Thank you, I am Still Learning

“Ombak di lautan saja, bisa memecahkan batu di pinggir pantai, lalu kenapa hatimu begitu keras?”
 ***
 Ia datang tanpa permisi, lalu mencoba membuka kerasnya hati 
Katanya ingin menetap, namun aku kehilangan akal sehat 
Baru tersadar apa yang terjadi, ternyata aku yang terlalu berharap 
Kepada dia yang bukan Sang Ilahi
 Lalu inikah disebut dengan kehilangan? 
Benar, ia pergi tapi meninggalkan ingatan 
Lalu apakah harus terus menanggisi ?

 *** 
    Pertanyaan yang sering menghantui di benakku, mencintai atau dicintai ? Tentu semua orang memiliki jawaban yang beragam. Tapi selalu pilihan berat tersebut, menjadikan kita serakah untuk memiliki keduanya. Setiap yang datang kita menyambutnya dengan antusias, sampai lupa untuk menyiapkan hati untuk melepaskan kembali. Melihat perjuangan cinta seorang Bj. Habibie dan Almarhumah istrinya, membuat pembenaran bahwa rasa kehilangan itu sakit. Menanggis tersedu-sedan, lalu duduk di pojokan dengan lagu-lagu yang menyayat hati. Rasanya tidak cukup sehari untuk membahas perasaan ini, namun ketika ditanyakan sulit untuk diungkapkan. Tidak semua harus diceritakan, sampai terucaplah kata “aku tidak apa-apa”.

 *** 
    Pembelajaran yang diberikan oleh Tuhan kadang tidak bisa lansung kita terjemahkan mengandung pesan apa didalamnya. Tidak ada yang menginginkan perpisahan, tidak ada juga yang ingin hatinya dipatahkan. Proses kembali untuk baik juga tidak semudah seperti mengadahkan tangan. Semua orang butuh waktu, ada yang berbulan-bulan, ada juga yang bertahun-tahun tapi ada juga yang hanya menghitung jam. Alasannya pun bermacam-macam, ada yang kehilangan sosok keluarga, sahabat, orang tercinta, atau terlalu berekspetasi terlalu tinggi sehingga jatuh dengan harapannya sendiri. Kegagalan yang terus menghampiri, musibah yang tidak terbendung lagi. Inilah proses kehidupan. Kadang bisa tertawa terbahak-bahak sampai lupa ada beban, ada juga sesi dimana terpuruk lalu tak ingin untuk bangkit. “ Duh saya baru saja kehilangan, eh masalah hidup gue banget berat bro”. Yups, semua orang punya bebannya sendiri, oleh karena itu ia jugalah yang menentukan apakah beban tersebut berakhir dengan cerita indah atau sebaliknya. Kadang kita suka menuntut orang lain untuk memahami apa yang kita rasakan, sensitif terhadap nasehat, lalu menyalahkan orang lain terhadap keadaan kita. Pernah mengalami hal tersebut ? Jika pernah maka tinggalkanlah. Semua energi positif tersebut tertutupi dengan rasa dendam, benci lalu mengegoroti tubuh kita. Bukankah sesak terus mengutuk keadaan. Kenapa tidak menyalakan cahaya walaupun hanya sekedar lilin. Berdamailah dengan diri sendiri. 

*** 
    Fase sendiri apakah membuat happy ? pastinya pertama-tama akan merasa kesepian lalu kesepian itu semakin menjadi-jadi, saat kita mengenang masa yang lalu. Tidak bersama namun terhanyut dalam penjara kenangan, tidak berkomunikasi namun mencari tahu. Kita memiliki karakter masing-masing, ada yang setelah kehilangan cepat membuka hati ke yang lain, ada yang merasa tersakiti lalu sulit untuk memaafkan. Sumpah serapah menjadi bukti bisu bahwa saat ini sedang membenci. Ada juga yang memaafkan lalu menyalahi diri sendiri. Bagaimana yang benar ?. Menurut mimin saat move on hanya bertujuan untuk melupakan yang telah hadir dalam hidup kita maka akan lambat untuk melupakan. Bagaimana melupakan bisa secepat kilat? kita masih waras punya akal sehat, tidak lupa ingatan atau bagaimana bisa lansung pura-pura lupa. Tidak mungkin bukan membenturkan kepala didinding lalu mengakhiri hidup. Syalalala tidak semudah itu Roma^^

 *** 
    Move on terbaik ketika kehilangan adalah bersandar ke Tuhan. Bukan bermaksud mengurui hanya ingin berbagi, jika terdapat maka ambillah, jika tidak lepaskanlah. Percuma meminta kondisi untuk kembali semula, karena akan sulit untuk terjadi. Percuma juga untuk membenci karena akan menambah beban hati. Ada rumus bukan matematika, tapi rumus kehidupan, apa yang kita tanam, maka itu yang kita tuai. Bisa jadi kehilangan menjadi pelajaran bahwa Tuhan cemburu kita berpaling darinya, lebih berharap centang biru dua lalu jingkrak tak karuan, jika hilang kabar tidak makan dan proses melankolis lainnya. Bukankah Tuhan yang mebolak balikan hati? Maka kembalilah kepadaNya, bersabarlah dan berdamai dengan diri sendiri. Kau tidak sendirian, ada Tuhan yang ketika kamu mendekat dengan berjalan, ia berlari mendekatimu. Jadi jangan lagi move on hanya sekedar ingin melupakan. Orang yang meninggalkan kita mengajarkan kita banyak hal dan membuat menjadi pribadi yang lebih tangguh. Lalu membuka mata hati siapa yang seharusnya kita cintai sebelum kita mencintai makhluk. Sudah kita semua adalah pendosa, maka mendekatlah ke Tuhan walaupun merangkak. Kedua, bersamai dengan orang baik dari segala sisi. Kamu tidak hanya membutuhkan orang mendengarkanmu, tapi kamu membutuhkan orang-orang baik untuk membersamai kamu. Sulit memang untuk mengubur apa yang pernah terjadi, dengan orang-orang baik tersebut kamu akan belajar untuk termotivasi. Ketiga, ayo jangan berdiam diri. Kamu akan semakin larut akan kehilangan. Membukalah diri dengan orang baru, pengalaman baru, membuka peluang baru dan hal yang baru. Jangan menjadi panaroid dengan memukul rata semua keadaan, lalu memvonis yang umum menjadi kesalahan. Jika kamu kehilangan orang yang kamu cintai lalu ia adalah laki-laki, seringkali kita berkata “Iya, semua laki-laki kan berengsek” atau saat posisi laki-laki “ Iya, kan semua perempuan bikin ribet, jadi tambah hidup susah”. Bukankah ibu dan ayahmu orang yang kamu puja, maka jadikan iya contoh bahwa tidak baik menstandarisasi sebuah perbuatan dengan subjek. Terakhir, berkaryalah, kamu bisa menulis sebagai trauma healing, membuka bisnis untuk menyibukan diri dan kegiataan lainnyya. 

***
    Belajar memahami memang sulit, saya juga masih belajar menangkap pesan cinta yang dikirimkan Tuhan. Jadi jangan lelah untuk muhasabah diri. Bisa jadi yang kita sukai, Tuhan tidak sukai. Benar, bahwa kehilangan bisa datang kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja. Tapi jangan pernah kehilangan diri sendiri. Aku menulis kebaikan bukan berarti aku sudah ahli didalamnya, meski aku sedang berusaha untuk menyelaminya. 
***
 Thank you, I am Still Learning. 
 Terima kasih kepada yang sudah datang dan pergi, karena kalian selalu membawa satu pesan untuk terus belajar. 
Jika berkenan, maafkan diri ini yang berlumur dosa. 
    
Semoga sahabat kebaikan tidak terus merasa kehilangan, bukankah ada blog kebaikan yang menjadi teman untuk berbagi dan menginspirasi? Jadilah bagian dari kami dengan tulisanmu.
-- RY, I2 --

Komentar

  1. Belajar mencintai berarti kita juga harus siap untuk belajar mengikhlaskan

    BalasHapus
  2. Duh wafer deh baca ini 🤗. Terimakasih blog kebaikan

    BalasHapus
  3. Kata demi katanya mantap 🖒

    BalasHapus
  4. Wah, tulisannya sangat menginspirasi, ditunggu tulisan lainnya kak 👍

    BalasHapus

Posting Komentar

Selalu berbuat baik dan menebar senyum kebaikan
".. Satu hal bahagia adalah ketika melihat senyum orang lain karena kebaikan yang kita lakukan .."
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?