DUA KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA YANG SERING DILAKUKAN, NOMOR 2 BIKIN KEJANG-KEJANG


Setelah lama bersemedi di bilik merenung, akhirnya saya memutuskan untuk menulis hal ini, saya akan hiatus sejenak dalam menulis hal-hal berbau roman picisan. Tulisan saya kali ini tentang: ada yang sering melakukan kesalahan tapi bukan laki-laki, wkwkwkwk bercanda sayang, yang benar adalah saya akan menulis sesuai dengan apa yang saya sudah tuliskan di judul.

Saya bukan polisi bahasa yang bisa menghakimi kesalahan berbahasa seseorang, tapi saya seseorang yang cukup cinta “Bahasa Indonesia”, bisa dikatakan saya ini pencinta bahasa Indonesia, ingat pencinta bukan pecinta tolong bedakan, tapi sayangnya masih pencinta level cetek sih, ilmunya masih di bawah magma bumi belum mengalahkan Uda kita semua, Uda Ivan Lanin, sang Wikipediawan dan pencinta bahasa Indonesia. Hati saya agak terluka ketika ada orang yang melakukan kesalahan dalam menggunakan bahasa Indonesia. Tidak hanya hati saya, mungkin juga hati WJS. Purwadarminta, sang pengarang KBBI itu juga amat terluka bilamana masih hidup saat ini. Ketika saya menulis ini ada sedikit kekhawatiran, mungkin saja akan ada netijen yang berkomentar begini “menulis tentang kesalahan berbahasa Indonesia tapi kok tulisannya banyak menggunakan kata-kata yang tidak baku”, oke supaya tidak salah paham saya akan memberikan disclaimer dulu ya, bahasa itu banyak ragamnya, salah satunya adalah ragam informal, dan cara saya menulis ini salah satunya, jadi sah-sah saja bila saya menulis dengan ragam yang tidak baku karena ini bukan karya ilmiah dengan segala kekakuannya yang macam kanebo kekurangan air, uhuhuhuhuhu ampun dosbing dan skripsiku. Sudah panjang ya mukaddimahnya jadi kita langsung saja, jangan lupa cuci tangan, dan baca bismillah sebelum membaca.

  1. “Di”
    Saya menaruh “di” diurutan nomer wahid karena penggunaan “di” ini memang langganan kesalahan, bahkan Ivan Lanin pernah berkata dengan tiada unsur litotes sedikit pun, dia berkata bahwa dia hanya bisa mati dengan tenang apabila orang Indonesia sudah bisa menggunakan “di” dengan benar. Kesalahan yang sering terjadi adalah banyak orang yang tidak bisa membedakan kapan “di” dipisah atau “digabung” saat dirangkai dengan kata lain. Lalu bagaimana “di” seharusnya digunakan, sebelum masuk ke penjelasan mari kita perhatikan beberapa gambar di bawah ini.








    Apa kau melihat kesalahan, di mana? (baca nada Dora), iya benar sekali, penggunaan “di” dalam kalimat di atas semuanya salah. Disini, diantara, dan dimana penulisan yang tepat harusnya seperti ini di sini, di antara, dan di mana karena ketiganya menunjukkan tempat. Konsepnya adalah sebagai berikut.

    1. Di berfungsi sebagai imbuhan, namanya aja imbuhan masak mau dipisah-pisah. Contohnya: diriku, dirimu, dirinya.
    2. Di dirangkai dengan kata kerja. Contoh: dianiaya, disakiti, diselingkuhi, dikhianati, diancam, dll.

    Penulisan Di dipisah apabila:

    1. Di berfungsi sebagai kata depan, atau preposisi.
    2. Di diikuti dengan kata selain kata kerja, seperti nama tempat, waktu, nama orang, penunjuk lokasi, dan lain-lain. Contoh: di rumah saya, di saat senja, dll.

  2. “Hiraukan” Versus “Jangan Hiraukan”
    Saya tertarik menulis ini karena dua hari lalu seseorang meminta saya menjawab perbedaan penggunaan kata itu di Quora, padahal apalah saya yang hanya butiran abu gosok ini, mungkin dia bertanya kepada saya karena saya mencantumkan latar belakang pendidikan saya, ya bisa saja. Baik saja akan menulis perbedaan “Hiraukan” dan “Jangan hiraukan” disini. Mungkin masih banyak yang salah kaprah bagaimana menggunakan kata “Hiraukan”. Banyak yang beranggapan bahwa “Hiraukan” artinya mengabaikan, padahal tidak Jubaedah. “Hiraukan” sebenarnya tidak terdaftar dalam KBBI, yang ada adalah “Hirau” dan “Menghiraukan”, mungkin kata “Hiraukan” terlahir dari adaptasi dan mimesis dari para penikmat sastra saat membaca karya sastra. “Menghiraukan” dalam KBBI artinya memedulikan; mengacuhkan; mengindahkan; memperhatikan. Kalau dirangkai dengan kata “Jangan” maka artinya “jangan pedulikan”, biasanya orang menyamakan makna “hiraukan” dan “jangan hiraukan” padahal keduanya memiliki makna yang berlawanan. Mari kita lihat beberapa kalimat motivasi di bawah ini, silakan nilai sendiri mana yang benar dan mana yang salah.








Bagaimana? Apa ada yang kejang-kejang karena sering tidak menghiraukan makna hiraukan?, wkwkwkwkw. Sebenarnya banyak sekali kesalahan yang ingin saya tuliskan untuk kita pelajari bersama, tetapi saya tuliskan saja yang akhir-akhir ini banyak membuat pencinta bahasa Indonesia jengkel dan geram.

Menggunakan bahasa tidak boleh berpikir yang penting lawan bicara paham, tapi kita juga perlu menggunakannya dengan bijak untuk menguatkan identitas bangsa kita, identitas bahasa yang kuat menunjukkan bangsa yang kuat.
*semua gambar bersumber dari google
-- Imbet, I2 --

Komentar