Toxic Parents ? #4

Aku kembali ke rumah dan menemukan Bunda di meja makan dengan tangan menutupi wajahnya. Aku memantapkan diri melangkahkan kaki untuk menghampiri Bunda. Bunda yang sepertinya sadar seseorang melangkah ke arahnya, mengangkat kepalanya. Terciduk sedang menangis Bunda buru-buru menghapus air matanya.

Sini duduk, Bunda mau ngobrol”. Dengan lembut Bunda memintaku duduk di sampingnya. Bunda memutar tubuhnya agar berhadapan dengan ku, menatap wajahku lekat sampai-sampai rasanya Bunda bisa melihat ke dalam diriku. “Bunda nggak sadar kapan kamu bisa tumbuh jadi sebesar ini”, Bunda menarik nafasnya dalam dan membuangnya halus sebelum melanjutkan kalimatnya, “Sepertinya selama ini Bunda menjadi Bunda yang kamu takuti bukan segani ya?”, tanyanya pelan dan aku menggeleng cepat, Bunda tersenyum melihat reaksiku, “Makasih, ya, sudah jadi anak baik. Makasih sudah tetap sayang Bunda walaupun Bunda egois”.

Aku sedih mendengar kalimat Bunda barusan, “Makasih Bunda sudah selalu berjuang buat aku”, aku memberanikan diri menatap mata Bunda lekat, “Tapi aku juga mau berjuang untuk hidupku sendiri, aku punya cita-cita, Bunda”.

Bunda mengangguk sambil tersenyum kecil, “Bunda tau, Bunda sadar sedari dulu, tapi Bunda terlalu memberikan ekpsetasi berlebih terhadap masa depan kamu. Bunda membuyarkan cita-cita anak Bunda dengan ekpetasi berlebihan Bunda, kamu pasti terbebani sama keegoisan Bunda, ya?

Aku tidak bisa mengelak sekuat apapun aku berusaha berjalan tapi, di waktu tertentu juga aku akan merasa down dan kosong, “Semuanya karena Bunda mau aku jadi orang yang berhasil di masa depan”, sahutku pelan.

Bunda menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan berkali-kali, dari situ aku bisa tau kalau dada Bunda pasti sesak sekali sekarang, “Semua Bunda mau anak-anaknya berhasil dan hidup bahagia, kamu boleh menyerah dan mulai semua dari awal, kejar mimpi kamu, perjuangkan harapan kamu dan hidup bahagia”.

Aku merasa pupil mataku membesar berkali-kali lipat karena terkejut mendengar perkataan Bunda. “Tapi Bunda....”, aku nggak tau harus bicara apa, aku mau menyerah, tapi,aku nggak mau usaha Bunda untukku sia-sia.

Seorang Bunda akan bahagia kalau liat anaknya bahagia, meskipun di masa depan kamu jadi orang kaya raya hidup mewah tapi Bunda juga nggak akan bisa tidur tenang setiap malam kalau kamu nggak bahagia”, Bunda membelai lembut rambutku, “Jadi, hiduplah karena kamu bahagia dan bagi kebahagiaan kamu ke Bunda dengan begitu, Bunda bisa hidup seperti surga di bumi”.

Aku melihat Bunda tersenyum lebar sekali, matanya yang tadinya sayu dan redup kini kembali menampakkan kilatan cantik. Aku memeluk Bunda erat, “Bunda, aku janji akan bahagia dan menghasilkan banyak uang dari cita-citaku. Aku akan bahagiakan Bunda”, aku menarik tubuhku dari pelukan Bunda untuk menatap wajah cantik Bunda, “Aku janji Bunda bakal bisa foya-foya dengan hasil kerja kerasku tanpa harus berpikir besok makan apa”, candaku tapi akan ku wujudkan candaan itu. Pegang janjiku.

Bunda memasang raut terkejut dan malu-malu yang dibuat-buat, “Okay, deal! Bunda jadi nggak sabar nikmatin masa tua”, rengeknya lucu sekali.

Aku janji, Bunda. Aku nggak akan mengecewakan, Bunda. Terima kasih Bunda sudah berjuang untuk semua yang terjadi di hidupku. Sekarang, biarkan aku menyelesaikan sisanya”.

New year, new place and new chapter! Hey three of you, please be nice. Setelah deep talk-ku dengan Bunda terakhir kali aku jadi sadar, kalau deep talk alias ngobrol mendalam tentang segala hal bermakna dalam hidup ini itu penting sekali, terkhusus segala hal antara aku dan Bunda.

Aku menyelesaikan ujian akhir semester dua kuliah kedokteranku sebelum akhirnya aku mengundurkan diri dan mulai mempersiapkan semuanya dari awal. Bunda tetap jadi support system utamaku. Bahkan aku sampai menangis terharu karena rempongnya Bunda ingin menjadikan aku sebagai dokter dengan rempongnya Bunda ingin menjadikan aku seniman itu sama.

Here I’m now, di kota baru yang jauh dari Bunda. Awalnya Bunda keukeuh akan ikut pindah bersamaku sampai aku menyelesaikan studi-ku. Tapi, setelah negosiasi yang lebih singkat dari dugaanku dengan berat hati Bunda merelakan aku hidup mandiri dengan catatan tetap harus menelpon dan menceritakan seluruh kegiatan dan kejadian apapun yang aku alami dalam sehari

And here we go again, I’m back to being MABA disalah satu universitas seni di kota Pelajar atau kota Budaya alias Yogyakarta. Aku menatap gerbang gapura bertuliskan Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Aku nggak pernah berani mengkhayal sejauh ini tapi Tuhan beri aku kesempatan untuk merasakan feel-nya langsung. A lot of sacrifice yang akhirnya berhasil membawaku menapakkan kaki di sini.

Kali ini bahuku rasanya ribuan kali lebih kuat menampung harapan, Bunda. Sabar sebentar, Bunda. Aku akan membawa Bunda terbang menggapai bintang harapanku. Terima kasih untuk membiarkan ku menyerah kemarin dan melepasku terbang ke tanah penuh harapan ini. Nggak akan ada usaha keras Bunda yang tersia-siakan, aku janji.
Tunggu sebentar, Bunda.
Aku akan kembali dan memberikan surga di bumi untuk, Bunda.

T A M A T

-- SNA, I2 --

Komentar