Mengikhlaskan
Malam ini udara dingin menyeruak dari bilik jendela kamar. Menciptakan rasa membeku di sekujur tubuh, aku yang baru saja hendak lelap tertidur tak kunjung tidur disebabkan suhu udara yang tak kuasa aku tahan. Akhirnya aku memilih kembali mengerjakan skripsi membaca kembali beberapa hasil wawancara lalu menganalisis dan menarik kesimpulan.
Jam sudah menunjukkan pukul 01.48. Aku yang biasanya sudah tertidur lelap akhir-akhir tidurku tak lagi nyenyak. Banyak hal berenang di kepalaku, mulai dari perasaan yang terus saja terasa menyesakkan. Aku sedang belajar mengikhlaskan seseorang untuk kebaikan dirinya dan diriku juga. Aku berharap kami bisa berdamai dan menjadi kawan baik seperti dulu kala pertama kali kami bertemu. Alangkah damainya. Tanpa ada campur perasaan yang menyesakkan dan saling menyakiti satu sama lain.
Lebih baik kamu fokus jalani hidupmu sekarang, jangan terlalu sering berinteraksi denganku. Itu hanya akan menyakitimu
, katanya via chat WA.
Baiklah. Jika itu demi kebaikan kita, aku akan berusaha. Tapi aku mohon kita tetap jadi kawan baik
, balasku saat itu juga.
Tahukah kawan, belajar mengikhlaskan itu tak semudah diucapkan. Ada unblock dan unsent berkali-kali. Ada campur tangan perasaan yang masih hinggap dan memberontak karena dulu pernah tak dihargai dan tak ada titik temu. Jadi, belajar ikhlas adalah tentang menerima segala keputusan dengan lapang dada dan mencoba menatap diri kita sendiri. Menyayangi diri sendiri dan menyayangi dia juga tapi dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.
Tahukah kawan, dari proses mengikhlaskan dia aku belajar. Tuhan masih sayang sama aku, aku seperti diajak berpikir apa yang terjadi jika aku masih bersamanya. Apakah aku masih ambisius dengan mimpi-mimpiku atau malah dengan mengejar perasaan yang tak kunjung berbalas? Dan aku menemukan jawaban di balik semua itu. Ada hikmah yang ingin Tuhan tunjukkan.
Kawan. Jika kelak kamu patah hati karena seseorang. Relakan dan ikhlaskanlah. Sebab jika kamu memaksakan sesuatu yang memang dia pun tak ingin. Hanya akan berakhir dengan datangnya luka yang terus bertubi-tubi menghujam perasaanmu. Tentang kenyataan bahwa dia tak sama lagi seperti yang kamu kenal dulu. Tentang kenyataan bahwa dia memang tidak ditakdirkan untukmu. Ikhlaskanlah. Relakanlah.
Sahabat kebaikan, kamu berharga kawan. Mari susun kembali mimpi-mimpi yang mungkin belum sempat digapai karena dulu pusat semestamu tersedot habis hanya untuk memikirkan dia. Bangun kembali harap dan cita yang pernah digoreskan dan dido'akan. Semogakan dalam do'a selekas ibadahmu citamu kan dibantu tangan Tuhan yang Maha Penolong.
Selama proses merelakan dan mengikhlaskan. Berkaryalah di tengah patah hati mu. Itu sungguh lebih bernilai dan bermanfaat. Kelak jika waktunya tiba. Tuhan pasti kan kirimkan yang terbaik untuk menemani hidupmu dan menerimamu dengan tulus.

Komentar
Posting Komentar
Selalu berbuat baik dan menebar senyum kebaikan
".. Satu hal bahagia adalah ketika melihat senyum orang lain karena kebaikan yang kita lakukan .."
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?