Hei Kaum yang Berpacaran !, Tahu Enggak Asal Usul Pacaran?
Saya ingin memulai tulisan ini dengan ungkapan “Pada zaman dahulu kala”, tetapi nanti jatuhnya garing dan membosankan karena bawaannya seperti kakek dan Nenek yang akan mendongengkan cucu-cucunya. Walaupun saya gadis yang sudah memiliki banyak koleksi cucu, saya tidak mau merasa tua karena kenyataannya saya memang masih muda, masih single alias tidak berpacaran, dan sedikit cantik.
Walaupun saya tidak berpacaran dan sering kalang kabut karena ditikam kesepian, saya mencari tahu tentang budaya pacaran, alasannya karena saya seorang phylomath, sebuah klaim yang agak mengada-ngada tetapi semoga menjadi doa dan pada akhirnya menjadi kenyataan. Sahabat kebaikan, tolong beri amin paling serius.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, izinkan saya mengisahkan tentang sejarah pacaran. Seperti biasa, mukadimah sebuah sejarah biasanya diawali dengan perkenalan. Perkenalan di sini akan saya mulai dengan menjelaskan definisi pacaran. Secara harfiah “pacaran” berasal dari kata “pacar” yang artinya teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta: kasih; kekasih. Kalau definisi ini saya rasa semua ummat manusia yang tinggal di Indonesia sudah tahu ya, bahkan bocil ingusan pun tahu. Akan tetapi ada yang menarik, di dalam KBBI, “Pacar” juga memiliki arti daun inai, itu loh daun pacar atau dalam bahasa sasak namanya daun pancar. Nah dari definisi daun inailah sejarah pacaran bermula.
Bagaimana itu bermula?
Dulu sekali, saat negara api belum menyerang, di masyarakat Melayu bila ada dua orang muda dan mudi yang memiliki ketertarikan satu sama lain mereka akan dipakaikan pacar atau inai di tangannya sebagai penanda bahwa mereka ada hubungan. Jadi hubungan mereka terlihat melalui pacar atau inai itu karena dulu tidak ada media sosial tempat mereka menulis nama pasangan dengan tanda gembok dan love, alhasil begitulah cara yang dilakukan, agar salah satu di antara mereka tidak diembat orang lain.
Saat pemuda Melayu menyukai seorang gadis, sang pemuda akan mengirimkan sinyal ketertarikan kepada sang gadis dengan cara melantunkan pantun di halaman rumah sang Gadis pujaan hatinya, pantunnya ya standar pantun Melayu pada zamannyalah, saya rasa tidak mungkin pantunnya begini “Ikan hiu melayang-layang, I Love You Sayang”.
Nah Sahabat kebaikan, jika sang gadis membalas pantun pemuda tersebut, artinya sang gadis juga tertarik dengan sang pemuda untuk meneruskan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Uhh uwunya gak nahannnn. Lalu setelah sinyal sang pemuda berbalas, maka orang tua mereka akan memberikan pacar atau inai di tangan keduanya, sebagai penanda bahwa mereka resmi berpacaran, nah “pacaran” itu diambil dari kata “pacar” atai inai yang digunakan untuk menandai keseriusan mereka.
Yang lebih uwunya lagi, pacar yang menempel pada tangan itu biasanya akan hilang dalam waktu tiga bulan, dalam waktu tiga bulan tersebut sang pemuda mempersiapkan dirinya untuk menjadi suami dan imam bagi sang gadis, dengan cara belajar ilmu pernikahan, pencari pekerjaan, mempersiapkan tempat tinggal dan segala keperluan pasca pernikahan. Romantis sekali ya. Hal ini berarti bahwa dalam waktu tiga bulan tersebut sang gadis tidak boleh menerima pinangan lelaki lain. Jadi sang lelaki bisa mempersiapkan diri tanpa takut tikungan tajam di ujung jalan.
Begitulah asal usul pacaran, walaupun implementasi pacaran saat ini dengan zaman dahulu sangat berbeda, tetapi orang masih konsisten menggunakan kata pacaran sampai detik ini saat tulisan ini dimuat di bianglalakebaikan.com pun orang masih menggunakan kata pacaran.
Kalau menurut saya sih pacaran zaman Melayu dulu itu mirip-mirip sama ta’arufan zaman sekarang sih, bedanya nggak kirim CV dan gak Chat-chattan, uwu.

Komentar
Posting Komentar
Selalu berbuat baik dan menebar senyum kebaikan
".. Satu hal bahagia adalah ketika melihat senyum orang lain karena kebaikan yang kita lakukan .."
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?