Sepucuk Surat
Ternyata telah hampir separuh bulan dia pergi. Jejaknya masih ada atau telah sirna, bisa ditelisik masing-masing pemilik jiwa. Kali ini, kutuliskan sepucuk surat darinya, semoga menjadi pengingat bagi kepala yang mudah lupa, semoga sedikit petuahnya menjadi pengobat rindu hati yang sering khilaf insafi diri. Bacalah pesan Ramadhan ini.
Hai sahabatku,
Hari ini tepat 14 hari aku pergi. Bagaimana kabar imanmu yang tinggi kala bersamaku tempo hari? Bagaimana kabar tilawah yang engkau perjuangkan hingga tidak tidur saat bersamaku dulu? Bagaimana kabar tahajjud, dhuha dan amal yang lain begitu aku beranjak meninggalkanmu?
Kuharap kau baik-baik saja :)
Apa? Kau bilang kau berubah setelah bilangan hari yang sedikit ini? Padahal kau tahu masih ada sebelas bulan tersisa untuk bertemu denganku. Apa dalam rentang waktu itu engkau merasa aman dan masih hidup nanti?
Jangan jadi HAMBAku, Jangan jadi HAMBA RAMADHAN! Jangan ubah kebiasaan bangun malammu demi terjaga merapal doa disepertiga malam. Jangan kau kurangi jatah interaksimu dengan kalam-Nya yang telah berhasil kau tuntaskan surah dan ayatnya. Jangan kembali lupa untuk bersedekah meski 2 rakaat saja diwaktu dhuha. Jangan, jangan biarkan imanmu yang telah tersiram menjadi kering, retak, tak lagi dahaga mencari penguat-Nya.
Sekarang kutuntut kau untuk membuktikan rindumu. Aku tahu interval detik ini dan jumpa kita masih lama, aku tahu ini tidak mudah bagimu. Aku tahu, sebab kamu pun tahu syaithan telah kembali leluasa membisiki telinga, mengaliri pembuluh nadi manusia. Ditambah pula nafsumu yang susah diatur baiknya.
Sekarang kuberitahu caranya, langkah pertama bagimu menyempurna puasa setelah aku berganti nama, cara yang disampaikan Rasulmu, Rasul pembawa cinta. Saksikanlah beliau bersabda yang tersampai dari lisan mulia sahabatnya; Abu Ayyub Al Anshoriy,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari dibulan Syawal, maka ia shaum seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)
Jangan biarkan syawal pergi sedang kau tak sempat menuntaskan puasa yang hanya enam hari.
Sahabatku,
Telah terekam suaramu mengeja huruf-huruf hijaiyah bahkan hingga subuh tiba. Jauh lisanmu dari bicara yang tak punya makna, jauh katamu dari bahasan sia-sia. Setelah kita berjarak kini, tetaplah bahasamu berupa mutiara yang mencahayai gelap raga. Jika belum sedia, maka diam jadi pilihan yang bijaksana.
Langkah kedua, panjangkan prasangka baikmu dengan doa. Mintalah pada-Nya agar aku dan kamu juga mereka bisa lagi bersua. Mintalah pula agar istiqamah lebih dekat lagi menyelamatkan kita. Mintalah agar riya dan kawanannya tak mampir walau sedikit saja. Mintalah, jika sekiranya kau tak bisa menemaniku lagi, menangis dan katakan pada-Nya, "Ya Rabbi karuniai si faqir ini khusnul khatimah"
Langkah selanjutnya, bersiaplah untuk lebih baik saat takdir mempersembahkan aku lagi. Sebelum itu, sepanjang enam bulan yang akan tiba, tengadahlah untuk mengiba amal supaya diterima.
Sahabatku,
Aku tahu kamu kuat. Tunggu aku, sepuluh bulan 16 belas hari lagi. Aminkan harapmu sebanyak-banyaknya, sepenuh kau ingin Surga.

Komentar
Posting Komentar
Selalu berbuat baik dan menebar senyum kebaikan
".. Satu hal bahagia adalah ketika melihat senyum orang lain karena kebaikan yang kita lakukan .."
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?