[I'm Not Okay] Sudah Sampai Mana Menata Hati?
Percaya saja setelah ada hujan ada pelangi. Jangan kehilangan diri sendiri karena Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.
Waktu terus bersilih berganti. Baru saja nyaman dengan pagi, sudah berganti dengan siang. Mau menunda sebentar lagi eh udah malam. Begitulah semua sudah disetting oleh Tuhan. Tapi tidak semua kita bisa mengikuti alur waktu, kadang masih saja enak dengan rasa luka yang mendalam. Entah karena dendam kesumat yang tidak bisa tersalurkan, benci yang menggerogoti untuk tidak saling mengenal, marah yang kadang membuat hilang akal, kecewa yang membuat jatuh menangis tersedu-tersedu atau sedih yang tak kunjung berlalu. Katanya kita hidup dimasa sekarang hanya perlu menjadikan masa lalu sebagai pelajaran dan masa depan sebagai proses panjang yang harus diperjuangkan. Lagi-lagi masih ada yang terbayang dengan masa lalu yang tak pernah padam. Perasaaan negatif tadi mengalir tak pernah habisnya, seperti air di laut yang tak dapat dikuras.
Tertawa bukan berarti tak ada beban, menuliskan pesan cinta juga bukan berarti akan setia. Benar setiap orang memiliki masalah yang dipikul. Mungkin ini sedikit sensitif untuk dibahas, bahkan cenderung menutupi. Tapi ayo mengubah peresepsi siapa tau kita bisa menyatu.
. . .
"Pecahkan saja piringnya biar semua orang dengar".
. . .
Wah pertikaian dunia orang dewasa selalu menjadi pilu bagi yang merasakan dampaknya. TIDAK HARMONIS, ini label yang sunguh ditakuti oleh sebuah keluarga. Apakah ada? Banyak, bukan hanya satu atau dua. Seringkali dari permasalahan ini merembes kemana-mana. Tadinya tidak ingin dibocorkan, tapi dampaknya terlalu tak bisa terhindarkan. Membuat semuanya terlihat jelas walau tak diungkapkan.
. . .
"Hanya ada satu lelaki yang ingin kunikahi walaupun sudah dipatahkan berkali-kali"
. . .
Menjalin sebuah hubungan mengubah dua insan yang tak pernah menyapa, saling menanyakan. Menghiasi dunia yang katanya milik berdua. Tak tau darimana datangnya bunga-bunga bermekeran di hati. Tapi ia mengering setelah berjalan untuk saling berjauhan. Katanya tak mencintai lagi. Namun melihat dengan yang baru, mengiris hati tapi relung rindu masih berkata membutuhkan. Sungguh ekspektasi menjatuhkan.
. . .
"Kehilangan sosok berharga selamanya membuat diri kita lupa berharganya kita"
. . .
Dia malaikat bagiku, dia rembulan yang menyinari siang dan malam, *eaaaa. Namun kami terpisahkan oleh maut yang tak pernah ingin menunggu walau sekian detik. Kini aku sendirian. Kehilangan arah dan lupa siapa aku sebenarnya. Ini hanya serpihan kecil dari masalah yang akhirnya menimbulkan luka mendalam. Depresi berkelanjutan, membuat kasus terus berkeliaran dan bermunculan. Jika ditanya lagi maka yang dipersalahkan adalah keadaan.
. . .
"Aku hamil gara-gara pacaran soalnya kurang kasih sayang"
. . .
"Aku tidur dengan lelaki hidung belang biar gak ketularan miskin seperti keluargaku"
. . .
"Aku pakai narkoba hanya ingin mendapatkan rasa tenang dari gelapnya pertikaian"
. . .
"Aku selingkuh soalnya ayah ninggalin ibu, jadi wajar isi wa ku seperti asrama wanita"
. . .
"Aku memasuki dunia malam, soalnya hanya sendirian, cari teman disana dengan sebotol minuman dan wanita pilihan"
. . .
Terdengar menjijikan? Inilah kebenaran yang terjadi. Ada di sekitar kita? Banyak. Kadang kita menyeret luka-luka tersebut untuk menutupi kesalahan kita sendiri. Kesalahan setelah diberikan pilihan untuk berdamai dengan cara seperti apa. Setiap ada masalah kadang kita ingin kembali menjadi si kecil putih bersih yang menangis lalu terisi makanan. Bukankah hidup mengisyaratkan untuk terus bertumbuh?. Lalu kenapa kita mati rasa dengan luka yang mendalam. Seolah-olah dunia terasa mencekik dan teriak sendirian di ruang hampa. Coba berpikir sejenak dengan akal yang masih sehat berdamai atau berdalih. Alih-alih jadi nakal, fakboy, playgirl, dan kasus lainnya bukan karena kurang micin tapi ini pilihan.
Duh sudah dibilang ini bukan segampang teori berdamai dengan keadaan. Berat! Sangat berat! Membutuhkan waktu lama, semua butuh proses. Pada proses tersebut kadang ditambah bumbu agar kita bisa berbelok arah. Menjadi baik memang susah. Terlihat sok baik saja masih sering diperdebatkan. Sudah, sudah ini bukan tulisan ngajak tawuran.
Jika terus bersandar kepada kemampuan manusia tak kan pernah mampu terjawabkan. Mungkin hanya mengolesi luka tersebut. Sudah tau seharusnya bersandar kepada siapa? Benar yang tak pernah meninggalkanmu sendirian walaupun berlumur kesalahan. Hanya perlu merangkak untuk mendekati-Nya. Kadang kita saja yang tak sabaran untuk meninggalkan sesuatu yang 'salah'. Sudah tau hukumnya namun alibi lebih kuat. Hati-hati dengan hati. Jika dia mengeras apakah kamu sanggup untuk berlari kepada-Nya. Masih merangkak saja kadang kita enggan. Persetan dengan luka dan masa lalu. Kita hanya perlu membasuh muka, mengelatkan sajadah dan menangis lalu berkata I'm not okay. Seperti pepatah lama, bersyukur dulu baru bahagia bukan sebaliknya bahagia baru bersyukur. Syukuri masalah yang menghampirimu saat ini, selamat kamu sedang naik tingkat untuk tetap waras. Jika kamu menganggap sangat berat, bukankah kamu hebat, Tuhan memberikan masalah sesuai kadar kemampuan bukan?. Benar kamu bisa membuat pilihan yang tepat. Tuhan menunggumu, untuk kembali menata hati, apakah kamu sudah bersiap?
#THANKYOUI’MSTILLLEARNING

Dalam banget min 😢
BalasHapus