Tidak Pernah Puas

Thomas Alva Edision mengatakan
“Discontent is the first necessity of progress atau dalam bahasa google terjemahan, “Ketidakpuasan adalah kebutuhan pertama dari kemajuan.”

Puas adalah halangan untuk terus bergerak. Tunggu, kita sepakati dulu bahwa pembicaraan kali ini adalah tidak puas dalam hal positif ya manteman 😊. Berangkat dari pendapat Alva, kita telusuri lagi makna tidak puas yang hakiki. Berangkatlah dari ujung kaki hingga mengendap di kepala, diteruskan jadi perbuatan baik, dirasakan dan dinikmati banyak jiwa yang haus mencari.
Sebelum Thomas mampu mengungkapkan pendapatnya, telah lahir seorang lelaki. Sepanjang hidupnya dia memberi contoh tentang tidak berpuas diri. Jejak perjuangan itu melingkupi para wanita dengan hijab dan akhlak mereka yang terjaga, juga memberi para lelaki tugas untuk bertanggung jawab dengan menambah pemahaman agama tiap hari.
Lelaki itu, sosok yang namanya terkenal di langit dan di bumi. Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Beliau mengajak kita sejak lama. Sayyidah Aisyah berkisah tentang suatu malam hening, saat beliau dan sang Baginda Nabi tengah menuju ibadah. Tiba-tiba sang Rasul meminta izin untuk menghadap Rabb-Nya. Selang beberapa waktu terdengar lirih bacaan sholat bercampur air mata. Isak tak bisa tertahan, menghamba adalah caranya menguatkan harapan.
Kita semua lalu tahu, ceritera bengkak kaki sang pengemban amanah itu. Terngiang pula jawabannya ketika ditanya mengapa beliau begitu, "Tidak bolehkah aku jadi hamba yang bersyukur?"
Surga terbaik telah terjamin, tempat terbaik telah disiapkan. Hidup ma'sum dari dosa, diamnya wibawa, bicaranya berisi mutiara, marah dan sedihnya teriringi doa. Apa yang tidak dimilikinya? Sempurna. Tanpa cela.
Kesempurnaan itu tidak membuat beliau berhenti. Tidak pernah puasnya adalah bentuk rasa syukur yang tinggi. Siang hari menyampaikan risalah, malam hari tekun dan khusuk beribadah.
Apa kabar kita?
Surga masih remang-remang, ilmu masih bayang-bayang. Dosa bertambah tiap hari, bicara kadang berduri, marah dan sedih sering jadi ajang menyakiti. Apa yang kita miliki? Sudah begitu, puas sekali dengan ibadah yang masih sedikit ini. Jika Thomas Alva Edision saja sepakat pada sang Nabi, maka kita harus lebih lagi. Terlebih dibulan suci yang tersisa 8 hari ini. Tidak puas hanya dengan dhuha, tidak puas hanya karena tahajjud, tidak lelah mencari dan melakukan pemberat amal dihari hisab nanti.
Tidak putus berdoa meminta diampuni
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
“Ya Allah, Engkau Maha Memberi Maaf dan Engkau suka memberi maaf, karenanya maafkanlah aku.”

Hai kamu, jangan pernah puas beribadah disepertiga akhir Ramadhan ini. Semoga tahun depan kita bertemu lagi.
-- ZZ, NH --

Komentar

Posting Komentar

Selalu berbuat baik dan menebar senyum kebaikan
".. Satu hal bahagia adalah ketika melihat senyum orang lain karena kebaikan yang kita lakukan .."
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?