak akan membahas itu karena saya “tau diri” saya masih fakir ilmu. Tau diri yang akan saya bahas adalah tau diri yang berkenaan dengan perasaan (saya yakin reader “Bucin Bermartabat” pasti paham yang saya maksud), wkwkwkw land.
Ada sebuah paradigma sosial hasil dari sebuah konstruksi sosial yang dibangun cukup lama, mungkin. Paradigma itu adalah wanita pintar hanya cocok dengan lelaki pintar (translate: dalam hal akademik). Pada kenyataannya, menurut pengamatan saya wanita lebih banyak yang meraih prestasi daripada laki-laki, maaf saat menulis ini saya memposisikan diri sebagai feminis yang mencoba untuk humanis pada laki-laki, haha. Hal tadi berdampak pada beberapa laki-laki menjadi “tau diri” dan tidak berani meminang wanita yang pintar nan cantik dan berprestasi. Sudah bagus tau diri, tapi tau dirinya tidak dengan seni, jadinya hanya berdiam diri. Wanita inginnya diperjuangkan, cobalah para lelaki belajar dari Tsun Zu, ahli strategi militer China yang mampu menaklukkan musuh dengan seni berperangnya. Lelaki perlu menjadi ahli tau diri dengan seni, tidak hanya tau bela diri saja. Bila sudah tau diri seperti itu, lakukanlah kiat-kiat yang membuat tau diri itu menjadi pecut untuk berkembang, belajar lebih baik lagi dan bisa bersanding dengannya, jangan malah karena tau diri jadi rendah diri lalu minder atau bahkan depresi, ingatlah semua manusia sama di hadapan Tuhan.
“Saya tau diri kok, saya tidak secantik dia, tidak seglowing dia, tidak sepintar dia, ilmu agama saya juga masih kurang, jelaslah dia tidak memilih saya”. Dalam pergaulan saya bersama banyak wanita (jelas karena saya wanita jadi saya bergaul dengan banyak wanita, ehehe) kalimat tadi sering saya dengar. Banyak wanita tau diri lalu sedih karena si dia tidak memilihnya karena menurutnya beberapa alasan tadilah penyebabnya. Tau diri seperti itu ada baiknya, mungkin dengan begitu merelakannya jadi lebih mudah sebab tepuk tangan tidak bisa dilakukan dengan satu tangan bukan? Tapi tau diri yang seperti itu kadang menjebak kita ke dalam kubangan minder yang menjijikkan. Tidak dapat saya pungkiri saya pernah mengalaminya, tidak sekali tapi beberapa kali, saya melihat diri saya begitu buruk, tidak memiliki kelebihan apa pun, tidak pantas bagi siapa pun, tidak cantik, dan tidak glowing kalau saja self healing saya tidak baik, kemungkinan besar saya berakhir di meja psikiater yang angker, hahahaha, jangan tanya kenapa saya begitu, kalimat pertama paragraf keempat ini menjelaskan alasannya, wkwkw. Lalu perasaan tau diri itu saya olah lagi dengan banyak merenung, melakukan dialog batin. Semua manusia terlahir dengan kompetensinya masing-masing, hanya perlu mengolahnya saja, tidak perlu rendah diri, tau diri tadi jadikan introspeksi diri, terus maju, eksplorasi diri dan terus berkembang. Hingga sampailah saya pada satu titik perenungan tentang tau diri tadi pada pemikiran seperti ini “Bila saya menganggap diri saya rendah, berarti saya tidak menghargai proses penciptaan Tuhan terhadap saya yang sudah dilakukan dengan sangat luar biasa”, lalu saya bangkit, tau diri saya jalani dengan seni, sekarang saya merasa lebih bahagia menjalani hari-hari.
-- Imbet, I2--

Terimakasih blog kebaikan
BalasHapusTerimakasih telah membuat saya menjadi tau diri:)
BalasHapusTulisan ini menyambung artikel semalam yg saya baca mengenai ciwi-ciwi dengan pass the brush challenge😂
Good menginspirasi
BalasHapusLalu, apakah seni tau diri ini masih harus dijunjung setinggi tiang bendera di tengah lapangan SD manakala si dia telah bersanding dengan si dia di pelaminan?
BalasHapusJika memang si dia sudah bersanding dengan orang lain, maka mengikhlaskan adalah pengganti yg tepat utk seni tau diri.
HapusJangan lupa bersedekah.
BalasHapus