Menular
Kebaikan itu menular, menularkan hal yang sama
Jangan takut untuk berbuat baik kepada orang lain
Jangan takut untuk menolong orang lain
Tidak ada akan kerugian untuk orang berbuat baik
Yang ada hanyalah, akan mendapatkan berlipat ganda
Diseberang sana, terdapat pesan singkat yang sungguh mengoyak batin. Sahabat yang jarang kutanyakan bagaimana kabarnya, benar bahwa jarak memisahkan kami. 4 tahun yang lalu aku memilih untuk kuliah dan ia memilih untuk bekerja. Kami saling menghormati keputusan masing-masing. Kesibukannya bekerja dan aku yang belum menyelesaikan kuliahku membuat kami renggang. Mungkin karena tak lagi bersama seperti masa SMA, yang bisa bercerita mengalir tanpa harus disuruh, makan ayam geprek bude kantin sambil pojokan dan sulit untuk menggerakan kaki jika sudah berkumpul. Topik pun biasanya hanya sekedar menanyakan kabar terasa singkat untuk cepat mengakhiri, tapi kali ini percakapan itu lebih panjang.
Snap yang kubuat membuat sahabatku itu berkomentar
“ Wah alhamdullilah kamu jadi balik ke kota ini lagi ?”, tanyanya.
“ Iya begitulah, aku harus bekerja disana, toh orang tuaku membutuhkan aku”, sahutku lagi.
“Kamu masih kerja?”, tambahku.
“Iya masih, bagaimana keadaanmu disana?”
“ Alhamdullilah baik, kamu bagaimana?”
“ Alhamdullilah baik juga”
Memang berat untuk kembali bercerita tentang beban yang ada di pundak kepada orang lain yang telah lama tidak berjumpa, tapi semakin lama terus chatingan ia menuliskan satu kata yang membuatku terkejut.
“Aku lebaran sama adekku aja”
“ Kemana ibu ?”, tanyaku.
***
Aku mengetahui sahabatku yang satu ini hanya tinggal dengan seorang ibu karena ayahnya telah lama meninggalkan ia, ibu dan adeknya, ayahnya memilih kebahagian bersama orang lain. Ketika dulu masa SMA menghabiskan waktu bermain bersama, aku juga tidak pernah melihat ibunya. Memang di kota sebelumnya waktu kerja seperti dewa, 24 jam kota itu tetap hidup, kendaraan umum pun silih berganti, dikota itu aku belajar tentang sudut pandang bahwa ‘uang adalah segalanya’. Jika sudah memasuki usia kerja, maka bukan hal yang tabu untuk lansung bekerja bahkan politik didalamnya pun aku mengerti dari orang dalam dan segala halnya.
“Ibu juga seperti ayah, ia meninggalkan kami, kami takut untuk menganggu kebahagiannya, jadi aku tinggal di rumah yang dulu bersama adik”. Air mata ini menetes, hay sahabat, dulu kita selalu bercerita panjang lebar, bahkan hari ini aku baru mengetahui tentangmu. Seberapa banyak lagi beban yang kau sembunyikan dariku?
***
Begitulah sekilas tentang percakapanku dengan sahabatku dulu, kadang benar bahwa jarak tidak pernah salah, dengan jarak kita akan belajar untuk lebih memahami satu sama lain. Sahabat kebaikan dengan datangnya covid, sudahkah silaturahmi virtual kita mendekatkan yang jauh?
Hati memang mudah tersentuh, kadang tanpa harus mendengarkan lansung hanya menonton kita bisa mengeluarkan air mata, hanya membaca text kita bisa tersulut emosi. Ya begitulah hati mudah untuk berubah, Sejam yang lalu dia masih terlihat baik-baik saja, tapi setelahnya ia juga bisa berubah menjadi terpuruk, wajar bukankah kita diberikan rasa yang berbeda-beda, bahagia, sedih, kecewa dan lainnya. Menular! Sebuah kata yang singkat tapi sarat akan makna. Saat hati kita terus menginginkan kebaikan tanpa kita sadar ia terus jatuh dalam jurang kebaikan tersebut. Tapi hati-hati kadang hawa nafsu juga juga dapat memboikot hati kita menjadi candu terhadap hal yang tabu lalu menjatuhkan kita kejurang yang lebih dalam sehingga sulit untuk menemukan kebaikan.
Hay hati sudah sehitam apa? Jangan lupa bersyukur atas yang kau terima hari ini. Jangan lupa untuk mendekatkan hati kita untuk mendekati kebaikan. Jangan sampai ia tertular lalu menjelma semakin menjadi-jadi dengan keburukan. Hay sahabat di ujung sana, terimakasih telah menulariku semangat untuk kembali merefleksi diri sendiri untuk lebih bersyukur.

Komentar
Posting Komentar
Selalu berbuat baik dan menebar senyum kebaikan
".. Satu hal bahagia adalah ketika melihat senyum orang lain karena kebaikan yang kita lakukan .."
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?