Menelusuri Kepimimpinan Nabi Melalui Uswah Leadership

       Tentu kita sering mendengar istilah leadership dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan leadership menjadi salah satu bagian yang harus dimiliki oleh insan di bumi ini dalam menghadapi persaingan global. Tetapi pertanyaan yang sering membelenggu dibenak kita, siapakah yang harus kita contoh dalam hal kepemimpinan ini ?.
     Jawabannya pun beragam macam, dengan banyaknya diisajikan persepsi baru, maka tauladan kepemimpinan menjadi lebih kompleks untuk dipilih. Kali ini penulis ingin sekedar berbagi untuk menambah ragam persepsi tersebut. Bersama dengan Zilenial Teacher, sebuah inkubasi pendidikan dibawah naungan Dompet Duafa kami mencoba belajar menjadi seorang guru pemimpin. Hakikatnya guru sebagai bengkel manusia, didorong untuk meningkatkan kualitas diri. Materi ini merupakan ulasan dari penyampaian bapak Muhammad Syafi’ie el-Bantanie selaku Direktur Lembaga Pengembangan Insani 



 Apa itu Leadership ? 
    Leadership dalam pembahasan ini adalah tentang bagaimana mempengaruhi orang lain, bawahan atau pengikut agar mau mencapai tujuan yang diinginkan sang pemimpin. Tentu hal ini tidak mudah, sehingga dicetuskanlah model kepemimpinan, salah satunya yaitu uswah leadership. Bagi umat Muslim kita dituntut untuk meneladani sosok Nabi besar kita, Muhammad SAW, sebagai suri tauladaan dan Nabi Ibrahim As. Tapi taukah Sobat bahwa kepemimpinan dari sosok tersebut menjadi manifestasi lahirnya uswah leadership. 

 Lebih Dekat Dengan Uswah Leadership 
    Uswah leadership berasal dari kata ‘uswah’ yang berati keteladanan. Keteladanan merupakan tindakan penanaman akhlak dengan menghargai ucapan dan sikap sehngga dapat memberikan kebermanfaatan bagi orang lain. Uswah leadership merupakan bentuk kepemimpinan yang dianalogikan seperti pohon berserta bagian-bagiannya. Hal ini dicerminkan dari Quran Surat Ibrahim : 24-25. 

 “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya, Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”,

 Terdapat 4 bagian dari uswah leadership yang mengajarkan empat value paling fundamental yaitu menjadi Integritas (Shidiq), Cendekia (Fathanah), Transformatif (Tabligh) dan Kompeten (Amanah) 

 1. Integritas (Shidiq) 
Integritas diibaratkan seperti akar yang menghujam sangat kuat di dalam tanah sehingga menjadi tumpuan bagi pohon. Maksudnya sebagai seorang pemimpin harus menjadi orang yang berintegritas; betanggungjawab atas apa yang diucapkan dan dilakukan. Tidak kemudian menjanjikan lalu menghilang atau membuat janji tanpa terlihat bukti. 
2. Cendekia (Fathanah)
 Cendekia seperti batang pohon yang kokoh. Maksudnya yaitu seorang pemimpin haruslah seorang yang pemikir. Ia harus mampu menyelesaikan masalah disekitar dan memberikan kebermanfaatan dengan hasil pemikirannya. Nah, untuk mencapai hal ini diperlukan sikap yang ingin terus belajar dan bergerak untuk memperbaiki diri.
 3. Kompeten (Amanah) 
Kompeten seperti rating yang menjulang tinggi dan daunnyya yang meneduhkan. Maksudnya dalam hal kemimpinan harus seseorang harus melakukan sesuatu secara memadai, atau kapasitas mental seseorang untuk memahami suatu proses. Kompeten ini diiringi dengan siikap menerima kritiik dan saran serta mau untuk mengubahnya menjadi lebih baik. 
4. Transformatif (Tabligh) 
Transformatif seperti buah dan bunga. Maksudnya yaitu seorang pemimpin harus tetap memberikan kebermanfaatan bagi orang banyak. Tentunya untuk menjadi buah dan bunga, ia harus bertransformasi disetiap kesulitan yang menghadang dan mencoba untuk tetap bertahan. 



 Integrasi Kepemimpinan Masa Kini 
    Walaupun nilai-nilai uswah leadership terpatri sejak zaman nabi khususnya Nabi Muhammad Saw dan Ibrahim As namun nilai tersebut masih linear dengan kondisi masa kini. Memasuki 76 tahun merdeka, kita masih terus membutuhkan pemiimpin yang memiliki integritas agar tidak terombang ambing dalam pergulatan politik. Pemimpin tidak hanya punya tanggung jawab secara sosial, tapi juga secara spiritual, yaitu kepada Allah Swt. 
    Karena itu, pemimpin dituntut tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tapi juga spiritual yang dapat menuntunnya pada amanah kepemimpinannya. Oleh karena itu, pemimpin harus betul-betul berusaha menjadikan kepemimpinannya sebagai sarana ibadah terbesar dia kepada Allah. Akhir kata, tanpa ada 4 value dalam uswah leadership yang tercermin dalam seorang pemimpin bagaikan pohon yang gersang. Pemimpin sejati tidak pernah lelah berjuang untuk perbaikan kehidupan, keberadaannya dirasakan tanpa harus dikatakan. Semoga kita terus belajar untuk menjadi orang yang bermanfaat.

-- SNA --

Komentar

Posting Komentar

Selalu berbuat baik dan menebar senyum kebaikan
".. Satu hal bahagia adalah ketika melihat senyum orang lain karena kebaikan yang kita lakukan .."
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?