Kehidupan Setelah Sarjana Itu Memusingkan
Disclaimer: Sahabat Kebaikan, tulisan ini tidaklah bernas dan mungkin tidak penting 😖, tulisan ini hanya sekadar curhatan dari seseorang yang baru saja menanggalkan predikat mahasiswanya. Bagi yang berkenan membaca, terima kasih 😊
Saya belum wisuda, tapi gelar sarjana sudah menempel pada nama saya. Rasanya tidak menyenangkan. Memperoleh gelar sarjana berarti harus sudah bisa berdikari dengan bekal ilmu yang dimiliki. Ya persislah dengan apa yang saya impikan bersama kawan-kawan saya semasa kuliah. Impian tergila saya dan kawan-kawan adalah menjadi wanita kaya raya dengan penghasilan ratusan juta rupiah per bulan, selain itu kami juga bermimpi untuk menikah dengan lelaki tampan, mapan, dan beriman, bisa dibilang kriteria minimalnya adalah seorang CEO Unicron, hahaha. Akan tetapi, kehidupan setelah lulus kuliah tidaklah seindah ending drama A Love So Beautiful atau Naughty Kiss.
Saat kuliah dulu, hal yang selalu saya dan teman-teman pusingkan adalah tugas kuliah dan menu makan apa yang akan kita makan dengan keadaan uang yang pas-pasan atau minuman apa yang akan kita minum, apakah Thai Tea Nyot-Nyot atau Capcin Goceng. Tugas kuliah juga sebenarnya gak berat-berat amat, kalaupun ada yang berat bisa diselesaikan bersama-sama. Tantangan paling ekstrem saat kuliah tentu saja skripsi, tapi itu tidaklah seberapa dibanding dengan kerasnya kehidupan setelah lulus kuliah.
Sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya saya mulai rasakan di kehidupan setelah lulus kuliah. Di samping beban jomlo dan kisah cinta mengenaskan yang saya alami, beban lainnya sangatlah berat. Teman-teman seperjuangan yang dulu selalu menemani sejak kicau burung saat fajar hingga kukuk burung hantu saat petang, kini satu per satu sudah sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Bisik-bisik julid perlahan mulai terdengar, sebenarnya tidak benar-benar terdengar, yang saya dengar adalah prasangka yang sekarang sudah mulai terdengar seperti bisikan, lambat laun mungkin akan jadi teriakan, lalu bisa jadi, menjadi kenyataan, tapi semoga tidak, nau’uzubillah. Mulai riuh terdengar bisikan prasangka “Sudah S1 kok belum kerja”, “Sudah S1 kok masih uring-uringan”, “Kok masih minta uang sama orang tua”, dan lain-lain yang bikin mau bilang “Arrrrgghhhh”.
Stabilitas mental mulai terganggu. Angan-angan yang dicita-citakan mulai terlihat sebatas pendar abu-abu yang tak jelas warnanya. Banyak sekali sebenarnya pilihan setelah lulus kuliah yang bisa dilakoni, beriwirausaha salah satunya, tapi kendala modal sudah say hello! dari radius jutaan kilometer, bahkan sebelum layar keinginan menjadi pengusaha terkembang. Satu-satunya profesi paling aman yang bisa dijalani setelah menjadi Sarjana Pendidikan adalah menjadi guru honorer, penghasilan mungkin sedikit, tapi tidaklah mengapa asal Ibu senang, tetangga pun tenang. Akan tetapi masalahnya menjadi guru honorer di sebuah sekolah tidaklah semudah membulatkan upil. Kekuatan pertama dan utama yang harus dimiliki agar diterima menjadi guru honorer di sebuah sekolah adalah orang dalam, yaiyalah emang apalagi, skill? Ah itu bisa dikompromikan, orang dalam aja dulu. Dan lagi-lagi tidak semua orang punya orang dalam bukan? Yang punya orang dalam pun mungkin akan tidak nyaman bekerja dengan bantuan orang dalam, Who Knows. Dulu saya bercita-cita untuk lanjut S2 setelah S1, tapi gimana ya, banyak sekali ternyata hal yang perlu dipertimbangkan, mulai dari masalah biaya dan faktor X,Y,Z lainnya.
Pertanyaan seperti tujuan hidup, dan apa yang akan dilakukan selanjutnya terasa sangat sulit untuk dijawab, saya juga masih menerawang, agaknya sekarang saya adalah penyintas Quarter Life Crisis. Kehidupan setelah lulus kuliah memang memusingkan, lalu apa yang harus dilakukan? entahlah saya juga tidak tahu. Sebenarnya di sini saya hanya ingin curhat tentang apa yang saat ini saya rasakan. Saya yakin, saya tidak sendiri, ada jutaan orang baru lulus kuliah juga mugkin merasakan hal yang sama. Intinya tetap semangat!, ini adalah jalan yang harus dilalui. Akan ada hari di mana kita menjadi seperti apa yang kita impikan, pun bila tidak, akan ada hari di mana kita lebih bahagia dari hari ini, itu pasti.

Komentar
Posting Komentar
Selalu berbuat baik dan menebar senyum kebaikan
".. Satu hal bahagia adalah ketika melihat senyum orang lain karena kebaikan yang kita lakukan .."
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?