Makanan dan Harapan

Dear Sahabat kebaikan, maafkan ya kali ini sedang dirundung pikir yang buntu. Namun, meski begitu berbagi adalah hal yang hal yang tak boleh dilewatkan bukan? Meski hanya sekerat roti seperti milik Abdurrahman bin Abu Bakar atau segelas air yang diterima seorang anak kecil yang dahaga. Mungkin juga secuil harapan untuk bisa menjadi baik bersama.

Kenapa judul tulisan ini makanan dan harapan? Apa hubungannya? Simak yuk, semoga ada ibrahnya..

Seorang ibu yang baru beberapa waktu melahirkan anaknya, seorang bayi laki-laki. Saban detik ia menjaganya, mengasuh lagi mengasihi sepenuh jiwa dan raga. Suatu hari sang Ibu meninggalkan sang bayi yang tertidur untuk melakukan sebuah keperluan. Anak laki-laki itu menjerit, menangis sebab tak mendapati ibunya tatkala terbangun. Ketika itu tetangga mereka mendengar suara tangis lalu ia bergegas mendatangi. Ia memberikan ASInya bagi si bayi. Setelahnya ia kembali ke rumah lagi sembari memastikan ibu dari bayi itu kembali.

Keperluan si ibu telah terselesaikan. Ia bergegas menuju rumahnya, takut si buah hati terjaga. Sesaat setelah memasuki rumah dan menatap wajah anaknya, beliau bisa mendapati sesuatu yang berbeda. Maka dengan tergesa ia bertanya pada tetangganya.

"Oh, itu tadi dia menangis, lalu saya berikan ASI hingga ia tenang", jawab si tetangga.

Sahabat sudah tahu cerita ini kan? Anggap saja kalian belum tahu ya :D

Ya ya, kembali ke cerita!

Sebagaimana tadi terburu-buru menuju tetangga, maka untuk kembali ke rumahnya si ibu memakai kecepatan cahaya. Bayi mungil itu dibalik tubuhnya, dikeluarkan semua isi perutnya. ASI yang diberikan tetangga tadi seketika tumpah ruah tak bersisa. Nah, isi kepala rasional kita akan berteriak, "Ih kok tega sekali, kan kasihan anaknya".

Untuk menjawab kecamuk di otak kecil kita, dengarkan alasan ibu tersebut melakukannya.

"Aku tidak tahu, apakah ada makanan syubhat yang pernah dimakan tetanggaku yang mengalir dalam ASInya", tuturnya.
"Aku hanya ingin memastikan, apa yang masuk dalam tubuh anakku adalah sesuatu yang halal lagi baik", pungkasnya.

Seperti itu penjagaan seorang ibu terhadap makanan anaknya. Seterjaga itu ia berhati-hati dan waspada. Mungkin masa kini orang akan memilih membiarkan anaknya diperlakukan demikian oleh tetangganya. Mungkin juga masih ada yang melakukan penjagaan yang sama.

Makanan dan harapan. Apa yang dimasukkan ke mulut akan melebur dengan darah. Mengalir sepanjang pembuluh, menjadi kekuatan bagi pemilik tubuh. Baik yang dimasukkan maka baik pula yang menjadi nutrisi. Kebalikannya jika yang dikonsumsi kurang baik, maka berdampak pula pada output kepribadian, tak terkecuali kesehatan.

Ibu yang saya ceritakan adalah ibunda dari seorang yang hafal Al-Quran diusia masih dini, seorang ulama yang ketika membaca buku, tangannya menutup satu halaman karena takut hafal terburu-buru sebab segalanya terekam begitu jelasnya. Iya, beliau, bayi laki-laki itu adalah Imam Asy-Syafi'i.

Makanan dan harapan. Apa yang ditelan akan menjadi hasil dihari kemudian. Penjagaan ibunya menjadikan Imam Syafi'i menjadi cemerlang pikirnya, tuturnya, amalnya. Berbuah ranum hingga tiba menjadi hikmah bagi kita yang hidup setelahnya.

Jaga makanan ya, semoga dengan usaha ini kita terjaga. Menjadikan gerak kita lebih mudah memulai kebaikan hingga diakhirnya. Meringankan beban tubuh atas beban-beban lain yang harus dipertanggungjawabkannnya. Sebab meski kita bukan ulama, kita juga adalah hamba-Nya yang terus diminta berbenah. Lebih baik, lebih baik, makin baik, hingga saat tiba waktu berhenti, stasiun kita adalah Surga.

-- ZZ, ZH --

Komentar