Milineal Punya Rumah Sendiri, Mengapa Tidak ?

Rasanya ketika menulis ini, berat banget, ingin tutup laptop dan tidak ingin melanjutkan tulisan ini huhuhu.  Pertama karena memang misi ini belum selesai dengan sempurna. Kedua, karena aku bukan orang yang expert banget dalam hal finansial namun semakin tidak tertuliskan, rasanya lebih berat lagi*lah wkwk. Banyak disekitar aku yang bekerja namun tidak terasa uangnya kemana. Apakah kamu salah satunya ?. Tulisan ini sekadar ingin berbagi agar aku, kamu, dan kita bisa lebih baik lagi dalam merencanakan keuangan. Keputusan ini aku ambil diusiaku 22 tahun, jika berbeda pandangan it's okay yah. 

“Ngapain sih harus repot, orang tua aku masih mampu kok bayarin aku, walaupun aku udah kerja, ya uangnya untuk aku sendiiri”.

Nah di lain sisi juga ada anak-anak yang menanggung perekonomian keluarganya, dari masalah pangan, sandang hingga ke hutang. Aku termasuk jenis anak tipe ini, kedua orang tua aku tidak bekerja lagi sejak 2016, rasanya tersisihkan dari peradaban*(lebay banget hahaha). Jujur dulu aku banyak iri saat orang lain menggunakan barang-barang unik dan terbaru tapi aku sadar lagi, kita memang harus punya kesadaran diri, maksudnya ya kalau gak bisa menggunakan itu, ya terima, bukan harus mengikuti gengsi. Nah sejak umur 17 tahun aku membangun komitmen bahwa tidak akan menerima uang lagi dari orang tua, sebenarnya ini pengalihan isu saat orang tua aku tidak setuju untuk kuliah, dengan alasan finansial namun saat aku merasa aku bisa bertanggungjawab terhadap keputusan aku, maka aku ambil dan jalankan. Saat pertama kali, jujur aku masih berharap akan ada uang dari siapa gitu hahahah, memang bukankah berharap sama manusia sama saja membiarkan diri sendiri terluka ?. Akhirnya diumur 17 tahun aku mengerti “DAPATIN UANG ITU SUSAH”. Awalnya aku hanya bekerja untu memenuhi semua kebutuhan namun akhirnya aku mulai mengerti bahwa cara terbaik yaitu mengelola uang.  Sebenarnya dari SD hingga SMA aku juga selalu menabung dan dapat beasiswa, lalu waktu SMA juga harus jual gorengan, namun beda aja bebannya, saat itu belum sekompleks saat aku kuliah.

Kenapa kok harus punya rumah? sederhananya rumah selalu dibutuhkan apapun kondisinya, sayangnya kondisi ini berbanding terbalik karena harga rumah melambung tinggi tiap tahun. Wajar tiap tahun inflasi, nilai uang selalu berbeda-beda. Akhirnya kaya aku ini yang masih muda rasanya terlalu jauh punya rumah. Apalagi perempuan, beberapa persepsi mengatakan perempuan kok sibuk banget sih punya rumah sendiri nantikan ikut suami. Jujur aku gak mempersalahkan jika ikut suami nantinya karena memang itu kewajiban istri. Cuma aku mempersalahkan perempuan yang kemudian lemah setelah ditinggal suaminya, ya sedih boleh, tetapi hancur berkeping-keping menurut aku terlalu hiperbola untuk kehidupan yang selalu diberikan pilihan. Jadi menurut aku bagus kok punya rumah, bisa jadi disewakan saat kamu memang tidak mau menempati, tuhkan otak bisnisku jalan hahah.

(Rumah Tampak Depan)

Orang tua kurang mampu, akan dilanjutkan oleh kamu ?

    Dari penelitian yang aku baca, ketika seorang lahir dari  keluarga yang memiliki finansial yang rendah, maka kemungkinan terjadi pada anaknya sangat besar, seperti lingkaran setan. Semua itu karena pola pikir, saat berada diekonomi rendah kita merasa selalu dibawah rata-rata. Bisa jadi karena kurang bersyukur atau terlalu nyaman dengan kondisi tersebut. 

    Akhirnya aku mulai untuk mengubah konsep pengelolaan uang. Pertama harus dari tabungan, uang darurat, lalu pengeluaran. Yups, kenapa tidak pengeluaran menjadi nomor satu ? karena manusia itu punya sifat yang selalu ingin lebih, misal nih udah punya magic com yang bisa masak nasi aja, eh ternyata nanti pengen yang bisa tiga fungsi bisa menanak, dan lainnya. Kalau mau ikutin itu terus ya bakal gak bisa untuk menabung, dengan alibi, penghasilan aku tidak seberapa huhuhu. Lalu ajaibnya untuk mengutang sangat mudah saar ini entah dari shooppe pay later, pinjaman online dan lainnya. Itu membuat kamu semakin tidak sadar bahwa dompetmu semakin menipis. Jadi rencanankan tabungan terlebih dahulu, jika kamu ingin investasi boleh banget yah misal keemas, reksadana, dan lainnya. Jangan lupa sedekah, setiap niat baik selalu akan dipermudah, percaya deh hal ini. 

    Nah dua tahun belakangan ini, aku selalu bermimpi akan punya rumah sendiri. Harga terhadap properti semakin tahun, semakin naik, ini hal yang sepertinya sudah lumrah untuk diketahui banyak orang. Mimpi itu kan berubah menjadi rencana saat dipikirkan dengan serius bukan? Lalu akan berubah menjadi suatu yang nyata, saat diusahakan. Selama kurang lebih satu tahun, aku merefleksi akan membangun sendiri atau beli dari developer. Akhirnya pilihan aku jatuh kepada pembelian rumah KPR subsidi. Buat kamu yang punya prinsip bangun rumah sendiri tetap lanjutkan yah, jujur waktu awal aku maunya bangun tetapi selalu goyah entah uangnya dipakai untuk rumah sakit orang tua dan kebutuhan yang tidak terduga akhirnya bocor terus gitu. Sehingga aku memilih untuk KPR dengan bank syariah. Paham banget kok hukumnya masih menuai pro-kontra, aku juga berusaha mempelajari sebelum memilih. Intinya aku selalu berusaha bertanggung jawab atas apa yang aku pilih.

Apa itu rumah Subsidi ?

    Rumah subsidi yaitu rumah yang mendapatkan bantuan dari pemerintah, eh gak gratis yah tapi harganya lebih murah aja. Untuk tipenya juga beraneka ragam, aku memilih yang ukuran 36/72, untuk awalnya kamu akan diminta untuk uang pendaftaran gitu, ini aku bayar 2 juta. Persyaratan untuk mendapatkan perumahan ini yaitu maksimal penghasilan 8 juta rupiah, belum menerima bantuan pemerintah, minimal 21 tahun dan maksimal 55 tahun. Nah, kamu juga harus memperhatikan developer tempat kamu memilih, jangan sampai salah dan ketipu. Pelajari rekam jejaknya, kalau aku melihat dari perumahan yang mereka kelola, lalu aku melihat perkembangan rumah secara lansung termasuk material yang digunakan. Walaupun bukan anak teknik, aku berusaha kepo terhadap bahan yang digunakan. Maaf tukang-tukang yang direpotkan :)

    Ouh iya karena perumahan maka untuk dapur belum ada yah jadi harus buat sendiri. Untuk membuat dapurnya, aku menghabiskan sekitar 15--25 juta, ini sesuai dengan material dan keinginan kamu dibuat seperti apa yah. Dari proses pembuatan dapur aja, aku belajar banyak dari memilih bahan, bayar tukang, menyipakan uang darurat, sampai kontak di gawai aku bertambah yaitu punya kontak tukang bangunan, prestise banget yah hahaha.


(Tampilan rumah tipe rumah 36/72, terdapat 2 kamar, 1 kamar mandi, ruang tamu, 3 meter di belakang, dan 3 meter di depan)

Kenapa harus rumah subsidi ? 

    Sebenarnya aku sudah menjelaskan dibagian atas terkait dengan ini. Tapi sepertinya bisa menjadi bahan pertimbangan teman-teman untuk lebih jauh 

Kelebihan :

1. Peryaratan yang lebih mudah 

Persyaratan yang dibutuhkan lumayan mudah dan masih bisa dipenuhi seperti KTP, KK, Slip penghasilan 3 bulan terakhir, NPWP, mengisi formulir pendaftaran dan dokumen pendukung lainnya.  

2. Biaya yang relatif murah 

Biasanya setiap wilayah sudah memiliki harga jual yang ditetapkan oleh pemerintah provinsi. Nah untuk Kepulauan Riau Rp156.500.000 teman-teman. Kalau kamu mau tau berapa harga jual provinsimu bisa cek yah digoogle terlebih dahulu. Harga ini relatif lebih murah dibandingkan dengan perumahan komersil loh. 

3. Bisa mewujudkan impianmu 

Buat kamu yang masih sendiri tentu yang paling berat yaitu mengatur kondisi keuangan pribadi. Kenapa? biasanya banyak ambisi muda yang tentu banyak mengambil porsi keuangan kita. Misal mengikuti trendi dengan penggunaan gawai (handphone) terbaru atau sekedar mengikuti promo 4.4 hahaha. Aku kasih tips ampuh yah, aku selalu berpikir untuk beli barang baru non produktif misal aku hanya memiliki satu tas untuk kerja, jarang banget mau beli lagi kecuali sudah rusak :). Lalu itu berlaku untuk beli barang baru pasti akan mikir gitu misal harganya 300 k setara dengan satu hari gaji maka aku gak bakal beli barang itu hahahah. Tapi bukan berarti gak mau ngeluarin uang yah, aku cukup royal untuk membeli makanan *gubrak

Kekurangan : 

1. Lokasi yang sulit dijangkau 

Biasanya lokasi dari rumah subsidi tidak menguntungkan loh dalam artian kurang strategis namun itu bisa kamu pertimbangkan dengan melihat prospek 3 tahun atau selama 5 tahun kedepan yah. Bisa jadi memang tidak dekat dengan jalan raya namun masih bisa diakses untuk pusat pembelanjaan, musala, pelayanan kesehatan dan fasilitas umumnya.

2. Bentuk rumah yang serupa 

Buat kamu yang punya impian sendiri dan ingin mendesain sesuai keinginan kamu maka rumah KPR menjadi terbatas untuk kamu namun jangan khawatir karena terdapat lahan kosong juga kok untuk kamu mendesain dapur dan halaman depan sesuai keinginan kamu. 

Yeay, misi untuk membagikan cerita sudah selesai. Doakan yah aku terus diberikan kesehatan untuk memberikan yang terbaik buat keluarga aku. Rumah ini untuk ibu dan ayah yang sudah banyak rela berkorban untuk perkembangan aku. Mari kita berjuang teman-teman. Fighting !. Kalau ada yang mau ditanyakan silakan berkomentar yaw ......




Komentar