Sebuah Kritik Terbuka Terhadap Kafe yang Jual Lalapan

Sudah beberapa hari ini saya mendengar kakak saya ngedumel soal menu yang dihadirkan sebuah kafe di dekat rumah kami. Sebagai pecinta kopi dan menjadikan kopi sebagai gaya hidupnya, kakak saya mengatakan kehadiran lalapan, nasi goreng dan makanan berat lainnya di sebuah kafe sebenarnya merusak citra sebuah kafe karena cafe sejatinya, seyogyanya dan seharusnya hanya menjual kopi, minuman ringan lainnya dan tentu saja makanan ringan pendampingnya. Ingat ya, hanya makanan ringan, yang berat seperti rindu seharusnya tidak ada.

Sebenarnya konsep kafe serupa juga pernah hadir di dekat tempat tinggal kami. Lalapan ayam dan ikan, aneka seafood, nasi goreng, mi setan, dan ragam minuman dengan nama yang aneh-aneh menjadi menu andalannya. Lalu apakah ada kopinya?, oh ada dong, kopi saset yang diracik embak-embak di dapur belakang, sayang sekali bukan dibikin barista kece nan necis. Konsep kafe yang menurut kakak saya merusak pakem perKafe-an duniawi ini sebenarnya cuma latah tren saja, untuk menarik konsumen yang suka nongki dan kongko-kongko sama doi sambil swafoto biar bisa jadi konten instastory. Tapi ternyata pucuk dicinta ulam pun tak tiba, kafe tersebut gulung karpet dengan alasan yang entahlah.

Pada salah satu fragmen ngedumel kakak saya dia mengatakan bahwa kata "kafe" berasal dari bahasa Prancis yang artinya, apalagi kalau bukan kopi. Padanan kafe dalam bahasa Indonesia adalah "kedai kopi". Namanya saja kedai kopi berarti yang dijual aneka jenis kopi, bukannya malah aneka jenis lalapan dengan berbagai varian sambalnya, kalau seperti itu kenapa gak kasih nama warung makan aja sih, begitu tegasnya dengan nada agak julid sembari ingin memukul meja dan bilang "Demi Tuhan, kok bisa sih kafe jualan lalapan!"

Sejak pertama kali kemunculannya di zaman kesultanan Ottoman pada abad 16, kafe memang sudah menjadi tempat nongkrong sambil minum kopi dan berdiskusi, bahkan sampai membahas soal revolusi. Kafe punya perjalanan panjang hingga bisa sampai ke Indonesia dan menjadi gaya hidup masyarakat urban seperti sekarang ini.

Seiring dengan berkembangnya zaman, menu kafe semakin variatif dan disesuaikan dengan kultur setempat. Tapi bukan berarti kafe mesti menjual lalapan meski orang Indonesia cinta sekali nasi, dan gak kenyang kalau belum makan nasi. Masih banyak makanan ringan asal Indonesia yang bisa dieksplorasi dan dimodifikasi. Makanan khas Lombok seperti iwen dan bajik saja belum pernah saya temui di kafe, apa saya mainnya kurang jauh?

Kafe punya pakemnya sendiri, punya aturannya sendiri, dari segi produk misalnya, tidak semua hal bisa dijual di kafe. Untuk menciptakan identitas kafe, maka perlu adanya ciri-ciri sebagai penanda kalau suatu tempat bisa kita sebut sebagai kafe. Menilik dari Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia tentang standar usaha kafe dalam bab I pasal I ayat 2 tahun 2014 dijelaskan bahwa usaha kafe adalah penyediaan makanan ringan dan minuman ringan dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan untuk proses pembuatan, penyimpanan dan/atau penyajiannya, di dalam satu tempat tetap yang tidak berpindah-pindah. Dalam peraturan menteri tersebut juga diatur kalau sebuah kafe paling tidak memiliki 20 jenis minuman ringan dan 10 jenis makanan ringan apabila ingin mendapatkan sertifikat usaha kafe. Jelas ya, 10 jenis makanan ringan, bukan 10 jenis makanan berat.

Memang tidak dijelaskan dengan gamblang dalam peraturan menteri tersebut kalau kopi menjadi menu wajib. Akan tetapi, kultur turun temurun bahwa kopi identik dengan kafe adalah aturan tidak tertulis yang sudah disepakati secara komunal. Dan lagi kopi termasuk dalam kategori minuman ringan, sangat relevan dengan apa yang sudah dijelaskan di atas. Satu hal yang sangat jelas dalam peraturan tersebut adalah, lalapan bukanlah menu yang seharusnya ada di sebuah kafe.

Lalapan tidak menjadi syarat sebuah tempat disebut kafe. Meski kita sebagai orang Indonesia sepakat kalau lalapan lihai sekali membuat lidah berdansa manja. Selain itu, pangsa pasar lalapan memang sangat luas, tapi cukuplah lalapan hanya bertengger di daftar menu rumah makan dan restoran, di kafe janganlah, nggak relate soalnya. Ada pemuja sekte lalapan yang mau protes?, saya tunggu pleidoinya.

-- Imbet --

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Ita juga sih ya, cafe ada lalapan hahaha
    Mungkin itu lalapan sudah belajar ilmu meringankan tubuh, jadi itu lalapan ringan hahaha#becanda #piss

    BalasHapus

Posting Komentar

Selalu berbuat baik dan menebar senyum kebaikan
".. Satu hal bahagia adalah ketika melihat senyum orang lain karena kebaikan yang kita lakukan .."
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?