Pertemuan terjadi bukan sekadar untuk saling mengerti, tetapi untuk saling melengkapi. Padamu Bali, terima kasih sudah membiarkan kami bersatu walaupun waktu terlalu cepat berlalu.
Halo rasanya binggung mau menyapa Sahabat Kebaikan dengan apa? Setelah vakum dari dunia menulis beberapa bulan, rasanya seperti belajar menulis kembali. Apa kabar ? Bagaimana perasaan kamu saat ini ?. Semoga semua yang kamu jalani, bisa kamu hadapi dengan baik.
Bagaimana rasanya jika bertemu lansung dengan orang yang sering kita sapa di dunia virtual? Bukankah seharusnya kita takut? Takut jika rapat yang terekam baik di google meet hanya akan menjadi wacana yang tertulis, takut jika kita tak mampu mengenal dengan baik sehingga tanpa terasa meninggalkan luka, takut jika dunia virtual ternyata hanya semu dan kenyataan mematahkan semua rencana baik itu . Sejak pertama kali diplot untuk bertugas di Buleleng, Bali, tidak ada ekspetasi besar akan berakhir seperti apa. Hidup bukankah memang untuk bertemu dan berpisah ?. Mungkin terlalu sering bagiku untuk bertemu dengan orang baru, lalu mengucapkan selamat tinggal saat diriku benar-benar belum siap. Tapi kok rasanya beda? bukan hanya kenangan yang tertinggal, namun pengharapan untuk bertemu kembali itu tak kunjung mereda. Izinkan aku menceritakan kembali apa yang pernah aku rasa, agar bumi tau bahwa kalian pernah ada menjadi serpihan cerita kehidupan bagiku.
Buleleng, sudah ada yang pernah kesini sebelumnya ?. Jika belum, maka kita sama, saat aku mencari di penelusuran google rasanya tidak ada yang berbeda dengan kota lainnya. Mungkin yang membedakan karena ia terletak di wilayah Bali, kota yang diagungkan layaknya sebuah negara. Perjalanan dari kota Batam ke Bali kutempuh selama tujuh jam dengan catatan transit selama satu jam di Surabaya. Lagi-lagi aku hanya berinteraksi melalui virtual, basa-basi untuk mengabari bahwa aku sedang dimana disertai dengan kata semangat yang tak pernah henti. Taraaa…. Aku di Bali namun aku harus menunggu, ya sepertinya menunggu sudah menjadi rutinitas atau sabar dalam menunggu bisa dikatakan sebuah kelebihan?. Singkat cerita aku bertemu dengan tim dari Yogyakarta dan Surabaya. Bahagianya karena bertemu dengan orang baru. Sedihnya, ini bukan tim asliku. Kami hanya ada dua orang perempuan dalam satu tim, dia harus sampai lebih malam daripada aku, tiga orang timku sudah sibuk memamerkan foto mereka di hotel hiks hiks dan satu timku sangat setia dan tidak ingin berpisah dengan bandara (read: delay).
(Cuplikan udara perjalanan ke Bali)
Bedrock Hotel, Bali
Yeay, ini hotel pertama
kali kami singgah. Lokasi hotel yang berselebahan dengan hotel lainnya, mengisyaratkan
memang Bali, kota pariwisata. Lokasinya dekat dengan Pantai kuta. Walaupun masih sepi pengunjung namun hotel ini tertata dengan rapi. Jangan tanya soal
biaya karena jujur project managerku sangat menyayangi kami, ya kami hanya tau
singah, tidur dan kembali pergi. Momen yang paling aku ingat saat di hotel ini
yaitu saat banyak mengobrol dengan ibu dan bapak guru yang juga ikut serta
dalam projek ini, karena pasanganku sesama perempuan saat itu belum ada, rasanya
sangat canggung sekali bisa berinteraksi dengan tim yang kebanyakan cowok.
Hahaha…. Hihiii entah mengapa aku bisa sambung menyambung dengan orang yang
lebih tua dari umurku. Inikah pertanda sebenarnya aku juga sudah tua ? *eh. Tanpa terasa pasangan yang aku tunggu telah
tiba, namun tetap kami layaknya dua orang yang dipaksa untuk berkenalan dengan
kondisi. Hari pertama aku belum mengenalnya dengan baik, namun aku selalu salut
dengan jam tidurnya yang selalu diatas aku, padahal aku selalu mengumandangkan
begadang, duh masih kalah jauh hahahahah. Uniknya
dari projek kali ini, kami harus cepat beradaptasi dengan penginapan wkwkw. 5
hari 4 malam dengan 4 penginapan yang berbeda.
Krisna Oleh-oleh, Bali
Jika orang sibuk akan
menyelesaikan projeknya terlebih dahulu, maka kami sibuk untuk memilih
oleh-oleh pertama kali hahah. Maaf bukan kampungan, namun memanfaatkan peluang. Lagi-lagi
project manager kami memang sangat pengertian. Ouh iya Sahabat Kebaikan, jika
kamu di Bali dan binggung mencari oleh-oleh apa, kamu bisa banget mampir ke
tempat ini. Tempat ini menyediakan makanan, pakaian, suvenir dan beragam lainnya. Harganya cenderung pas di kantong dan pastinya lokasi untuk Krisna Oleh-oleh ini tidak satu tempat kamu bisa mencari informasi lebih lanjut dimana saja ada outletnya yah.
Pura Ulun Danu Beratan , Bali
Nah siapa yang punya uang
50 puluh ribuan ? kalau ada boleh minta? *eh.
Nah Sahabat Kebaikan pura yang terdapat di uang tersebut merupakan Pura
Ulun Danu Beratan dan alhamdullilah, aku bisa lihat lansung berfoto disana (histeris). Pura ini memiliki keunikan karena terletak di tengah danau, pura ini juga digunakan untuk tempat ibadah umat Hindu. Masuk ke dalam pura, Sahabat hanya perlu membayar Rp25.000, murah bukan?. Banyak sekali spot foto yang bisa diambil oleh wisatawan, jangan salah, untuk lokasi wisata, tempat ini sudah dilengkapi dengan toilet, tempat makan dan tempat membeli oleh-oleh. Semilir angin ditemani dengan tata letak bunga dan pemandangan hijau lainnya, cocok untuk kamu yang sedang rehat sejenak dari hiruk piruk dunia.


Perjalananan kami pun berlanjut menuju Buleleng, perjalanan kesana ditempuh kurang lebih selama tiga jam, jika kamu adalah tim muntah dalam bus, maka sebaiknya kamu mempersiapkan antimo dan obat penujang. Jalannya berliku seperti kehidupan tetapi kami tidak menyerah dengan keadaan apalagi lari dari kenyataan (gubrak). Tips buat kamu yang akan ke daerah Buleleng, siapkan supir yang handal, lalu buat kondisi yang meriah dengan hahaha hihihi biar tidak fokus melihat terjalnya perjalanan. Kamu bisa bermain
undercover, bernyanyi, main
truth or dare dan aktivitas lainnya.
Lovina Beach Club and Resort
Jika sudah melihat pemandangan hijau, maka kali ini ini kita beralih ke yang berwarna biru yaitu pantai. Penginapan yang lansung berhadapan dengan pantai menjadi daya tarik bagi Lovina, kamar yang luas dan konsep minimalis menjadi daya jual. Ouh iya penginapan ini sepertinya cocok digunakan untuk honeymoon, uniknya lampu menuju penginapan tidak menyala, artinya kamu harus mampu mencari cahaya dalam kegelapan *eh.
Nah ini sebagian ulasan dari perjalanan aku di Bali, eh belum selesai loh. Tunggu lanjutan di part 2 dan 3 yah . See you......
Mantul
BalasHapus