Toxic Parents ? #3
Aku melempar tasku sembarang dan membanting diri ke kasur. Minggu depan ujian akhir semester dan rasanya niat belajarku berada pada titik nol persen. Ini baru permulaan, pembelajarannya tidak sesulit itu, sungguh, lagipula aku tidak sebodoh itu dalam belajar tapi, aku hanya sedikit muak, itu terlalu kasar harap maklum it’s my day one of pms and I feel too sensitif for everything. Okay, mari refreshing sebentar. Aku mengambil kanvas, kuas dan cat lukisku, demi Tuhan, sebentar saja setelahnya 48 jam di weekend-ku akan kugunakan untuk belajar, janji.
“Ujian kamu dua hari lagi, Sea, ini bukan waktu yang tepat untuk melukis”.
Aku tersentak karena Bunda yang tiba-tiba masuk tanpa ketuk pintu dulu, aku membuang nafas kasar menahan sesuatu dalam diriku yang rasanya akan meledak sekarang juga “Sebentar aja Bunda, aku butuh refreshing sebelum ujian”, rengekku pelan.
Bunda duduk di sampingku dan membelai lembut rambutku, “Refreshing setelah ujian ya, harus bertempur dan berjuang dulu dong supaya hasil akhirnya maksimal dan bisa jauh lebih baik dari yang kemarin”.
“IPK-ku yang kemarinkan sudah cukup baik, Bunda”
Bunda mengangguk dan tersenyum kecil, “Tapi harus lebih baik lagi, supaya kamu bisa jadi dokter hebat di masa depan. Anak Bunda nggak boleh gagal”.
Aku tersenyum kecil mendengar kalimat “tidak boleh gagal”, ya, aku tidak pernah benar-benar gagal dan kecewa semua karena Bunda. Aku pernah gagal masuk sekolah yang favorit yang aku mau dan tentunya merupakan sekolah pilihan Bunda juga, saat itu aku jelas-jelas melihat bahwa aku gagal di website pengumuman (private) tapi, entah kenapa namaku bisa masuk ke dalam daftar siswi di sekolah itu. Wah, Bunda pasti bekerja keras untuk itu. Tapi demi Tuhan mungkin aku akan langsung gila jika besok Bunda tiada, aku sendiri, dan untuk pertama kalinya aku benar-benar gagal.
“Tapi aku nggak pernah bilang mau jadi dokter”. Suaraku pelan, pelan sekali. Aku menoleh dan menemukan wajah terkejut Bunda karena mendengar ucapan ku tadi.
“Sea, jadi seniman nggak akan bisa jamin masa depan kamu, jadi seniman nggak ngasih kepastian untuk masa depan kamu”, aku hendak menyela, tapi Bunda menggenggam tanganku dan memberi isyarat kalau aku harus mendengarkan Bunda dulu. “Banyak seniman yang Bunda kenal dan hidupnya hanya gitu-gitu aja bahkan banyak dari mereka jadi pedagang keliling untuk menjual hasil lukisannya”, tangan Bunda membelai lembut kedua pipiku, “Bunda nggak mau kamu hidup seperti itu, anak Bunda harus punya kehidupan yang pasti dan menjanjikan”. Bunda kembali menggenggam tanganku dan menatapku dengan penuh harap, “tolong bertahan sedikit lagi, jangan menyerah, Bunda juga sedang berusaha siang malam untuk menyongsong segala kebutuhan kamu selama berjuang untuk masa depan kamu sekarang, jangan kecewakan Bunda, ya? Kamu nggak mau buat semua usaha Bunda sia-sia, kan? Tolong bertahan sebentar lagi, ya?”.
“Bunda, nggak semua seniman seperti itu, aku ingin punya galeri seniku sendiri, aku ingin menciptkan pameran seni yang akan membuat banyak orang takjub termasuk Bunda, ketika aku memilih jadi seniman mungkin nggak akan menghasilkan uang sebanyak aku memilih jadi dokter tapi paling nggak aku bahagia Bunda, aku bekerja sambil melakukan apa yang aku suka”. Aku tau ini sudah terlambat untuk berkata “aku nggak mau” setelah semua hal yang telah matang dipersiapkan Bunda.
“Itu bisa jadi sampingan kamu, kan? Harapan terbesar yang bisa menjamin hidup kamu utamanya”.
“Itu harapan Bunda, sedari awal semua harapan Bunda, aku hidup untuk mimpi Bunda bukan mimpi dan harapanku!”, tanpa sadar aku berteriak terlalu kencang pada Bunda. Bunda menampakkan raut terkejut dan tidak percaya, aku nggak pernah seperti ini sebelumnya. Aku pasti sudah menyakiti hati Bunda.
Aku berlari keluar dari kamar mencari Pak Amir, supirku, meninggalkan Bunda sendiri tanpa pamit. Setelah teriakkan ku tadi, aku tidak tau harus berkata apa. Energiku dan bunda saat ini sedang terlalu negatif dan akan tidak baik jika bersama. Aku butuh seseorang dengan energi positif untuk menenangkan ku saat ini.
Di sini aku, di kamar kos Suri. Sejak hampir 30 menit yang lalu aku memutuskan untuk mencari pelarian ke kamar kosnya tak ada sepatah katapun yang aku ucapkan untuk bercerita. One of the reason why aku sangat menyukai Suri menjadi temanku, dia teman yang peka terhadap perasaanku, saat dia membukakan pintu untukku tadi aku yakin dia sadar rautku sedang kacau sekali hingga tidak ada pertanyaan “kenapa?” atau “ada apa”, dia hanya merangkulku membuatkanku cokelat panas dan berkata “cerita kalau kamu uda mau cerita, ya”.
Big thanks to cokelat panas yang langsung merangsang endorphin dalam otakku dan terima kasih kepada kandungan serotonin dan antidepresan dalam cokelat yang bisa langsung membuat moodku sedikit membaik, setidaknya 50% hingga aku siap membagi ceritaku sekarang.
Aku menceritakan semuanya pada Suri. Ini pertama kalinya aku bercerita pada orang. “Kenapa kamu baru marah sekarang?” tanyanya sarkas, “kamu bisa menghentikan ini sedari awal Bunda kamu bilang mau kamu jadi dokter, se-nggaknya harapan Bunda kamu nggak bertambah besar dan kalian nggak akan menyakiti satu sama lain seperti sekarang”.
Aku menatap mata Suri sebentar dan kemudian menundukkan kepalaku sedalam mungkin, “Aku sadar aku juga salah, tapi pada awalnya aku berpikir kalau aku akan bisa menjalaninya apalagi dengan support yang begitu besar dari Bunda”, sial, aku menangis sekarang. “Setelah Ayah pergi aku pikir Bunda akan down dan keluargaku kacau tapi nggak, Bunda justru berjuang lebih keras untuk menghidupi kami, memastikan aku hidup nyaman dan terpenuhi, tiap Bunda membicarakan masa depanku matanya akan berkilat senang, aku jadi takut meredupkan sinar bahagia matanya”.
Suri mengusap pelan punggungku, “Kamu beruntung punya Bunda yang sayang dan peduli sama masa depan kamu. Aku ini orang kampung, berasal dari keluarga yang tidak peduli tentang pendidikan. Ibu dan Bapakku menikah saat mereka tamat SMP dan hidup menjadi petani dan mengelola kebun. Meskipun begitu, hidup kami terpenuhi makanya pendidikan dianggap hal yang nggak penting dan justru membuang-buang uang karena belum tentu seusai pendidikan aku akan dapat pekerjaan”. Suri menarik nafas perlahan dan membuangnya kasar, “Kakakku semuanya sudah dinikahkan sejak mereka tamat SMA, selanjutnya aku si bungsu yang saat itu dua bulan lagi selesai SMA dan aku menentang keras perjodohan yang direncanakan kedua orang tuaku, karena aku punya harapan untuk hidupku. Bapakku marah sekali waktu itu tapi aku tetap keukeuh dengan pendirianku. Terkadang aku marah karena punya orang tua yang nggak men-support cita-cita anaknya, tapi aku nggak bisa benci mereka karena aku tau mereka hanya ingin aku hidup bahagia seperti bagaimana mereka merasakan bahagianya hidup yang mereka jalani sekarang, sederhana tapi cukup”. Suri mengangkat daguku agar mataku menatap matanya, “Kasih sayang orang tua ke kita memang terkadang malah jadi toxic parents, malah terkadang aku merasa bahwa orang tuaku itu rentenir karena selalu mengungkit semua yang telah mereka berikan kepadaku agar aku mau menuruti keinginannya, terkadang juga aku merasa kalau mereka itu manusia teregois karena selalu berkata, “kamu nggak kasian sama bapak dan Ibu? Kamu mau kami cepat mati karena stress memikirkan hidupmu?”, tiap aku menentang keinginannya dan hal itu selalu membuat aku terbebani karena perasana mereka tanpa mereka memikirkan atau berempati dengan perasaanku”.
“Suri...”, lirihku pelan, aku terkejut mendengar ceritanya. Aku tau dia akan dijodohkan, tapi aku nggak tau kalau sepeluh ini hidupnya. Hebat. Suri hebat karena bisa memperjuangkan harapan hidupnya, bukan seperti aku yang sudah terlalu larut dalam harapan dan kasih sayang Bunda.
“Pulang deh, ngomong pelan-pelan sama Bunda, pasti Bunda ngerti. Aku yakin”, bujuknya lembut.
Suri benar, semuanya karena Bunda sayang aku tapi, aku sebagai anak Bunda juga punya harapan hidupnya sendiri yang harus diperjuangkan. Aku membicarakan semuanya dengan Bunda dengan baik sedari awal apapun hasilnya paling tidak aku sudah berusaha.
“Aku balik, Sur. Aku harus clear-in semuanya sama Bunda”, pamitku.
Suri mengangguk sambil tersenyum, “ngomong pelan-pelan sama Bunda. Bundamu sayang kamu”. Aku hanya mengganggukkan kepala dengan harap.

Komentar
Posting Komentar
Selalu berbuat baik dan menebar senyum kebaikan
".. Satu hal bahagia adalah ketika melihat senyum orang lain karena kebaikan yang kita lakukan .."
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?