Palestina Terusik, Saatnya Kita Berisik. Kita Bisa Apa?
“
Kita hanya perlu menjadi manusia, untuk belajar memanusiakan manusia-SNA”
Dua
minggu lebih terus digencarkan serangan untuk Palestina. Tidak ada ketenangan didalamnya, baku hantam yang
menimbulkan korban jiwa. Tak peduli apakah itu anak-anak hingga lansia, semua
dibabat rata. Kita yakin bahwa penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, itulah pesan dari filosofi
kehidupan berbangsa negara +62. Serangan
udara Israel di Gaza telah menewaskan 213 warga yag telah menewaskan 213 warga
Palestina, 61 anak-anak dan melukai lebih dari 1400 orang di Gaza
(CNNIndonesia.com). Tentu ini bukan hanya tentang permasalahan angka atau
agama. Ya, penulis yakin bahwa kita MANUSIA yang dititipkan hati
nurani. Lalu apakah hati itu masih ada?.
Tentu
kita juga bertanya kenapa harus repot memikirkan yang jauh nan disana.
Sedangkan kita saja masih balapan antara kelaparan dan kemalangan lainnya. Mari kia pandang dari 2 perspektif yang
berbeda. Bagi umat Muslim persoalan
Palestina menyangkut sebagian Aqidah, kiblat pertama Muslim sebelum dipindah ke
Masjidil Haram. Kedua, Baitul Maqdis merupakan tanah suci selain Mekkah dan
Madinah, yang mana ketika kita shalat disana pahala akan dilipatgandakan.
Menelatarkan Palestina sama dengan mengiris-iris aqidah kita. Jangan sampai
ketidak ingin taunya kita, menjalar hingga matinya hati kita.
Alasan
lainnya yaitu karena ketidakadilan yang menimpa sesama manusia. Tanpa kita sadari terus dipertontonkan kekejaman,
membuat hati kita lumpuh akan kemanusian.
Seolah disuntikan bahwa dalam pikiran kita itu hal biasa. Masih teringat
bagaimana kemudian dari hanya film pembunuhan hingga menciptakan
psikopat. Tidak perlu menjadi
Muslim untuk peduli dengan mereka, tidak perlu menunggu orang-orang yang
memangku jabatan untuk mengambil
keputusan, tidak perlu harus menunggu bergelimbang harta untuk sedekah.
Apalagi berpikir kita hanya rakyat biasa
yang tidak melakukan apa-apa. Lalu sebenarnya kita bisa apa sih?
1. Berdoa
Tentu sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, kita masih memiliki Tuhan. Selipkan diwaktu
ibadah untuk berdoa. Selalu teringat sebuah prinsip kehidupan apa yang kita
tanam, itulah yang kita tuai. Kita tidak pernah tau, doa mana yang akan mengetuk langit arsy-Nya.
2. Bersedekah
Jika ke Palestina seorang diri dengan
tidak memiliki kapasitas baik ilmu, senjata perperanngan, dan lainnya. Maka
sama saja dengan masuk kelubang harimau dengan sukarela. Banyak lembaga yang
terus mengencarkan open donasi. Kamu bisa menjadi salah satu
bagian yang membantu hal tersebut. Hust,
jangan berpikir harus kaya, karena
harta akan kita tinggalkan saat jasad
tak lagi bersama raga.
3. Pelopor Kebaikan
Ehem jumlah followers berapa? Emmm, rasanya
kita juga tak pernah habis orang berpendidikan
dan memiliki pengetahuan di
negeri ini. Nyatanya, persoalan
ini meenyeruak, banyak juga yang
akhirnya berlabel viral karena sensasional yang diciptakan. Tentu kaum
berintelek juga bisa melakukannya, kita bisa membuat konten di media
sosial, tiktok, youtobe, opini dikoran
dan lainnya. Suarakan , sekarangg juga!.
Bahkan kamu bisa menjadi garda terdepan yang terus menyuarakan donasi untuk Palestina misalnya dengan mengecarkan melalui postingan atau membuat gerakan yang mendukung pergerakan tersebut.
4. Kampanye Media Sosial
Media
sosial menjadi momok yang
memegang kekuatan yang luar biasa.
Hal ini bisa kita manfaatkan untuk
mendeklarasikan diri dalam mendukung
pergerakan anti penjajahan bahkan hingga mendukung boikot perekonomian dengan tidak
membeli produk-produk dari musuh.
Disana tak ada
perang
Tak ada adegan tembak memembak
Karena ini memang bukan perang
Tapi pembantaian
Disana anak-anak
menjadi korbabn
Para ibu menjadi janda
Banyak orang ditawan
Maka mari selamatkan
mereka
Runcingkan jiwa
kemanusiaan
Kerahkan yang kamu punya
Jika tak ada uang tak
mngapa
Kuatkan doa selagi bisa
Ada yang bilang, kita
rakyat biasa
Tapi bukan
berarti harus takut bersuara
Tak ada yang sia-sia
Karena Tuhan
selalu bersama kita.
Saat
lahir di dunia, kebanyakan orang tua menginginkan anaknya berguna. Mari
bertanya, sudah bermanfaat sejauh mana
kita?.

Media sosial bisa menjadi senjata ampuh, bisa menyerang psikologis pihak israel
BalasHapus"menulislah agar suaramu terdengar..."
BalasHapusbarakallah, bagus tulisannya mbak...