Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2020

Ketika Logika dan Rasa Tak Lagi Bersatu

Tulisan ini mungkin akan menuai pro kontra. Tapi dengan tulisan ini aku juga ingin bersuara bagi mereka yang takut untuk hanya sekedar bercerita padahal lukanya sudah berakar amat dalam. Semoga pembaca tidak baper, jika salah mohon dimaafkan dan jika ada kebermanfaatan mohon disebarluaskan ^^. Lagi-lagi kali ini mimin akan bahas tentang cinta. Ah gak pernah ada habis-habisnya memang jika membahas tentang perasaan bahkan sampai ada frasa “cinta tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata” memang buaya benar mimin kali ini hahaha.   Aku t’lah tahu kita memang tak mungkin  Tapi mengapa, kita selalu bertemu?  Aku tlah tahu hati ini harus menghindar  Namun kenyataan ku tak bisa?  Maafkan aku terlanjur mecinta  Sudah bubar-bubar jangan nyanyi lagi^^ Haloo kamu apakabar? Aku pengen ngajak kenalan boleh gak?. Ada lagi dengan jurus lainnya aku sedang cari patner nih buat bantuin sesuatu boleh gak aku minta hatimu*eh no hp. Aku udah lama bang...

Pecandu Kepastian

Gambar
Apakah hari ini akan baik-baik saja?. Apakah besok akan hujan?. Bagaimana jika 5 tahun lagi aku tidak akan bisa mencapainya?. Bagaimana jika dimasa depan aku berakhir mengecewakan?. Bukankah ini hanya frasa yang sering kita utarakan. Rasa khawatir yang terus mengebu-ngebu dan cemas yang tak berujung. Berteman dengan kepastian sudah sangat mengakar untuk aku, mungkin tanpa kamu sadari kamu juga pecandu. Menyusuri jalan yang sama setiap ingin pulang. Merasa aman jika membeli produk jika telah melewati ribuan kolom pencarian. Memilah dan menentukan pilihan tanpa ingin sejenak menoleh ke produk lainnya. Meminum vitamin dan suplemen untuk penyakit-penyakit yang kita belum ketemui. Mungkin yang paling relate dengan kita yaitu memilih mengenal orang lebih dalam. Apalagi untuk dijadikan pasangan hidup yang akan mengusap wajah di pagi hari dan ingin rasanya sehidup semati sampai pada akhirnya dipertemukan kembali di surga-Nya. Semua berusaha untuk kita setting seperti yang kita harapkan...

Toxic Parents ? #4

Gambar
Toxic Parents 3 Aku kembali ke rumah dan menemukan Bunda di meja makan dengan tangan menutupi wajahnya. Aku memantapkan diri melangkahkan kaki untuk menghampiri Bunda. Bunda yang sepertinya sadar seseorang melangkah ke arahnya, mengangkat kepalanya. Terciduk sedang menangis Bunda buru-buru menghapus air matanya. “ Sini duduk, Bunda mau ngobrol ”. Dengan lembut Bunda memintaku duduk di sampingnya. Bunda memutar tubuhnya agar berhadapan dengan ku, menatap wajahku lekat sampai-sampai rasanya Bunda bisa melihat ke dalam diriku. “ Bunda nggak sadar kapan kamu bisa tumbuh jadi sebesar ini ”, Bunda menarik nafasnya dalam dan membuangnya halus sebelum melanjutkan kalimatnya, “ Sepertinya selama ini Bunda menjadi Bunda yang kamu takuti bukan segani ya? ”, tanyanya pelan dan aku menggeleng cepat, Bunda tersenyum melihat reaksiku, “ Makasih, ya, sudah jadi anak baik. Makasih sudah tetap sayang Bunda walaupun Bunda egois ”. Aku sedih mendengar kalimat Bunda barusan, “ Makasih Bunda sudah...