Menjadi Bucin yang Bermanfaat, Emang Bisa?
Mencintai seseorang bukan perkara yang kita putuskan sendiri, ada kekuasaan yang lebih dari sekadar kekuasaan biasa yang menggerakkan hati untuk mencintai. Lantas apakah sesuatu yang tidak kita putuskan sendiri ini adalah kesalahan kita? Tentu saja bukan kan? Itulah mengapa mencintai seseorang tidak akan membuat Malaikat Atid kerepotan mencatat dosa, sebab ini fitrah yang Tuhan sudah gariskan.
Apa itu Bucin?
Akan tetapi, dalam perilaku mencintai ini banyak yang berlebihan, hingga salah arah dan tersesat. Menurut istilah muda mudi saat ini, golongan ini disebut bucin a.k.a budak cinta, yang artinya seseorang yang sangat terikat atau terobsesi pada pasangannya. Biasanya, orang yang terlalu bucin ini akan melupakan segala sesuatu dan hanya fokus pada pasangannya.
Pujangga Arab pernah berkata “Cintamu kepada sesuatu menjadikanmu buta dan tuli”, kalimat yang melampaui kata tepat untuk merepresentasikan para korban virus bucin. Memanglah terlalu mencintai dan kebodohan hampir-hampir menjadi afinitas, susah dipisahkan seperti tahu isi hangat dengan cabai rawit hijau.
Ciri-Ciri Bucin yang Berbahaya
- Terlalu sering menghubungi pasangan
- Orang yang terlalu bucin cenderung menghubungi pasangan mereka terlalu sering, bahkan jika pasangan sedang sibuk atau tidak bisa dihubungi. Mereka bisa mengirim pesan, telepon, atau bahkan datang ke tempat kerja atau rumah pasangan tanpa pemberitahuan.
- Mengabaikan kebutuhan pribadi
- Seseorang yang terlalu bucin cenderung mengabaikan kebutuhan pribadi mereka seperti teman, keluarga, atau hobi. Mereka hanya fokus pada pasangan mereka dan melupakan hal-hal yang penting dalam kehidupan mereka sendiri.
- Selalu ingin bersama pasangan
- Orang yang terlalu bucin cenderung tidak merasa nyaman jika tidak bersama pasangan mereka. Mereka merasa tidak lengkap jika tidak bersama pasangan dan selalu ingin menghabiskan waktu bersama.
- Selalu setuju dengan pasangan
- Seseorang yang terlalu bucin cenderung tidak bisa mengatakan "tidak" pada pasangan mereka. Mereka selalu setuju dengan pasangan, bahkan jika itu merugikan diri mereka sendiri.
- Gelisah ketika pasangan tidak merespon:
- Orang terlalu bucin juga cenderung merasa gelisah ketika pasangan tidak merespon pesan atau telepon mereka. Mereka bisa merasa cemas dan khawatir tentang keselamatan pasangan.
- Tidak bisa hidup tanpa pasangan:
Terlalu bucin cenderung merasa bahwa hidup mereka tidak lengkap tanpa pasangan mereka. Mereka merasa sangat tergantung pada pasangan dan tidak bisa berpikir untuk hidup sendiri.
Bagaimana Bucin Menganggu Kesehatan Mental?
Fakta lainnya, virus bucin juga menjadikan penderitanya membenci makanan, pada beberapa kasus mereka bahkan tidak makan berhari-hari, tidak menutup kemungkinan mereka bisa terkena bulimia, seperti yang pernah dialami oleh Lady Diana karena terlalu memikirkan Pangeran Charles, baru tau kan Lady Diana sebucin itu?, tapi dia bucin jalur halal karena yg dibucinin suami sendiri, bolehlah kita sedikit hiperbola dengan mengatakan inilah yang dinamakan bucin kelas internasional.
Bucin sebenarnya virus yang tanpa sadar dapat membunuh korbannya secara perlahan. Kebucinan yang normal tidaklah membahayakan, kebucinan yang abnormal adalah pangkal kemunduran jiwa dan kualitas berpikir. Nah kalau sudah begini bukan bucin bermartabat namanya, tentu hal ini sudah menganggu kesehatan mental.
Baca Juga : Ini 7 Cara Berdamai dengan Diri Sendiri Agar Lebih Bahagia
Pada beberapa kasus, si penyintas penyakit bedebah bucin ini sebenarnya sadar bahwa ia tengah dilanda bucin, tetapi inilah tahap puncak destruksi dari virus bucin. Sadar diri dilanda bucin, tapi tetap saja dijalani dengan sepenuh hati, inilah kebodohan yang hakiki. Bila kita mau melihat dari sudut pandang lain, sebenarnya penyintas bucin sudah dianugerahi kekuatan luar biasa daripada orang lain yang tidak terkena bucin? Eh kok bisa gitu?
Jelas orang-orang bucin punya semangat dan hati yang lebih kuat daripada yang lain, lah demi objek bucinnya menjelajahi banyak benua seperti Ibnu Batutah saja sanggup dilakukan (hiperbola eeeu). Nah bila semua potensi kekuatan yang ada dalam diri si Bucin digunakan semestinya, ia akan menjadi bucin bermartabat. Berikut lebih detail lagi tentang bagaimana menjadi bucin bermartabat.
Tips Menjadi Bucin Bermanfaat
- Gunakanlah Kebucinanmu untuk Mengukir Prestasi
- Saya teringat dulu saat masih SMA, saat itu frasa pacaran sehat sedang booming-boomingnya. Teman saya kebetulan mengikat status pacaran dengan kakak kelas yang cemerlang dalam akademik. Karena tidak mau menanggung malu dan cemoohan tetangga kelas, jadilah ia memacu diri, bermodal kebucinannya yang punya semangat bar-bar diterapkanlah pacaran sehat itu. Tidak mau kalah dia mengabdikan diri menjadi bucin garis lurus, mengukir banyak prestasi dimana-mana agar bisa pantas bersanding dengan doinya itu. Inilah kekuatan potensial si bucin yang tidak dimiliki banyak orang.
- Gunakanlah Semangat Bucinmu untuk Menjadi Orang yang Bermanfaat
- Semua pasti setuju kalau si bucin punya sifat dermawan yang tinggi, iya kan? Tapi sebatas kepada objek bucinnya saja, kepada orang lain? ya belum tentu, cobalah semangat rela berkorbanmu untuk doi itu digunakan juga untuk kemaslahatan orang banyak, gunakan untuk menolong orang yang membutuhkan bantuan. Si Bucin sebenarnya adalah manusia baik hati, cuma bedanya bucin yang bermartabat akan menggunakan energi bucinnya dalam rela berkorban untuk kepentingan yang lebih luas. Ingatlah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang banyak. Kamu juga bisa loh memberikan informasi tentang kesehatan mental kepada orang lain atau menceritakan pengalamanmu bersama Dear Senja.
- Gunakan Semangat Bucinmu untuk Belajar Banyak Hal
- Menjalin hubungan pasti membutuhkan cara untuk mempertahankannya, maka ubah fokusmu yang hanya pada pasangan untuk lebih banyak belajar banyak hal tentang hubungan, pasangan, dan kesehatan mental. Tidak perlu takut karena Dear Senja menyediakan banyak informasi tersebut.
- Gunakanlah Perilaku “Menyerahkan Diri Kepada Doi” untuk Kepentingan Ukhrawi
- Agak provokatif ya? Tapi ini beneran bisa dilakukan. Buat kamu para bucinista yang biasanya selalu siap menyerahkan diri untuk doi, cobalah gunakan perilaku mau menyerahkan diri ini untuk kepentingan ukhrawi, coba gunakan kekuatan menyerahkan diri kepada doi itu untuk Tuhan. Kepada makhluk-Nya saja si bucin bisa, lalu kenapa tidak akan bisa mneyerahkan diri kepada Pencipta Makhluknya?. Berserah diri kepada Tuhan ini akan sangat bisa diterapkan si bucin apabila orang yang dia sukai atau objek bucinnya itu tidak memberikan feedback atas perasaan yang sudah diserahkan, Jadi begitulah, menjadi bucin juga harus taat agar jadi bucin yang bermartabat.
" Untuk kamu yang sedang dilanda virus bucin, jadilah bucin bermartabat!"
Referensi :
- Jurnal "A Study of Bucin Phenomenon among Indonesian Teenagers" oleh Septian Aditya Harisman (https://eprints.umm.ac.id/83884/2/BAB%20I.pdf)
- Jurnal "Bucin itu Bukan Cinta: Mindful Dating for Flourishing Relationship" oleh Ni Komang Karmini Dwijayani (https://ojs.unud.ac.id/index.php/widyacakra/article/view/69189)
#DearSenjaBlogCompetition
.png)


Komentar
Posting Komentar
Selalu berbuat baik dan menebar senyum kebaikan
".. Satu hal bahagia adalah ketika melihat senyum orang lain karena kebaikan yang kita lakukan .."
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?