Berhentilah Mendiskreditkan Warna Oranye Karena Hak Asasi Adalah Milik Segala Warna
Beberapa kalangan kerap kali mendiskreditkan warna oranye, terutama oleh kaum hawa, tak terkecuali saya, sekali lagi tak terkecuali saya, tapi itu dulu sekarang tidak lagi. Warnanya yang mencolok membuat warna oranye dipandang sebelah mata, banyak yang memberikan predikat norak nomor wahid pada warna oranye. Bahkan sebuah penelitian mengatakan 33% wanita membenci warna oranye. Apa salah warna oranye hingga ia begitu dibenci?, jika penampakannya yang terlalu mencolok membuatnya dihakimi dan dibenci kenapa hal ini tak terjadi pada warna mencolok yang lain?. Produsen produk fashion juga seolah mendiskreditkan warna oranye, terbukti jarang sekali produsen fashion yang meluncurkan warna oranye dalam seri produk fashion yang mereka produksi, mungkin karena alasan prinsipiel tidak akan ada konsumen yang akan membeli item fashion berwarna oranye, padahal pangsa pasar item fashion warna oranye adalah pangsa pasar yang terbilang cukup seksi.
Saat SD dulu saya ikut kasidahan di sekolah saya. Sialnya saat pentas di panggung tujuhbelasan ternyata warna kostum tim kasidah kami berwarna oranye, sudah warnanya oranye diwariskan dari generasi ke generasi lagi, diperkirakan kami adalah generasi ke-4 pemakai kostum oranye itu. Ditambah lagi warna oranyenya bukan sembarang oranye. Warna oranye tim kasidah kami adalah warna oranye tergonjreng dan ternorak di kelasnya. Tak ayal ini membuat warna kostum kami jadi bahan candaan tim kasidah lawan atau penonton bahkan para Ibu kami sendiri karena warna oranyenya menyilaukan hingga kilaunya menembus Orion Nebula, sungguh saya tak membubuhi ramuan hiperbola dalam pernyataan saya. Sebenarnya kami pun malu mengenakan kostum kasidah tersebut, di saat sekolah lain menggunakan kebaya kelap kelip dengan manik-manik yang terlihat megah dan mewah di atas panggung, kami hanya mampu berpasrah dengan baju oranye gonjreng warisan kakak kelas.
Kembali lagi saya pada alasan ini lagi dan ini lagi, alasan maut penulis yang sering berkelit seperti saya, yaitu walaupun warna oranye kerap dibenci tapi penggemar warna oranye masih lumayan banyak bertebaran di muka bumi. Salah satu penggemar warna oranye adalah teman saya sendiri, sebut saja namanya Bintang. Bintang kawan saya sangat terobsesi pada warna oranye, dia bahkan sudah memberi ultimatum kepada kekasihnya untuk dibuatkan rumah berwarna oranye di masa depan. Saya sebagai orang yang mendiskreditkan warna oranye saat itu pernah sampai tidak habis pikir dengan Bintang kawan saya, dia menggunakan kerudung oranye cerah berbahan satin ke sebuah pesta pernikahan temannya, padahal teman-temannya yang lain menggunakan warna-warna pastel yang lembut. Sungguh sebuah keberanian yang tidak akan mampu saya lakukan.
Permasalahan mendiskreditkan warna oranye ini bahkan sampai membuat salah seorang dari temannya teman saya, ketika ditanya warna favoritnya dia menjawab “Warna kesukaan saya adalah warna yang tidak banyak disukai orang” dia tak langsung menjawab oranye. Alasannya mungkin karena memang menyukai warna oranye itu tidak lazim dan terlihat tidak keren di mata orang lain.
Perlahan saya mulai mencoba jatuh hati pada warna oranye, lalu menatapnya lamat-lamat, lama kelamaan saya sedikit bisa memposisikan warna oranye sebagai warna yang juga berhak dikatakan indah. Sekarang saya sudah melihat warna oranye ini dengan kedua belah mata saya, tak lagi dengan sebelah mata. Pemikiran primitif dan konservatif saya tentang warna oranye yang norak sudah mulai terkikis, hal ini tak terlepas dari faktor empiris, sosiologis, dan geografis. Dulu saya pikniknya kurang jauh hingga belum sempat melihat betapa elegannya warna oranye pada gedung-gedung perkantoran, warung makan artis, bank, dan bahkan warna oranye menjadi ciri khas sebuah produk terkenal yang mahal nan mewah yang mampu membuat dompet bergidik pilu.
Belakangan saya belajar ternyata ada ilmu yang namanya psikologi warna, lebih khusus lagi ada psikologi warna pada branding. Meskipun psikologi warna pada branding masih pro dan kontra, tetapi banyak perusahaan yang masih mempertimbangkan psikologi warna dalam menjual produknya. Saya termasuk orang yang pro terhadap psikologi warna, saya setuju warna mampu mempengaruhi emosi dan sikap manusia. Menurut penjelasan yang saya dapatkan di Tech in Asia ID, ketika seseorang melihat warna, mata akan melakukan reaksi dengan hipotalamus yang selanjutnya akan mengirimkan sinyal ke kelenjar pituitari pada sistem endokrin untuk diteruskan ke sistem tiroid, kelenjar tiroid inilah yang akan menghasilkan berbagai hormon yang dapat mempengaruhi suasana hati dan emosi manusia. Warna oranye dipercaya dapat memberikan efek menyenangkan, impulsif, dan kompetitif. Warna oranye adalah warna cerah yang selalu berhasil menarik perhatian. Memanglah yang cerah-cerah selalu berhasil menarik perhatian, kadang sampai membuat hati berdesir, kheemm. Warna oranye juga memberikan kesan yang kuat, hangat, dan bersemangat. Tiap-tiap warna juga memberikan kesan psikologis berbeda kepada manusia, jadi berhentilah membenci warna oranye, walau cerah dan gonjreng warna oranye juga memiliki peran yang sama dengan warna-warna lain.
Bila ada hukum yang mengatur hak asasi warna, warna oranye akan menjadi warna dengan jumlah delik aduan terbanyak. Menggunakan warna oranye dengan bijak dan tidak berlebihan akan mengurangi jumlah perundungan yang diberikan terhadap warna oranye, konsep inilah yang tidak diimplementasikan dalam baju kasidah saya dulu, warna oranye yang digunakan dalam baju kasidah saya jumlahnya over dosis sehingga jadi bahan bercandaan. Penyuka warna oranye juga tak layak ditertawakan hanya karena memiliki warna kesukaan yang jarang diminati orang lain. Mari melihat warna oranye sebagai warna yang memiliki kedudukan sama dengan warna-warna lain karena hak asasi adalah milik segala warna.

Wah baru tau min. Terimakasih infonya
BalasHapusSemoga tidak ada lagi org yang mendiskreditkan warna oranye lagi yaa min
BalasHapus