Menyandingkan “Cuma” dan “Doang” dalam Sebuah Kalimat Adalah Bentuk Pemubaziran Tak Termaafkan

Sejauh mata memandang dan sejauh telinga mendengar, “Cuma” dan “Doang” kerap hadir bersamaan, bersanding tanpa restu kaidah kebahasaan dalam sebuah kalimat. Betapa sering kita mendengar atau bahkan mengeluarkan kalimat seperti ini “Cuma gitu doang mah gampang!”, kita melontarkan kata-kata itu dengan sangat ringan, kayak gak lagi ngelakuin kesalahan apa-apa, ayo ngaku saja!. Saya sadar betul dalam percakapan sehari-hari menyandingkan “Cuma” dan “Doang” nikmatnya kayak gibahin tetangga sebelah, astagfirullah, becanda sayang. Saking nikmatnya menyandingkan “Cuma” dan “Doang” saya berani bilang kalau hampir semua orang Indonesia pernah menyandingkan keduanya baik secara sadar maupun tidak sadar, karena alasan itu tadi, nikmat dan mantap rasanya bilang begini “Cuma kamu doang yang ada di hati aku”, apalagi kalau sedikit dipoles dengan kebohongan, sensasinya beda, adrenalin terpacu kencang. Akan tetapi kenapa ya semua yang mantap-mantap itu yang dilarang?

Sudah menjadi tradisi sejak zaman yang tak diketahui, tetapi satu hal yang pasti, kedua kata yang akan saya kisahkan ini sudah lama digunakan sehari-hari, adalah “Cuma” dan “Doang”, dua kata yang selalu disandingkan secara tidak berperikebahasaan dan berperikemanusiaan. Betapa tidak berperikemanusiaan, para pemikir cemerlang yang sudah lama di alam sana membentuk bahasa Indonesia dengan sebaik-baiknya pemikiran, tetapi oknum yang meremehkan dan tidak mau belajar, menggunakan kedua kata ini secara sembarangan. Tidak apa-apa bila tidak tahu, tapi akan menjadi apa-apa kalau tidak mau cari tahu. Nggak ada akhlak emang orang yang tidak mau belajar.

Jutaan netijen Indonesia tidak menyadari kalau “Cuma” dan “Doang” artinya sama, walaupun linguis berkata bahwa tidak ada dua buah kata yang memiliki arti yang benar-benar sama. Akan tetapi untuk membuatnya tidak ribet dan bertele-tele saya langsung saja mengatakan kalau artinya sama. Karena “Cuma” dan “Doang” itu sejenis, maka mereka tidak bisa bersanding dalam sebuah kalimat karena akan terjadi pemubaziran bahasa yang tak termafaakan, titik, no debat!.

Kepada seluruh kisanakku dari segala penjuru tanah air, di dalam bahasa nasional kita yang Ibundanya berasal dari bahasa Melayu ini, kata “Hanya” memiliki tiga sekutu yang bisa mewakilkannya jika Anda sudah bosan dengan kata “Hanya”, apalagi dengan kata “Hanya” dalam kalimat “Hanya kamu” yang keluar dari mulut buaya darat, eh busetdah. Siapa tiga sekutu “Hanya”? merekalah “Cuman”, “Cuma”, dan “Doang”. Meski bersekutu mereka sama sekali tidak bisa disandingkan. Mereka bekerjasama untuk saling menggantikan, tetapi mereka tidak bisa bekerjasama dalam sebuah kalimat. “Cuman”, “Cuma”, dan “Doang” sama-sama berarti “hanya”, mereka semua terjalin berkelindan satu sama lain. Lebih lengkapnya saya akan memapakarkan definisinya menurut KBBI. “Cuma” artinya hanya; tidak ada yang lain, “Cuman” artinya hanya, dan “Doang” artinya hanya; saja. Bagaimana, sangat mirip bukan?

Saya memberi apresiasi kepada grup band “Hello” yang telah menyanyikan hanya dan Cuma tanpa disandingkan dengan “Doang”. Siapa yang masih ingat lagu yang berjudul “Seribu Bintang”?. Dalam salah satu liriknya, “Hanya” dan “Cuma” digunakan sebagaimana mestinya. Begini liriknya, “Cuma kamu, ya hanya kamu yang selalu ada untukku”. Anak duaribuan tau gak ya lagu ini, ah sudahlah kayaknya cuma penyintas cibut kelahiran sembilanpuluhan yang tau.

Ada hal yang menarik, meskipun “Cuma”, “Cuman”, dan “Doang” memiliki makna yang sama, tetapi khusus untuk kata “Doang”, dia tidak bisa berada di awal kalimat. Kata “Doang” bisa menempati posisi tengah dan akhir. Kira-kira kenapa hal ini bisa terjadi? Padahal “Doang” kan berarti hanya juga. Nah di sinilah berlaku teori bahwa kata yang bersinonim tidak pernah benar-benar sama maknanya. Perlu diingat bahwa selain “Hanya”. “Doang” juga berarti saja. Sebagaimana kebiasaan kata “Saja” yang juga tidak pernah bisa menempati posisi awal kalimat, “Doang” pun demikian. Kalau ada yang bertanya lagi kok bisa “Doang” dan “Saja” tidak bisa berada di awal kalimat, saya akan jawab dengan jawaban andalan ini “Sudah seperti itulah dari sananya”, maaf ya mengecewakan. Lalu sebaliknya “Cuman”, “Cuma”, dan “Hanya” hanya bisa berada di awal dan di tengah kalimat. Pengecualian jika kata-kata itu digunakan oleh sastrawan dalam membuat puisi atau sajak, maka sangat dilegalkan untuk menggunakannya di posisi mana saja demi kebutuhan estetika dan transfer rasa. Para sastrawan boleh melakukan itu karena mereka berlindung di bawah licentia puitica.

-- Imbet --

Komentar