Toxic Parents ? #2
Ini tahun pertama dan semester keduaku menjadi mahasiswi disalah satu universitas terbaik di kotaku yang sudah jadi sasaran Bunda sejak aku SMP, kata Bunda, belajar di universitas berakreditasi baik akan berpengaruh baik terhadap perjalanan cita-citaku. Ribet, is my first impression soal jurusan yang sekarang ku tekuni. Kedokteran. Salah satu jurusan yang paling digilai banyak orang tua, termasuk Bundaku dan katanya juga jurusan idaman mertua. But for you guys information, sejak 19 tahun yang lalu aku dilahirkan ke dunia sampai sekarang I’m offically 19, nggak pernah sekalipun terlintas dipikiranku untuk menjalankan profesi mulia penyelamat banyak orang itu. Bukan karena aku nggak suka, it’s just not my passion.
Aku hanya suka seni, terutama melukis. Sedari kecil waktu luang yang ada aku habiskan dengan melukis. Aku masih ingat lukisan pertamaku adalah Putri Odette dalam film Barbie of Swan Lake, yang kalauku lihat lagi pada usia saat ini itu menyeramkan, Odette pasti merasa terhina karena muka cantiknya ku lukis lebih mirip Babayaga si penyihir berhindung bengkok di dongeng anak-anak dibanding putri angsa yang cantik. Tapi, oleh Ayah lukisan pertamaku itu diberikan apresiasi besar hingga dipajang di ruang keluarga dan dengan bangganya akan diperkenalkan pada setiap orang yang melihat, “Ini lukisan pertama Sea”, Ayah selalu mengatakan kalimat itu sebagai pembukaannya untuk membicarakan hobi dan karya-karya absurd lainnya yang ku hasilkan.
Sejak kecil jika teman-teman Bunda ataupun Ayah melihat ku melukis pertanyaan yang selalu ku dengar adalah, “Wah, Sea, kamu gedenya mau jadi seniman hebat, ya?” yang lalu akan dijawab oleh Bundaku dengan, “Sea mau jadi dokter seperti Ayahnya” dan aku hanya bisa merem melek sambil tersenyum kikuk mendengar jawaban Bunda. Setiap Bunda berkata seperti itu, aku rasanya memahami bagaimana perasaan si pilot kecil dalam buku “The Little Prince” saat dimana orang dewasa menyuruhnya berhenti untuk menggambar tapi belajar hal lain seperti geografi, aritmetika, geometri dan lain-lain. Aku nggak bisa mengutarakan bagaimana rasanya, yang ku tau dadaku berdenyut nyeri sekali.
Ayahku dokter bedah keren yang selalu menghasilkan puluhan bahkan ratusan juta setiap bulannya. Bunda selalu menjadi support system utamaku supaya bisa jadi seperti Ayah dan menjadi dokter empat generasi dalam keluarga, karena kakek dan kakek buyutku dulunya juga dokter. Kata Bunda, kalau jadi dokter hidupku bisa terjamin dan sukses seperti Ayah, makanya Bunda selalu berjuang habis-habisan menuntun dan memperjuangkan berbagai cara untuk membuka jalanku menjadi dokter di masa depan tanpa ada krikil penghalang.
Aku sedang memperjuangkan harapan Bunda yang juga untuk kebaikanku. Tapi, terkadang aku takut akan harapan yang Bunda taruh di pundakku saat ini. Bagaimana jika aku gagal? Aku takut nggak bisa jadi seperti harapan Bunda dan membuat Bunda sedih, aku takut perjuangan Bunda untukku sia-sia. Tapi, disisi lain aku juga punya harapan yang aku mau. Tapi aku juga takut Bunda benar kalau harapan yang aku mau nggak bisa menuntunku sukses dan menghasilkan banyak uang sehingga aku nggak bisa memanjakan Bunda di masa tuanya. Tapi paling tidak satu hal yang aku tau, aku akan bahagia melakukannya meski tanpa uang banyak. Hanya aku entah bagaimana Bunda.
“Sea Sea Sea!!!”
Aku menoleh ketika salah satu atau mari sebut satu-satunya teman teman terdekatku meneriaki namaku di tengah kerumunan orang tanpa tau malu. Aku melambaikan tanganku dan memintanya menghampiriku. Suri, teman anehku itu penggila Bob Marley garis keras, aku bahkan curiga kalau dia sebenarnya penganut Rastafari di belakang semua orang. Di balik earphone yang menggantuk di telinganya itu aku yakin lagu yang berputar adalah One Love-nya Bob Marley feat the Wailers, aku berani taruhan.
“One love, one heart, let’s together and feel all right”
Oh my Goddes, look!!! Bagaimana Suri menyanyikan lagu itu dengan wajah menjengkelkan dan goyangan badan menggelikan khasnya. Ingin ku jambak rasanya rambut ikalnya itu, tapi aku nggak bermain sekasar itu, okay.
“Sea, you know what, aku semangat sekali hari ini, memikirkan kalau sekarang sudah masuk minggu-minggu terakhir kita di semester perbudakan ini, ahhhh, aku nggak sabar libur panjang ” celotehnya sambil menarik lenganku untuk duduk di kursi taman kampus, “Aku cuma tidur tiga jam tadi malam, aku nggak habis pikir kenapa Kurt Cobain bisa bunuh diri di tengah karirnya yang lagi super melejit, maksudku, dia dan band-nya Nirvana baru aja ngasih perubahan besar dalam musik pop, dari glam metal, arena rock, dan dance-pop menjadi grunge dan rock alternatif, it’s BOOM! Pencapaian besar sekali, tapi kenapa? Give me your conspiracy theory!”.
Aku hanya bisa menatap Suri nggak percaya, aku bahkan sudah melupakan semua konspirasi teori tentang Kurt Cobain, maksudku topik itu, Kurt Cobain, Brian Jones, Jimi Hendrix, Emy One House atau bahkan Marilyn Monroe sekalipun sudah terlalu kuno untuk digali lagi. Suri memang paling juara membuatku geleng-geleng kepala. Setelah dua hari lalu dia menelponku tengah malam karena membaca buku penelitian dr. Sosro Husodo tahun 1960an tentang konspirasi Adolf Hitler yang menjadi dokter di Sumbawa Besar. Holy shit!
“Apa karena bukan itu yang dia mau? Gini, dia dapat ketenaran dan uang banyak bahkan cinta dari banyak orang, tapi karna bukan hidup itu yang dia mau, who knows, dia tetap nggak bisa menikmati hidupnya, psikologisnya tertekan, stressed out, down, dan dia memilih mati” wajahnya semakin serius sampai aku merasa terintimidasi. Wow! “I mean, money, glory and popularity can’t buy your happiness, so, you know, menyedihkan” Suri menutup matanya dalam, syarat hal yang dia katakan tadi merupakan hal menakutkan.
Aku merasa kalimat tadi menyerang suatu sisi dalam diriku, “Dia depresi tapi belum tentu karena nggak menikmati karirnya, become glory is him life goals, lagipula money memang can’t buy your happiness tapi money can support your happiness” rasanya aku mengatakan itu untuk menenangkan diriku, entah kenapa, aku gampang sekali down belakangan ini.
“Okay, itu karir yang dia tapi kenapa dia masih bisa depresi padahal dia ngejalanin yang dia mau, pasti karena ada yang kosong dalam dirinya, wah, apalagi orang yang ngejalanin hal yang nggak mereka mau, damn it! Nggak kebayang, dan soal bunuh dirinya Avicii juga---”
“Okay, let’s stop talk about it”, aku memotong kalimat Suri cepat sebelum pemikirannya semakin menggila, demi Neptunus! Kenapa dia memilih jadi dokter dengan otak dipenuhi pemikiran konspirasi seperti itu. “Bukannya kita harus belajar untuk ujian minggu depan?”, aku mencoba mengalihkan perhatiannya.
“Ah, iya, aku harus dapat beasiswa penuh lagi semester depan kalau engga, fix, Ibu dan Bapakku bakal langsung nikahin aku sama si anak yang punya sawah dan kebun terluas di kampung tanpa ngasi kesempatan untuk aku jadi dokter dulu sebelum nikah”. Dia bangkit dari kursinya, “Ayo, hidup ini terlalu keras untuk diajak santai, sial”. Suri terdiam sebentar sebelum akhirnya mengucapkan mantra ajaibnya, “It’s okay, everything is irie” .
Irie, istilah penting dalam bahasa rastafarian dan biasa digunakan orang Jamaika yang memberikan makna semua baik-baik saja. Kata yang selalu Suri ucapkan untuk menenangkan diri dan semestanya and thanks God, that positive vibes menular padaku.

Komentar
Posting Komentar
Selalu berbuat baik dan menebar senyum kebaikan
".. Satu hal bahagia adalah ketika melihat senyum orang lain karena kebaikan yang kita lakukan .."
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?