Pendidikan Inklusif, Sudahkah Benar-Benar Terimplementasikan dengan Baik?
Sahabat kebaikan pernah dengar mengenai pendidikan inklusif kah? Akhir-akhir ini topik pendidikan inklusif naik daun melihat gerakan advokasi dan perjuangan para pegiat dan pejuang isu-isu pendidikan bagi kaum marjinal booming ke permukaan. Sebenarnya pendidikan inklusif bukan isu yang baru. Tema tersebut sudah ada jauh di tahun 1990 an dan di Indonesia implementasinya khususnya di Lombok Tengah baru tahun 2012 implementasinya mulai digaungkan oleh pemerintah daerah. Beberapa sekolah dasar terpilih untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif.
Mari kita tilik kembali apa sih pendidikan inklusif itu? Pendidikan Inklusif menurut Valle & Conner (dalam Marylin & William, 2015: 33) mengemukakan bahwa konsep praktik pendidikan inklusif menunjukkan bahwa setiap siswa penyandang disabilitas memiliki lebih banyak kemiripan dibandingkan perbedaannya dan bahwa seluruh siswa harus disambut ramah oleh anggota komunitas belajar mereka. Jadi intinya, pendidikan Inklusif adalah sistem layanan pendidikan dimana semua siswa mendapatkan hak pendidikannya tanpa membedakan latar belakang siswa. Tentu hal ini menuntut guru maupun pihak sekolah untuk lebih meningkatkan kompetensi dan kapasitasnya.
Namun bagaimanakah kondisi riil di lapangan?. Berdasarkan hasil pengamatan penulis sendiri, kondisi di lapangan masih jauh dari teori yang digaungkan. Sarana dan prasarana pendukung masih belum sepenuhnya aksesibel bagi siswa penyandang disabilitas. Diskriminasi verbal dan non verbal masih rentan dan sering terjadi, kita bisa melihatnya berseliweran di media massa terutama berita terkait diskriminasi terhadap siswa difabel di sekolah. Di sisi lain, guru juga belum sepenuhnya memahami cara menangani anak difabel mengingat background pendidikan yang diajarkan selama kuliah hanya terkait materi untuk siswa reguler. Pengajaran terhadap difabel hanya mereka dapatkan secara teori tidak dengan praktik. Sehingga ketika terjun jadi guru lalu di sekolah tersebut terdapat siswa ABK. Guru masih perlu penyesuaian mulai dari identifikasi awal siswa ABK hingga penyesuaian penilaian pembelajaran yang cocok bagi siswa ABK yang bersangkutan.
Jadi sahabat kebaikan, menjadi stakeholder di dunia pendidikan inklusif memerlukan lebih ekstra usaha keras dan kesabaran dibandingkan mengajar di kelas reguler. Implementasi pendidikan inklusif memerlukan kerjasama banyak pihak diluar sekolah agar implementasinya berjalan dengan baik.

Komentar
Posting Komentar
Selalu berbuat baik dan menebar senyum kebaikan
".. Satu hal bahagia adalah ketika melihat senyum orang lain karena kebaikan yang kita lakukan .."
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?