Maaf dari Saya

Aku pernah bercakap di bawah langit Agustus saat malam tiba. Ditemani ribuan bintang yang semesta sisihkan untuk tata surya. Berbicara tentang gemerlapnya dunia, yang kerap kali membuat kita buta.

Pertanyaanku masih tetap sama. Bagaimana cara jatuh cinta. Karena panjangnya tahun hingga dua puluh satu pun aku masih belum bergetar menatap netra keduanya. Karena hingga matahari kian memanas pun aku belum bisa meneteskan air mata karenanya.

Sungguh, tak sepantasnya aku berulang menatap mereka, bersamaan dengan hati yang kosong tanpa kasih yang tak ku pilih. Begitu tega rasanya jika setiap pagi menjelang, suara lemah penuh harap dan do’a itu tak ku sambut dengan tenang.

Entah kenapa, aliran darah yang mengikat kita tak menggetarkan jiwa yang kini meronta.

Kerap kali aku menoleh iri pada sekitar. Pada mereka yang begitu jatuh cinta. Pada mereka yang setiap hari mengangkat telefon dari keduanya. Pada mereka yang air mukanya berubah ceria ketika melihat layar yang tertuliskan namanya.

Lalu aku, setiap senja mengantarkanku pulang, mataku kosong menatap pagar rumah di ujung jalan sana. Kenapa?

Lalu aku, setiap fajar mengantarkanku pergi, hatiku kosong seakan tak peduli saat mengubah arah untuk berlari. Kenapa?

Mungkin saja, aku terlalu menutup diri, menulikan diri dari suara asing selain kata hati. Atau mungkin saja, aku sudah terlalu tidak peduli.

Barangkali, aku butuh mendamaikan diri. Belajar berkomunikasi lagi, seperti aku belajar mengurung diri. Belajar mencintai, sekalipun rasa peduli belum tumbuh walau se-senti. Jangan sampai aku menyesal, sebab salah meletakkan tempat mana yang menjadi muara atensi dan cinta kasih.

Malam itu aku melihat galaksi, bima sakti. Malam itu aku berjanji, untuk mulai belajar mencintai. Malam itu, semesta membuat hatiku bernarasi;

Untuk manusia pilihan Tuhan yang ku anggap malaikat tanpa sayap. Jika ada kata yang lebih tinggi dari kata maaf, akan ku ucapkan. Sebagai gantinya, maaf akan selalu ku ucap setiap kali kita bercakap. Maaf sebab belum bisa jatuh cinta pada kalian berdua. Maaf karena hatiku kosong tanpa gema. Maaf karena aku-anakmu-hanya bisa merapal harap yang tak kunjung bertemu usaha. Maaf..

Maaf sebab belum bisa memeluk saat dingin tengah malam mengetuk. Maaf sebab belum bisa menimpali saat cerita pagi hingga sore kau ulangi. Maaf karena aku belum bisa fasih berbicara ketika bersama, layaknya anak kecil usia balita. Maaf karena aku belum bisa sempurna, sesempurna kasih dan do’a saat malam tiba.

Untuk ibu, untuk ayah. Maaf dari saya. Manusia yang kalian cinta tanpa melihat rupa.
-- I2, NH --

Komentar

  1. Semangat terus yah blog kebaikan. Jangan patah untuk menginspirasi

    BalasHapus
  2. 😢😢😢

    BalasHapus

Posting Komentar

Selalu berbuat baik dan menebar senyum kebaikan
".. Satu hal bahagia adalah ketika melihat senyum orang lain karena kebaikan yang kita lakukan .."
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?