Toxic Parents ? #1

Hot chocolate yang kini sudah tidak lagi megeluarkan asap tipis menandakan si empunya, alias aku, sudah terlalu lama berkuat dengan pikiranku dan hot chocolate itu menjadi saksi bisu bahwa pikiran si empunya itu sedari tadi sedang tak disana bersama raganya. Sampai suara ketukan pintu itu terdengar seperti sebuah gumpalan awan yang kemudian pecah lalu berhamburan terbang, pikiranku buyar.

Sea! Sudah lewat jam sepuluh, ayo, tidur kalau nggak kualitas tidur kamu ngak akan bagus karena kurang dari delapan jam”.

Guys, meet my Mom, my single parent Mom, yang baru saja menerobos masuk. Meskipun sudah ketuk pintu, tapi tetap saja aku belum mempersilahkannya masuk.

Hey, go go go waktu nggak akan berhenti buat nungguin kamu gosok gigi, cuci kaki, cuci muka, dan pergi tidur”, cercahnya lagi dan seperti biasa dengan alis dan jidat berkerut.

Aku menggeliat sambil mengeluarkan suara malas. “Aye, captain!”, aku bangkit dari kursi ter-pewe-ku, memeluk pundak Bunda rewelku sambil mendorongnya halus untuk keluar dari kamar. “Aku mau tidur sekarang, Bunda juga harus pergi tidur supaya punya kualitas tidur delapan jam yang baik, okay?”, tanpa mau mendengar jawaban atau celotehan wejangan lagi, aku menutup pintu kamarku. Jangan berani-beraninya bilang aku ini anak nggak beradab gara-gara kejadian tadi, ya! Ini semua karena suara hujan di luar sana dan suasan dingin yang menyeruak membangkitkan sisi melankolis ku tentang banyak hal— yang sejak beberapa tahun lalu aku namai ‘keparat’. Prediksi ramalan cuaca di handphone-ku bilang malam ini hanya akan berawan bukan hujan lebat bersama angin dan petir seperti sekarang, siapa sih yang mengatur? Tolong katakan padanya untuk memperbaiki sistem ramalan cuacanya sekarang juga.

Garis kecil yang terus menerus hilang muncul di atas page layout putih di layar komputerku seolah berteriak, “Hey, ayo mulai mengetik, tugasmu menumpuk!”, dibayanganku monitor itu sekarang memiliki raut masam tapi, terserah, bodoamat, nggak peduli. Aku naik ke tempat tidur ku, berbaring memunggungi komputer dengan tampilan garis kecil hilang muncul itu, memasang headphone dan hey, Siri, please play The Final Countdown-nya Europe with full volume.

Kalian tau, harapanku atau mari sebut itu cita-citaku sebelum aku mati selain menciptakan galeri seniku sendiri yaitu, bisa menonton konser Westlife full team— yang ku maksud full team disini dengan Bryan McFadden di dalamnya— dan selang mereka menyanyikan album-albumnya ada juga penampilan Stevie Wonder dengan I Just Called To Say I Love You-nya, Richard Marx dengan Right Here Waiting-nya, Bryan Adams dengan Summer of ’69-nya, George Benson dengan Nothing Gonna Change My Love For You-nya dan Phill Chollins dengan In The Air Tonight-nya —yang kata orang-orang the iconic 80s song dan aku setuju. Daftar penyanyi tambahannya akan berubah sesuai mood-ku, tapi band pembukanya tetap harus Europe band dengan The Final Countdown-nya. Joey Tempest menciptakan lagu itu dan teringat buku tentang konflik dan penjelajahan yang pernah dilakukan bangsa Viking tapi, lagu ini justru mengingatkanku pada buku “The Little Prince” karya Antonie de Saint-ExupĂ©ry tentang si pangeran kecil yang hidup sendiri di Asteroid kecil alias planetnya bersama bunga mawarnya dan ada si tokoh kecil yang tumbuh dewasa menjadi pilot yang suatu hari terdampar di planet milik si Little Prince.

Here I’m, in my room, stuck in my mind and shit reality. Lantunan megah dari lagu The Final Countdown seperti pemecah belenggu, semakin aku terhanyut, mencerna dan memahami mau dari syairnya, ada bagian dari dalam diriku merongrong minta kebebasan. Aku tau kebebasan itu memiliki resiko besar yang menjatuhkan seperti yang Bunda selalu bilang, tapi aku juga tidak bisa berbohong kalau aku melihat harapan di dalamnya. Harapanku, milikku.

Pernahkah kalian bertanya pada diri kalian sendiri— diri kalian yang sebenar-benarnya. Harapan hidup dan cita-cita siapa yang saat ini sedang kalian jalankan saat ini? Harapan hidup dan cita-cita kalian sendiri? Atau milik orang tua kalian? Ayah? Bunda? atau siapa?

“Pagi, Bunda!”

“Pagi, sayang, sarapan dulu dan itu bekalnya, masukan langsung ke dalam tas supaya nggak ketinggalan lagi.”

That’s my Bunda, selalu memastikan anak satu-satunya ini makan empat sehat lima sempurna yang hygine dan terjamin. Bukan cuma soal makanan, tapi segalanya, Bunda selalu memastikan aku dapat yang semua yang terbaik tanpa harus merasakan sakitnya jatuh, kecewa karena hasil tak sebanding usaha ataupun menangis karena gagal. Semuanya dirancang Bunda agar tetap menjadi sempurna meskipun, sekarang tanpa Ayah. Sesekali aku berpikir, sejak Ayah pergi meninggalkan kami —please, jangan tanya kemana Ayah pergi, yang jelas dia meninggalkan kami, benar-benar meninggalkan kami— rasanya aku bisa tetap hidup sempurna tanpa cacat meski tanpa Ayah, tapi entah bagaimana tanpa Bunda.

Dulu Bundaku itu banker kece yang super sibuk, tetapi tetap punya waktu untuk keluarganya. Setelah Ayah pergi, Bunda mengajukan surat pengunduran diri dan memilih jadi pengusaha kuliner a.k.a business mom —yang pastinya tetap kece— kata Bunda, supaya dia bisa punya lebih banyak waktu untuk aku. Aku nggak tau apa kurangnya Bunda sampai Ayah harus pergi, but that him choice semua orang punya pilihan meskipun beresiko dan egois.

“Aku sudah beres sarapan”, aku bangkit dari kursiku dan menghampiri Bunda untuk memeluknya sebentar, “aku berangkat, Bunda”.

Okay, pulang tepat waktu, ya!”, teriaknya karena aku sudah berlalu pergi.

Bersambung . . .

-- SNA, I2 --

Komentar