Surat untuk Diri Sendiri
Selamat malam, diri!
Terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Terima kasih sudah mau diajak berlari, walau luka menganga setiap pagi. Terima kasih sudah bersedia menembus panasnya udara, yang belum juga merasakan hujan dari atas sana.
Aku tidak akan pernah lupa. Mimpi luar biasa yang kita rajut sejak sekolah menengah pertama. Namun semesta, ternyata punya rencana yang tak kalah bahagia. Merangkulmu hingga titik dimana kamu bisa bernafas lega, sekalipun beberapa saat saja.
Aku tidak akan pernah lupa, bagaimana kamu berulang kali gagal menjaga pertemanan. Entah salah siapa, hingga saat ini kamu tetap menyalahkan kita. Tak apa, selama kita baik-baik saja dan mereka tetap bahagia. Sekalipun hingga saat ini, berdamai dengan masa lalu menjadi perkara yang tak kunjung punya muara.
Aku tidak akan pernah lupa, betapa terlukanya kamu saat capaian tak sesuai ekspektasi yang dibebankan, pada pundak ringkih yang dulu kita punya. Betapa malam tak pernah kita lewati dengan gelap gulita. Betapa malam selalu diramaikan oleh suara balikan kertas. Nyatanya, soal-soal yang kau coba pecahkan seakan menertawakan, dirimu yang kesulitan menyelesaikan, dirimu yang tak kunjung menapak podium juara. Ah..rasanya sesesak itu.
Aku tidak akan pernah lupa, tangisan keras yang tak bisa kita tahan, saat pagi di mana hinaan dilemparkan. Tepat di depan wajah, tepat di depan mata ratusan manusia. Sungguh, kita sama-sama terluka. Suara kita tertahan, tanpa kata. Kita hancur saat itu juga.
Aku tidak akan pernah lupa, sulitnya kita berbicara pada mereka, menjelaskan mimpi yang kita punya. Menjelaskan cita-cita yang hendak kita gapai. Diceramahi hal yang mereka saja tak paham sedang berbicara apa. Dihakimi tanpa mengerti, akan ada hati yang terluka lalu kemudian mati.
Aku tidak akan pernah lupa, sakitnya tubuh yang kamu paksa untuk berlari mengejar ketertinggalan diri. Dari mereka, yang kemampuannya tak terhitung lagi.
Aku tidak akan pernah lupa, saat tangan berulang kali gagal menggapai mimpi. Saat kaki berulang kali patah sebelum bisa melompat tinggi. Saat bertemu orang-orang baru, yang dengan sengaja meletakkan beban baru di pundak sempit yang kamu miliki. Tanpa tau perihnya hati tanpa arah dan motivasi yang selalu membuntuti.
Aku tidak akan pernah lupa, hingga saat ini pun kamu masih berjuang. Memperbaiki sisi-sisi yang tanggal. Mempelajari hal-hal yang kamu belum paham. Meyakini sekalipun berulang kali mengecewakan diri. Menguatkan hati sekalipun tak dianggap sedang berdiri. Bernegoisasi berulang kali, mengikuti kata hati atau tekanan dari luar diri sendiri.
Dan yang akan selalu ku ingat, apapun yang kamu lewati, menyerah tak pernah kau pilih sebagai solusi. Kamu tak segan untuk menangis, jika hati sudah ingin meledak karena terlalu banyak dijejali. Kamu selalu ingin mandiri, sekalipun kaki kadang terhenti dan butuh teman berlari. Kamu bisa menyelesaikan, sekalipun rasa takut awalnya belum mampu kau runtuhkan. Sadari, Tuhan tidak menciptakan kekurangan pada diri. Yang ada, kita dikaruniai kelebihan yang berbeda, satu dengan yang lain.
Terima kasih, sekali lagi. Pada mata sendu yang tak suka langit kelabu. Pada jari tangan, kaki dan kepala milik kita. Terima kasih, diriku sendiri!

Komentar
Posting Komentar
Selalu berbuat baik dan menebar senyum kebaikan
".. Satu hal bahagia adalah ketika melihat senyum orang lain karena kebaikan yang kita lakukan .."
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?