Tradisi Maleman : Spirit Lailatul Qadar Di Bulan Ramadhan Khas Masyarakat Lombok

Bulan suci Ramadhan merupakan kesempatan bagi setiap hamba Allah untuk lebih meningkatkan ketakwaan, dikarenakan bulan ini memilki beberapa keutamaan. Salah satu keutamaan bulan Ramadhan yaitu bulan diturunkannya Al- Qur’an. Allah SWT berfirman yang artinya: “Sesungguhnnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar” (QS. Al-Qadar: 1). Kemuliaan bulan Ramadhan lainnya yaitu dengan hadirnya malam penuh kemuliaan dan keberkahan disalah satu malam pada malam-malam terakhir dan ganjil di bulan Ramadhan yaitu malam Lailatul Qadar (Malam Kemuliaan), malam yang lebih baik dari Seribu Bulan. Pada malam inilah yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan adalah saat diturunkannya Al-Qur’anul Karim. Allah Swt berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr:1-3).

Dalam menyambut malam Lailatul Qadar di Indonesia masing-masing daerah memiliki tradisi untuk menghidupkan malam seribu bulan ini, terutama wilayah Lombok. Masyarakat Lombok dalam menyambut malam Lailatul Qadar memiliki sebuah tradisi yang turun temurun tetap dilaksanakan, yaitu Tradisi Maleman. Ritual ini dilaksanakan pada malam ganjil, karena disalah satu malam ganjil itu diyakini tempat diturunkannya Lailatul Qadar seperti malam ke- 21, 23, 25 sampai 29. Tradisi Maleman ini ditandai dengan menyalakan lampu atau Dile/Dilah Jojor atau Sande Maleman seusai berbuka puasa. (*setiap daerah di Lombok punya sebutan yang berbeda untuk lampu ini).

Dalam bahasa Sasak, Dile/Dilah atau Sande berarti lampu atau penerangan dan Jojor berarti obor kecil. Dile jojor atau lampu sejenis obor kecil terbuat dari kapas, buah jamplung atau buah jarak, dan lidi yang terbuat dari bambu. Cara membuatnya, buah jarak digoreng menggunakan wajan tanah liat sampai gosong kemudian ditumbuk bersama kapas hingga halus dan terlihat keluar minyak. Setelah itu, kapas dan buah jarak yang telah ditumbuk dililit pada lidi persis membentuk satai pusut. Dile jojor selanjutnya dinyalakan seusai berbuka puasa dan dipasang di tembok rumah, di pintu gerbang, dan jalanan menuju rumah. Sambil menancapkan Dile jojor, masyarakat Sasak biasanya membacakan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan berdoa semoga bisa bertemu dengan malam Lailatul Qadar.

Tradisi Maleman dilaksanakan secara sistematis dan terkoordinir, dimana acara pertamanya adalah pemukulan beduk, menyalakan Dile Jojor di setiap rumah, roah maleman, dan meramaikan masjid hingga shalat subuh. Dengan demikian, usai menyalakan Dile Jojor di setiap rumah maka warga mulai mempersiapkan hidangan yang akan dibawa ke masjid untuk pelaksanaan Roah Maleman. Roah Maleman dilaksanakan usai shalat tarawih, warga berbondong-bondong membawa hidangan yang disajikan dengan dulang atau nare, hidangan inilah yang nantinya akan disantap setelah melaksanakan dzikir dan do’a bersama. Tujuan dilaksanakannya Roah Maleman adalah untuk memberikan pemahaman agama kepada masyarakat, mempererat tali silaturahmi, dan melakukan permohonan kepada Allah supaya segenap keluarga diberikan keselamatan. Setelah Roah Maleman usai, maka pemuka agama setempat menghimbau kepada warganya untuk melakukan i’tikaf di masjid. Orang-orang yang beri’tikaf di masjid biasanya melakukan dzikir dan memperbanyak membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an dan melaksanakan sahur bareng. Tujuannya untuk memperbanyak ibadah malam, sebab siapa tahu pada malam itu Lailatul Qadar diturunkan oleh Allah SWT..

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Tradisi Maleman merupakan tradisi adat masyarakat Lombok yang dilaksanakan untuk menyambut malam Lailatul Qadar dan diyakini dapat meningkatkan spirit ibadah diakhir-akhir bulan Ramadhan sehingga masyarakat menjadi insan robbani yang bertaqwa.

-- biachan, imbet --

Komentar