Bapak Bahasa Indonesia : Merawat Bahasa, Menghadirkan Indonesia
Identitas adalah ciri
khas yang menjadi ciri seorang
individu, sekelompok orang, atau negara. Ketika identitas ini menjadi milik bersama, tentu akan menjadi
identitas nasional. Seperti negara lain,
Indonesia memiliki identitas yang membedakannya dari negara-negara lain di dunia. Identitas
ini sekaligus menunjukkan eksistensi
negara Indonesia di antara negara-negara lain. Salah satu lambang
identitas bangsa Indonesia adalah bahasa. Hal ini sesuai dengan semboyan yang terkenal "Bahasa Menunjukkan Negara".
Sejarah
mencatat, identitas bahasa Indonesia
menjadi marka pemisah antara yang terjajah dan si penjajah. Dari sinilah,
perlawanan terhadap Belanda berdentum begitu nyaring. Kaum pribumi pada fase
itu telah terkondisikan dalam satu identitas yang sama, yakni bahasa Indonesia
yang lebih memudahkan untuk mencapai kemerdekaan.
Sejarah juga mencatat bahasa Indonesia berasal dari bahasa
Melayu. Keputusan Kongres Bahasa Indonesia ke-2 tahun 1954 di Medan,
antara lain, menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.
Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sejak zaman dulu
sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) bukan
hanya di Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara. Selain
sebagai lingua franca, bahasa Melayu
juga dirawat oleh para cendekiawan yang berada di Riau.
Ironinya,
identitas tersebut kian hari, kian tersisihkan. Bahasa Indonesia saat ini
ditempatkan begitu pojok, terutama bagi kalangan pemuda. Fenomena bahasa gaul,
campur kode, dan penempatan bahasa asing yang selalu diagungkan menjadi
permasalahan yang sudah berakar dan perlu terus digaungkan. Waktu untuk
mempelajari bahasa Indonesia juga kerap kali hanya seadanya apalagi untuk sejarahnya,
tidak heran dari penelitian sederhana yang dilakukan penulis dengan membagikan
kuesioner secara daring kepada 50 siswa hanya 40% yang mengetahui kapan bahasa
Indonesia lahir, dan fakta yang mengejutkan lainnya, hanya 10% yang mengetahui
siapa Bapak Bahasa Indonesia. Padahal mereka dibesarkan di tanah Melayu dan
sering mendengar Raja Ali Haji namun lagi-lagi hanya sebatas mengetahui nama
dan karya yang dikenal sebatas Gurindam Dua Belas. Dengan melihat
permasalahan tersebut, tulisan ini mencoba merefleksi bagaimana perjuangan Raja
Ali Haji sebagai Bapak Bahasa Indonesia dalam merawat bahasa dan menghadirkan
Indonesia sampai saat ini
Sekapur Sirih
Raja Ali Haji
Raja
Ali Haji memiliki nama lengkap Raja Ali al-Hajj Ibni Raja Ahmad al-Hajj Ibni
Raja Haji Fisabilillah bin Opu Daeng Celak alias Engku Haji Ali Ibni Engku Haji
Ahmad dengan Encik Hamidah binti Panglima Malik Selangor, di Pulau Penyengat
Kepulauan Riau. Lahir pada tahun 1808 M di pusat Kesultanan Riau-Lingga. Pulau
Penyengat. Raja Ali Haji berasal dari
keturunan Melayu dan Bugis. Ayahnya bernama Raja Ahmad Engku Haji Tua dan
Ibundanya bernama Encik Hamidah Binti Panglima Selangor. Raja Ali Haji memiliki
saudara enam orang : 1) Raja Muhammad Said; 2) Raja Haji Daud; 3) Raja Abdul
Hamid; 4) Raja Usman; 5) Raja Haji Umar; 6) Raja Haji Abdullah (Anwar, 1999).
Raja
Ali Haji memperoleh pendidikan dasar dari ayahnya sendiri. Di samping itu, ia
juga mendapatkan pendidikan dari lingkungan istana Kesultanan Riau Lingga di
Pulau Penyengat. Di lingkungan kesultanan ini secara langsung ia mendapatkan
pendidikan dari tokoh-tokoh terkemuka yang pernah datang. Ketika itu, banyak
tokoh ulama yang merantau ke Pulau Penyengat dengan tujuan mengajar dan
sekaligus belajar. Pada saat itu, kesultanan Riau-Lingga dikenal sebagai pusat
kebudayaan Melayu yang giat mengembangkan bidang agama, bahasa, dan sastra.
Oleh karena itu, Raja Ali Haji merupakan bagian dari keluarga besar Kesultanan,
maka ia termasuk orang pertama yang bersentuhan dengan pendidikan, yaitu
bertemu langsung dengan tokoh-tokoh ulama yang datang ke Pulau Penyengat, ia
belajar Alquran, Hadis dan ilmu-ilmu agama lainnya. Pendidikan dasar yang
diperoleh Raja Ali Haji sama dengan anak-anak seusianya, hanya saja Raja Ali
Haji memiliki kecerdasan di atas rata-rata (Anwar, 1999).
Senarai
Karya-Karya Untuk Bahasa dan Sastra
Karya pertama Raja Ali Haji di bidang linguistik yaitu Bustan
al-Katibin lis-Subyan al-Muta’allimin atau lebih dikenal dengan Bustanul
Katibin. Kitab ini mendeskripsikan tata cara penulisan bahasa Melayu yang
sesuai dengan ejaan Arab-Melayu. Hasan Junus dalam Raja Ali Haji: Budayawan di Gerbang Abad XX menerangkan bahwa buku
ini pertama kali dicetak pada tahun 1875 dengan teknik litografi (percetakan
batu) dan dicetak ulang di Singapura. Bustanul Katibin pernah dialihbahasakan
ke dalam bahasa Belanda oleh Ph. S. Vann Ronkel dan dimuat dalam sebuah jurnal Tijdschrift van het Bataviaasch
Genootschap XLIV/1909.
Buku ini terdiri dari
sepuluh pasal yang mendeskripsikan seputar kaidah, prinsip, dan tata cara
penulisan bahasa Melayu dalam aksara Jawi yang disesuaikan dengan tata bahasa
dalam bahasa Arab. Dalam pasal pertama dan kedua, menguraikan jenis-jenis huruf
Arab yang dipakai dan tidak dipakai dalam menuliskan bahasa Melayu. Pasal
ketiga berisi huruf suratan, yaitu huruf yang terdapat dalam abjad Arab dan dikenal
dalam bahasa Melayu. Pasal keempat berisi tentang prinsip-prinsip pemakaian
huruf Arab dalam bahasa Melayu. Sementara penjelasan mengenai tata cara
merangkai huruf-huruf Arab dalam pemakaian bahasa Melayu dijelaskan dalam pasal
kelima. Pasal keenam berisi kaidah-kaidah penulisan bahasa Melayu menggunakan
aksara Arab. Pasal ketujuh tentang tata cara merangkai semua huruf dalam bahasa
Melayu. Pasal kedelapan, memuat tentang tanda atau baris yang menjadikan sebuah
huruf berbunyi. Pasal kesembilan mencakup penjelasan tentang rangkaian
huruf-huruf yang membentuk kata-kata yang berbunyi. Pasal yang terakhir berisi
tentang cara para penulis yang sudah pandai untuk membuang huruf-huruf tertentu
tanpa mengubah makna kata.
Buku selanjutnya yaitu Kitab Pengetahuan Bahasa yang
merupakan kamus bahasa Melayu, yang mula-mula terbit pada tahun 1929 di
Singapura. Dalam Sejarah Perjuangan Raja
Ali Haji sebagai Bapak Bahasa Indonesia, Hasan Junus menjelaskan bahwa
penulisan kamus ini memakai teknik persajakan (menjelaskan arti sebuah lema,
dengan cara mengambil sebuah bait syair atau pantun yang mengandung lema yang
dimaksud kemudian dijelaskan, sehingga penjelasan sesuai dengan konteks kalimat
bait itu) dan teknik kaufah, yakni melihat entri kamus dari persamaan suku kata
pertama dan terakhir.
Karya selanjutnya, Gurindam Dua Belas, boleh jadi ini
adalah satu-satunya karya Raja Ali Haji yang dikenal luas oleh masyarakat awam
di Indonesia. Di sini, beliau menuliskan dua belas pasal gurindam yang
merupakan panduan bagi masyarakat untuk dapat berakhlak baik. Dalam karyanya
ini, beliau juga menuliskan perbedaan antara gurindam dengan syair, yang
membuat karya ini menjadi petunjuk penting dalam hal puisi untuk kita di masa
sekarang. Selain karya tersebut, Raja Ali Haji juga menulis karya-karya lain
seperti Silsilah Melayu dan Bugis, yang menjadi karya penting
lainnya dari segi historiografi Melayu. Beliau juga menulis
berbagai karya puisi selain Gurindam Dua Belas, seperti Ikat-ikatan
Dua Belas Puji, Syair Abdul Muluk, Syair Hukum Faraid, Syair Suluh Pegawai,
dan Syair Siti Sianah.
Perjuangan Merajut
Indonesia Melalui Bahasa
Kongres
bahasa Indonesia di Medan tahun 1954 memberikan penjelasan bahwa hubungan
bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu disesuaikan dengan pertumbuhannya dalam
masyarakat. Maka penyebaran bahasa Melayu tidaklah mengalami kesukaran karena
unsur keserumpunan dalam bahasa akan sangat menguntungkan. Faktor historis
menguntungkan bagi perkembangan bahasa Melayu di kawasan Nusantara dan kawasan
Asia Tenggara. Melihat Sriwijaya sebagai kerajaan maritim yang besar, tentu
menjadi pusat penyebaran bahasa Melayu yang sangat menentukan. Lantaran
kerajaan ini memakai bahasa Melayu sebagai bahasa resmi dalam pemerintahannya,
seperti yang dapat dilihat dalam piagam-piagamnya (Hamidy, 2010).
Kebesaran
kerajaan Sriwijaya yang memakai bahasa Melayu sebagai bahasa resmi diikuti oleh
kerajaan Melayu Riau juga memakai bahasa Melayu sebagai bahasa resmi dalam
kerajaan dan daerah taklukannya. Dengan demikian pembicaraan mengenai bahasa
Melayu Riau dalam hubungan dengan kerajaan Malayu Riau sangatlah penting,
karena kerajaan inilah yang melanjutkan penyebaran dan pengembangan bahasa
Melayu melalui pengaruh strategi kerajaan. Bahasa Melayu juga menjadi bahasa
resmi tulis yang digunakan di istana-istana dan dalam agama. Disaat yang sama
juga digunakan sebagai bahasa sehari-hari, bahasa pedagangan, dan bahasa
interaksi masyarakat di pasar dan di pelabuhan.
Peran
dan posisi bahasa Melayu benar-benar melampaui cakupan fungsi dari
bahasa-bahasa di Eropa sangat baik dalam bidang sejarah. Mustahil tanpa usaha
Raja Ali Haji, bahasa Melayu dalam kerajaan Riau-Lingga akan sedemikian baik
dalam pembinaan dan pengembangannya tanpa Raja Ali Haji sebagai peletak dasar
pokok pembinaannya. Bahasa Melayu diberi predikat “tinggi” tentulah karena
nilai standarisasi yang berhasil dicapai oleh bahasa tersebut. Hal demikian
dihubungkan dengan sejarah kebahasaan di tanah air, maka tidaklah berlebihan
jika Raja Ali Haji telah melapangkan jalan kearah terbentuknya bahasa nasional
di Indonesia. Dia merupakan pelopor yang telah melicinkan jalan pembentukan
bahasa Nasioal (Hamidy, 2010).
Dilain
sisi, dalam catatan sejarah tertuliskan bahwa pondasi nasionalisme bangsa
Indonesia tersusun karena bahasa. Walaupun banyak gempuran bahasa lainnya
seperti bahasa daerah namun tetap berpegang teguh terhadap bahasa Indonesia.
Hal ini tercermin dari sumpah pemuda 1928. “Kami putra dan putri Indonesia
menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Sudah 94 tahun, bahasa menjadi
benang merah persatuan kita. Sudah selayaknya, kita
memberikan penghargaan tertinggi terhadap Raja Ali Haji yang telah merawat
bahasa,
Sebuah
Catatan Penutup: Disayang namun Terbuang
Di negara kita, nama Raja Ali Haji nampaknya hanya dikenal
sebatas pencipta Gurindam Dua Belas, itu pun isi secara menyeluruh dari
gurindam tersebut masih abu-abu oleh masyarakat awam padahal sudah banyak
catatan sejarah yang menuliskan nama beliau. Pada tahun 2004, keluarlah Keputusan Presiden
yang menyatakan bahwa Raja Ali Haji adalah pahlawan nasional. Sebuah monumen Melayu juga didirikan oleh pemerintah daerah Kepulauan Riau sebagai ucapan terima kasih atas jasanya.
Sementara itu, kisah Raja Ali Haji juga
pernah muncul dalam film “Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji”. Penghargaan
dan penghormatan Raja Ali Haji juga dituliskan dalam sebuah buku biografi. Buku
yang terbit tahun 2004 tersebut diberi judul Sejarah Perjuangan Raja Ali Haji sebagai Bapak Bahasa Indonesia.
Ada juga sebuah website yang mengupas tuntas tentang Raja Ali Haji, yakni rajaalihaji.com. Dalam
website tersebut, ditorehkan biografi, karya, pemikiran, hingga kajian ilmiah
terhadap karya Raji Ali Haji..
Sudah
saatnya kita kembali menjaga yang telah ditingalkan oleh Raja Ali Haji, dapat
dilakukan dengan cara yang paling mudah untuk diucapkan namun sulit untuk
diimplementasikan yaitu, menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Selain
itu, rasa kebanggaan dan kepemilikan juga seharusnya terpatri dalam setiap
warga Indonesia, ditunjukan dengan memiliki ketertarikan untuk mempelajari
kembali sejarah bahasa Indonesia. Jangan sampai, apa yang sudah diperjuangkan
oleh pendahulu kita, diklaim sebagai kekayaan bangsa lain. Jika bukan kita, siapa lagi?. Jika bukan
sekarang maka kapan lagi ?.
Referensi
Anwar, Syamsul. 1999. Konsep Negara dalam Dunia Melayu (Kajian terhadap Pemikiran Ali Haji).
Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.
Hamidy. 2010. Riau Sebagai Pusat Bahasa dan Kebudayaan Melayu. Pekanbaru: Dinas Pendidikan Provinsi Riau
Junus, Hasan. 2002. Raja Ali Haji : Budayawan di Gerbang Abad XX. Peknabaru : Unri Press
Junus, Hasan. 2002. Sejarah Perjuangan Raja Ali Haji Sebagai Bapak Bahasa Indonesia.
Pekanbaru: UNRI Press
Komentar
Posting Komentar
Selalu berbuat baik dan menebar senyum kebaikan
".. Satu hal bahagia adalah ketika melihat senyum orang lain karena kebaikan yang kita lakukan .."
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?