Love is About Giving
“ Akibat dari eksistensi manusia ada dua: dicintai atau dibenci ”
Pernah naksir seseorang? Tapi gak di-notice balik? Chill… jangan sampai hal itu membuatmu merasa dunia kejam kepadamu. Pernah naksir teman dekat tapi cuma dianggap teman? Sans, itu lebih baik daripada dengan sengaja menghancurkan persahabatan kalian.
Cinta adalah topik sederhana, tapi pembahasannya tak kan selesai sekalipun berganti senja. Lama!
Setiap orang punya perjalanan cinta mereka masing-masing. Variatif. Tapi kali ini, mari kita membahas tentang perjalanan cinta yang paling sering dirasakan oleh kaum muda mudi, tapi damage-nya luar biasa, alias paling nyesek!
Cinta bertepuk sebelah tangan. Mau kasusnya kalian gak di-notice, mau kasusnya cuma dianggap temen, cuma adek-kakakan, terserah. Yang penting bertepuk sebelah tangan.
Saat kalian suka sama seseorang tapi si doi nggak suka balik, nyesek pastilah. Banyak yang bakal bilang, apasih yang kurang dari aku?! Yah, cuma bisa mandang dari jauh. Besok-besok kalau nggak nemuin yang tulus kayak aku, nyesel deh! Atau bakal putar lagu-lagu galau yang sangat mewakili perasaan, seperti “oh mengapa, tak bisa dirimu, yang mencintaiku….”. Hm! Stop it. Mari kita melihat cinta bertepuk sebelah tangan ini dari sisi lain. Serius!
Sadar nggak sih? Saat kita menyukai seseorang, sebenarnya kita punya pilihan. Kita bisa memilih untuk “hanya” menyukai orang tersebut, tidak lebih! Kita juga bisa memilih untuk hanya menyukai, tanpa pernah berharap agar perasaan kita dibalas (alias di-notice). Tapi pernah nggak sih, kita memilih pilihan itu?
Yang perlu kita sadari, sejatinya mencintai adalah memberi. Dan dari kecil, kita sudah dididik bahwa memberi harus ikhlas, tanpa pamrih, tanpa pernah meminta balasan. Pokoknya tulus. Begitupun dengan cinta. Kita hanya perlu memberikan rasa suka dan memberikan do’a-do’a terbaik untuknya. Jangan mengharapkan balasan. Kita harus ikhlas.
“ Kamu mencintainya dengan sungguh tanpa pernah berharap memilikinya utuh ”
Tapi kemudian, kita teringat sesuatu. Kata orang, hakikat memberi adalah menerima. Logikanya, ketika kita memberi cinta, maka kita akan menerima cinta juga bukan?
Sayang sekali, bukan seperi itu cara kerja semesta. Benar jika ketika kita memberi cinta, kita juga akan menerima. Namun bukan menerima hal yang sama, tapi menerima bahwa kita sudah lebih dewasa. Tidak memaksakan kehendak lagi. Tidak keras kepala lagi. Dan paham pada siapa harusnya kita menaruh harap.
“ Bukankah kita bahagia jika manusia yang kita cintai bahagia? Pada akhirnya, kebahagiaan sejati adalah ketika kita memberi, bukan menerima ”
Jadi, ikhlaskan saja perasaan itu dan stop galau-galau! Oke!

Terimakasih mimin 😁
BalasHapus