Ruang Prasangka

Di bawah pohon yang rindang, duduk seorang pemuda. Matanya awas menatap danau di hadapannya. Riak air, kicau burung, dan tentu saja kata hatinya bertalu merdu menjadi satu. Berpikir ia tentang sebuah kemungkinan. Sebuah ruang prasangka.
Pemuda itu membaringkan tubuh tegapnya, menantang langit luas. Dzikirnya melantun hingga perlahan ia rasakan turunnya hujan salju di sekujur pipinya. Ia merasa rapuh sekaligus tangguh.
Teman-temannya berjuang, melejit, melangitkan mimpi-mimpi mereka. Satu persatu memastikan coretan harapan mereka tercentang dan menjadi nyata. Lalu dia melihat dirinya. Prasangka negatif itu mengatakan, "Kamu tidak akan pernah bisa seperti mereka! Kamu ini lemah, gampang lelah"
Itu benar. Tapi tidak pernah seutuhnya benar.
"Sudahlah, nyerah saja. Lihat karya mereka, lihat betapa tak pantas mutiara bersanding dengan batu bata biasa."
Itu juga benar. Tetapi tidak akan pernah jadi benar.
Pemuda itu mengusap wajah. Dia menangis bukan lagi karena bosan mencoba. Kemarin memang boleh salah, boleh gagal dan sempat menyerah. Kawan-kawannya boleh berlari sejauh mungkin, dia bahkan berdoa untuk itu. Mereka telah sukses, mandiri, berdikari, dan pemuda itu juga memilih andilnya dalam hanyutan doa yang mengharu biru.
Ruang prasangka itu kembali berseru, kali ini dengan nada berbeda.
"Kamu harus bersyukur!"
"Karibmu di luar sana memang telah mencoret rencana mereka dan merubahnya jadi senyum bahagia. Kamu juga bisa, percayalah!"

Itu benar dan akan jadi benar.
"Jangan berhenti di sini, di titik lemahmu ini. Jangan menyerah. Ayo coba lagi, coba, coba. Lagi dan lagi. Bergeraklah walau selangkah, berdiri, bangkit hingga nanti bisa berjalan dan berlari"
Itu benar, dan benarkanlah ia.
Bersyukurlah. Jangan pesimis karena mendapati kelemahanmu tampak lebih banyak. Ada yang lebih lemah, ada yang lebih tak mampu. Juga banyak yang mau tapi tak Allah pilih seperti dirimu. Jika kemarin kamu lelah, bisa jadi karena kamu bertumpu pada dirimu sendiri. Mulai hari ini, bersandarlah pada sang Maha Kuat. Dia yang tidak pernah menjanjikan kebahagiaan selalu ada tapi selalu mengatakan dengan pasti, "Aku bersama orang yang sabar".
Perbaikilah ruang prasangkamu pada-Nya. Sebaik yang kamu duga pada-Nya sebaik itu pula yang akan datang padamu menyapa. Bersyukurlah. Mulai lagi kerja kerasmu, bangun lagi cita-cita yang masih menunggu untuk diwujudkan. Ah ya, senyum kedua orang tuamu, jangan lupa itu.
Andai engkau merasa sakit karena perjuangan ini, ingatlah pesan Ustadz Deden untuk para penghafal Quran. Pesan ini untuk setiap pengorbanan yang diniatkan meraih ridhaNya. Tulus. Ingatlah, rasa sakit sebab perjuangan di jalan Allah adalah Surga.
-- ZZ, SNA --

Komentar

  1. MasyaAllah, semoga ini menjadi inspirasi bagi setiap orang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Selalu berbuat baik dan menebar senyum kebaikan
".. Satu hal bahagia adalah ketika melihat senyum orang lain karena kebaikan yang kita lakukan .."
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?