Jangan Iri Dengan yang Hanya Terlihat

Sahabat kebaikan sudah lama mimin tidak menyapa. Apa kabar?, semoga dalam keadaan baik yah..

Iri menjadi salah satu sifat yang lumrah dimiliki oleh diri sendiri dan orang lain. Eits tapi jangan salah loh iri ini kemudian diwujudkan dalam berbagai tindakan. Ada sesi dimana iri ini akan berdampak untuk menyalahkan diri sendiri. Lah, ituloh istilah yang sekarang lagi hits insecure. Banyak banget yang sudah foto dengan toga mereka, pegang bunga, selempang dan segala perlengkapan atribut wisuda LDR. Tapi ada juga yang masih stagnan untuk memikirkan skripsi akan dibawa kemana. Lalu berucap aku, kapan yah begitu. Sebenarnya jawabannya sederhana ayo dikerjakan, jangan dipikirin. Cuma nih ternyata berdampak banget menjadi tekanan psikologis apalagi kalo dibumbui dengan pernyataan netizen 'kapan wisuda' atau emak yang udah lantang menyuarakan kegelisahan hati noh si onoh tetangga sebelah udah wisuda, kamu kapan?. Kasus paling membuat baper sejagat raya nih yaitu ta'aruf yang dialami sebagian artis. Serba serbinya nih ada kasus juga mantan yang tetap menghadiri pernikahan. Beuh itu kebanyakan captionnya tertulis Aduh pasangan uwuwuwu, semoga aku bisa seperti itu atau kasih yang begini satu ada? yang paling ngegas nih yang bilang kan dia cantik, si cowok juga ganteng wajar aja sih. Lalu udah punya kerjaan. Lah aku yang masih ongkir shopee aja masih mikir dan skincare dihematin jauh banget.

Sahabat kebaikan pernah iri yang berujung untuk menyalahkan diri sendiri? mimin juga pernah. Hati-hati loh iri juga bisa menjadi penyakit hati. Fase dimana terus bilang ini kayakna aku deh yang salah, kurang beruntung dan lainnya. Fase menyalahkan diri ini paling bahaya membuat kita gak mampu menatap dunia yang jauh lebih luas bersembunyi dbalik kata aku mah apa atuh hanya remahan reginang *jangannyanyiyah

Iri juga bisa berdampak jadi benih-benih dendam. Wah ini nih yang gawat. Misalnya karena suatu kejadian kita iri sama orang lain seperti bisnisnya. Kita mulai kepo bukan untuk mendukung, tapi untuk menjatuhkan. Disinilah hati kita sudah berpenyakit. Lihat orang susah eh kita malah bahagia. Ada yang pernah ngalamin?

Iri juga gak selalu berdampak buruk yah sahabat, ada juga iri yang bisa berdampak kebaikan. Lagi-lagi ini diperlukan kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. Kamu juga harus open minded untuk melihat lebih banyak perspektif. Misal nih iri sama orang yang pernah kamu cinta. Tapi ternyata gak berjodoh atau kamu menjaga perasaan tersebut biar gak dosa. Lihat dengan pasangannya hati menjadi meronta-ronta pengen nikah *eh. Tapi sebagian orang bisa loh dari iri ini kemudian berubah menjadi keinginan untuk memperbaiki diri, semakin dekat dengan Tuhan dan gak terlalu berharap sama manusia.

Sebenarnya baik dan buruk sikap iri ini tergantung dari sudut pandang yang digunakan. Nah kali ini mimin mau sharing konsep mantra-mantra kehidupan, *mbah dukun numpang lewat, yaitu Hanya Terlihat. Mimin sering berbicara terhadap diri mimin, ini hanya terlihat. Coba deh jawab jujur, sahabat kebaikan kalo makan mie sama makanan di restoran mewah yang di share yang mana? Kebanyakan pasti akan milih makan mewah. Kedua nih kebanyakan sesi bahagia atau sedih yang dishare? Pasti juga kebanyakan kita milih sesi bahagia untuk menutupi kesedihan kita. Paling mutlak nih pasti akan lebih nyaman saat pasang foto yang bagus daripada wajah yang gak bisa dikondisikan lagi, ileran dimana-mana, biar gak lelah banget buat filternya wkwkw. Jadi kita hanya melihat yang terlihat, banyak yang gak bisa kita lihat yang gak diungkapkan. Misal dia bangkrut berapa, masalah keluarga, masalah diri sendiri, dan masalah kehidupan lainnya, yang kemudian kalo dishare malah akan nambah toxic untuk orang lain. Rasa dukanya diterima, sakitnya gak diceritain, dan sejejeran pedihnya kehidupan.

Mantra selanjutnya nih sahabat kebaikan, bersikaplah bodo amat. Media sosial sering jadi ajang untuk beriri hati. Maka kamu harus bersikap masa bodoh. Lah kok gitu? Gak semua harus disikapin dengan membawa unsur perasaan kedalamnya. Apalagi kaum hawa nih, kadang kita harus berpikir realistis menggunakan logika. Ada kasus nih setelah lihat medsos orang lain eh jadi malah iri yang tak kunjung menepi. Gak semua bisa kita kontrol, tapi hidup kita, kita sendiri yang bisa menentukannya, pilihannya hanya dua mau bahagia atau sedih. Toh bahagia gak ditentukan dari komentar netizen, banyak like dimedsos dan hura hara permedsosan. Buat standrisasi atas kemampuan diri kita sendiri, bukan orang lain.

Mantra terakhir nih, Tuhan selalu membersamaimu. Sejauh apapun kita melangkah, sekeras apapun hati kita. Lagi, lagi ini semua bisa diubah oleh Tuhan. Jadi kalo fenomena iri tersebut menghampiri, coba berbicara dengan Tuhan, meminta kepada-Nya. Bisa jadi kita tidak bahagia bukan kuang kaya, tapi kurang takwa. Ingat kita pada posisi makhluk yang kita iriin juga makhluk kan? Minta aja sama Tuhan. Pernah nih kejadian, mimin iri banget sama kakak tingkat yang pintar pake banget. Juara OSN deh, pada posisi tersebut mimin iri pengen kayak dia. Tapi mimin hanya berusaha sekuat tenaga mimin tanpa sadar melupakan unsur kuasa Tuhan. Padahal saat banyak orang iri terhadap sesuatu, sebenarnya itu sedang nunjukin kuasa Tuhan. Kepintaran, popularitas dan sederet lainnya gak bakal didapatkan kalo gak dipermudah oleh Tuhan. Jangan lupa untuk bersyukur yah, hari ini kita terus diberi kesempatan untuk bernafas. Mari bergegas menentukan pilihan bahagia atau pura-pura bahagia?

Kita tidak pernah tahu kualitas kehidupan orang lain. Bisa jadi yang mewah dan kaya raya, tidurnya tidak nyenyak, merangkak penuh beban. Ada yang hanya juru parkir tapi lebih banyak bersyukur. Berhentilah untuk dikendalikan oleh dunia, alih-alih membuat dunia terpesona, memoles sana sini, tanpa sadar kita hanya pura-pura bahagia. Kitalah yang menentukan cerita dalam kehidupan kita, maka semoga kita berusaha untuk menjadi bahagia sesungguhnya. Hiduplah agar kita tidak menjadi beban orang lain, jangan penuh drama dan sebagainya. Jangan menyakiti diri sendiri dan iri untuk mengejar definisi duniawi. Toh hidup itu simpel hanya dinilai dari kualitas kita, bermanfaat atau tidak. Sibuk saja menaikan kualitas diri bukan bersilat lidah dengan sebuah pernyataan iri.

Wah udah di ujung tulisan nih, mimin gak sedang mengurui hanya sedang mengungkapkan perasaan yang tersembunyi, hanya ingin berbagi. Sebagai tulisan merefleksikan diri. Semoga sahabat kebaikan berkenan

Hiduplah berarti karena mati akan pasti, jangan iri dan bergantung dengan orang lain, karena bayanganmu sendiri saja dapat meniggalkanmu saat kegelapan
- SNA -
-- SNA --

Komentar