Ruang Prasangka
Di bawah pohon yang rindang, duduk seorang pemuda. Matanya awas menatap danau di hadapannya. Riak air, kicau burung, dan tentu saja kata hatinya bertalu merdu menjadi satu. Berpikir ia tentang sebuah kemungkinan. Sebuah ruang prasangka. Pemuda itu membaringkan tubuh tegapnya, menantang langit luas. Dzikirnya melantun hingga perlahan ia rasakan turunnya hujan salju di sekujur pipinya. Ia merasa rapuh sekaligus tangguh. Teman-temannya berjuang, melejit, melangitkan mimpi-mimpi mereka. Satu persatu memastikan coretan harapan mereka tercentang dan menjadi nyata. Lalu dia melihat dirinya. Prasangka negatif itu mengatakan, "Kamu tidak akan pernah bisa seperti mereka! Kamu ini lemah, gampang lelah" Itu benar. Tapi tidak pernah seutuhnya benar. "Sudahlah, nyerah saja. Lihat karya mereka, lihat betapa tak pantas mutiara bersanding dengan batu bata biasa." Itu juga benar. Tetapi tidak akan pernah jadi benar. Pemuda itu mengusap wajah. Dia menangis bukan lagi karena...