Kata Mereka Aku (Gagal)
Tidak lulus tepat waktu artinya kurang pintar
Belum menikah namun berumur artinya kurang menawan
Miskin artinya tidak ada kesempatan dan penuh kemustahilan
Tidak rupawan artinya akan banyak hujatan
Belum kerja artinya tidak memiliki kepandaian atau orang dalam
Kata (mereka) aku gagal, tidak punya harapan, sebelum berjuang
Hai sahabat kebaikan, sudah lama tidak menyapa. Apakabar? Lelah dengan hari ini? Sudah sampai mana berjuang? Sudah penuhkah dengan beban? Semoga kamu tetap kuat menjalankan dunia yang selalu penuh dengan teka teki dalam perjalanannya. Kali ini aku ingin bercerita tapi tidak seperti orang kebanyakan, aku akan bercerita tentang kegagalan. Yups, banyak orang yang kemudian depresi setelah mengalami penolakan dan berujung pada kematian. Tidak jarang juga mereka hilang harapan karena dibunuh oleh perkataan dari kita sesama manusia bumi yang menyakitkan, seperti dihantam bahwa kita tidak layak untuk memperjuangkan hal yang kita harapkan.
Cerita pertamaku dari ujung timur, panasnya lapangan apel menjadi saksi bisu sebuah kegagalan murid yang duduk di kelas SMA untuk menjadi MC yang baik. Spontan tidak ada yang salah, namun ditengah perjalanannya, MC tersebut mengeluarkan logat bahasa daerah yang terdengar aneh. Satu lapangan pun tertawa hahaha, hanya satu orang yang diam membisu ya itu temanku sambil menahan malu. Tahukah kamu, dari kejadian tersebut berapa candaan yang menyakitkan, lalu memparodikan secara berulang, sampai pada saat temanku tidak ingin lagi menjadi MC, ia tak berani untuk bersuara lagi ditengah keramaian karena takut akan dihakimi oleh audiens. Sederhana bukan?. Kadang sebuah penolakan, ejekan, makian menjadi hantu yang menakutkan dan kadang juga kita tidak bisa mengambil hikmah didalamnya. Sini cerita tentang sebuah kegagalan. Seringkali merasa bahka kita manusia gagal yang paling sial, padahal orang lain sedang iri-irian dengan proses kehidupan kita dan ada juga yang ingin menjatuhkan.
Eleh, Sudah Miskin Aja, Jangan Penuh Harapan
Huh rasanya kesel mendengar ocehan tesebut, tapi ini bukan drama tapi realita yang dialami oleh banyak orang. Miskin menjadi bukti bahwa "kita gagal". Lalu kaya menjadi bukti bahwa mereka sukses. Miskin menjadi bahan yang bisa diperolok-olokan. Mau makan susah, beli ini itu harus mikir berkali-kali. Kalo lihat si onoh yang hidupnya mulus, tiap hari ganti merk hp, makan mewah, kekayaannya tuh kayak ngalir 7 keturunan. Memang rumput tetangga lebih enak dipandang bukan?. Katanya miskin itu nasib, seperti kamu kurang beruntung, lalu peluang terulangnya pun besar, jika terlahir miskin, ada kemungkinan akan menjadi miskin kembali dikehidupan selanjutnya. Miskin ini juga menjalar banget ke yang lainnya gagal cantik karena kurang perawatan, kalau kata anak kekinian, kurang skincare, gagal pintar karena gak mengenyam penddikan tinggi seperti yang diidamkan dan kegagalan lainnya.
Tidak Lulus Tepat Waktu, Kepalamu Bebal?
Ada yang menangis tersedu-sedu saat terus ditanyakan "kamu kapan sih lulus?". Untuk kita yang mengenyam pendidikan tinggi dan sudah menginjak semester akhir, rasanya pertanyaan ini harus dihapuskan dari peradaban. Bukan main tekanan pertanyaan ini, bisa memuat mood hancur seketka. Banyak banget yang menggangap bahwa dengan tidak lulus tepat waktu artinya orang tersebut kurang pintar, lebih-lebih beban untuk kampus. Beban untuk keluarga, cia-cita membahagiakan keluarga eh malah kok menambah luka.
Masih Aja Penganguran, Mau Jadi Beban Keluarga?
Makan lalu sambilan nonton televisi ditambahl rebahan main hp pula.. Beuh makyus banget nih rasanya, dulu sebelum umur bertambah dewasa ini adalah kenyamanan yang sederhana. Namun beriiringnya waktu, kenyamanan ini sedikit mengikis dengan pertanyaan "besok makan apa yah". Emak, bapak sudah berumur, tapi diri ini masih aja mengulurkan tangan seolah-olah anak kecil dari puluhan tahun yang lalu . Apa rasanya? Seperti benalu yang menyerongoti inangnya. Rasanya gagal menjadi anak berbakti walaupun bapak dan emak bilang "nak, asalkan engkau bahagia, kami tidak apa-apa". Ditambah tetangga depan rumah sudah punya pekerjaan, mapan pula. Lalu menanyakan kepada diri sendiri, kapan bilang "emak, bapak, kalian harus bahagia". Rasanya tidak sedang berperang dengan musuh, tapi berperang dengan tekanan batin. Saat sudah dewasa hanya melihat dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Putus cinta? Kurang Menawan Mah Elu
Kegagalan cinta menjadi yang paling banyak disoroti, dari kasus perselingkuhan, gagal nikah, gagal jadian, ditinggal pas lagi sayang—sayangnya dan semua retorika yang terjadi. Semua orang punya hati, dan kasus percintaan ini berkaitan banget sama hati. Ada yang pacaran 7 tahun harus kandas, ada yang dari proses ta’aruf lalu ghosting eh malah udah sebar undangan, ada yang sama-sama berjuang tapi malah ditinggalkan demi yang lebih cantik. Sering banget jatuhnya akan menyalahkan diri, kurang cantik, mapan dan sebagainya.
Belum Mencapai Mimpi? Kurang Orang Dalam Euyyy
Banyak baget yang sedih dan patah bukan karena percintaan tapi karena impian. Yups, semua orang punya harapan, ada nih yang sekedar harapan menjadi PNS dan itu adalah harapan kedua orang tuanya. Ada yang dari SMA selalu bermimpi mengenakan almamter kampus impian. Sudah berjuang mati-matian eh malah gagal. Malah rasanya yang tidak berjuang kok malah duluan?.
Hay sahabat kebaikan, menurut kamu dari semua itu, apakah kamu adalah manusia gagal?. Kita dilahirkan dengan sebuah proses yang telah Tuhan gariskan. Dalam proses tersebut, seringkali kita menemui segala macam hambatan, kerikil atau kegagalan yang membuat kita terhenti di tengah jalan. Ada yang akhirnya merasa lelah dengan semua proses tersebut, namun banyak juga yang memilih untuk terus berjuang, bangkit lagi, gagal lagi, lalu bangkit lagi hingga ia benar-benar menemukan kondisi yang ia harapkan.
Memang, proses kehidupan tak selalu mulus seperti yang kita inginkan. Tetapi, tidak menutup kemungkinan, dalam proses tersebut, banyak sekali pembelajaran yang bisa kita dapatkan, yang tak hanya berakhir dengan kesedihan atau kemurungan. Dan disaat proses pembelajaran itulah, kita menjadi lebih tau apa yang harus kita lakukan. Tidak lagi meratapi, tapi justru kembali melakukan sesuatu, meski harus memulai lagi dari awal. Di saat inilah, kita menjadi semakin yakin untuk kembali berikhtiar, memulai dengan niat dan doa, lalu siap dengan langkah-langkah baru.
Hmmm, bersyukur ketika akhirnya kita terbentur dalam beberapa proses yang menjadikan kita kembali berkaca pada setiap kejadian yang menimpa. Karena dari situlah, kita berusaha kembali menyeimbangkan keterbatasan kita, kita bisa berbuat lebih baik lagi dari sebelumnya. Dan jikalau kembali terjatuh, kita akan membersihkan luka itu sendiri. lalu kembali berjalan. Apakah cukup sekali? Tentu tidak. kita bisa saja kembali terjatuh. Namun dalam proses tersebutlah, akhirnya membuat kita bisa menjadi lebih berhati-hati, tetap fokus dan berusaha meminimalisasi hal-hal yang akan memacu kesalahan untuk kedua kalinya.
Suka atau tidak, inilah kehidupan, yang menawarkan segala kerikil di dalamnya, namun juga menawarkan harapan dan impian. Masalah akan selalu ada, namun Tuhan sudah pasti dengan janjinya, bahwa dibalik kesulitan, selalu ada kemudahan. Sebagai manusia, ada saatnya kita berada dalam titik lemah. Tapi di saat lain, jauh dalam diri kita, terdapat kekuatan yang kita tidak pernah tau jika kita tidak mengeluarkannya dalam diri kita.
Jika ditanya kapan sukses? Jawabannya singkat, waktu yang akan menjawab. Bukan begitu kawan. Tapi keinginan yang kuatlah yang mengubahnya. Bukan berarti harus ngegas walaupun ditanjakan, boleh berhenti sejenak mengambil nafas. Hari ini bersyukurlah kita pernah gagal, tapi jangan menjadi manusia gagal, yang tidak menangkap pesan dari Tuhan. Jangan terus mengejar makna kesuksesan, coba kejar dulu Tuhan. Pasalnya, manusia diciptakan hanya bernafas saja kita sudah bermakna bagi tumbuhan. Apalagi mengoptimalkan kaki untuk berjalan, tangan untuk memberi dan anggota tubuh lainnya. Bukankah Tuhan tidak gagal menciptakan akal, untuk terus berbenah?
Definisi gagal sesungguhnya, ketika diri kita yang membuat kondisi tersebut menjadi gagal
Hendaknya kita berawal dari kata² yang keluar dari mulut kita adalah hal baik, membangun, bukan kata² destructive yang merusak mental seseorang.
BalasHapusBerkomunikasilah yang baik karena berdampak ke diri kita dan orang lain yang mendengarnya :)