Fenomena Ukhti Pensiun, Bukti Tren Hijrah Mulai Banyak Ditinggalkan

Ukhti pensiun adalah istilah yang saya buat sendiri untuk menggambarkan suatu kondisi ketika seseorang yang tadinya ukhti berhenti jadi ukhti. Definisi akhi dan ukhti pernah saya tulis dalam tulisan saya yang ini: Tipe Akhi Yang Wajib Ukhti Ketahui. Definisi ukhti yang saya maksud dalam tulisan saya kali ini akan merujuk pada tulisan saya sebelumnya.

Agar tidak menimbulkan bias tak berarah saya akan paparkan lebih jelas mengenai ukhti pensiun. Ukhti pensiun adalah perempuan yang menanggalkan seluruh artibut keukhtian dalam dirinya. Atribut keukhtian yang dimaksud di sini berkaitan dengan penampilan bukan ritus peribadatan.

Istilah ukhti pensiun ini tercetus setelah saya melihat fenomena yang terjadi di sekeliling saya. Beberapa kawan saya satu persatu secara sadar dan sukarela menanggalkan segala atribut keukhtian yang melekat dalam dirinya. Cadar yang dipakai belum genap selustrum sudah dilepas, kaos kaki sudah ditanggalkan, kerudung yang dulunya menutup dada kini mulai semakin naik menuju leher, dieratkan sampai seerat-eratnya, bahkan teman ukhti saya ada yang sudah sampai pada tahap melepas kerudungnya dan menggunakan baju you can see everything on my body.

Ada juga ukhti yang ragu-ragu melepas kerudung, dilanda dilematis sindrom akut, mau lepas kerudung tapi takut dijustifikasi SJW sedangkan keinginannya sangat kuat untuk ikut tren dan terlihat seksi. Alhasil ukhti pensiun model begini memilih menggunakan baju gamis dengan luaran yang mirip kutang rajut. Ada juga yang luaran bajunya seperti singlet dengan berbagai macam motif.

Fenomena ukhti pensiun ini berlangsung cukup masif baru-baru ini. Era ukhti akan segera berakhir, itulah kesimpulan yang saya dapat setelah melakukan riset kecil-kecilan. Tidak lagi meruah di beranda media sosial saya postingan tentang hukum menutup aurat atau tentang hukum pacaran yang direpost dari akun-akun dakwah. Banyak hal berbau keukhtian berganti menjadi sebaliknya. Setiap masa memang ada batasnya. Sekarang yang terjadi, kawan-kawan saya yang dulunya dilabeli ukhti mulai mengubah framing dirinya menjadi perempuan biasa.

Banyak sekali cerita ukhti pensiun yang saya dengar. Cerita terbaru tentang ukhti pensiun saya dengar langsung dari rekan kerja saya. Temannya yang dulu berkerudung panjang nanlebar sekarang sudah beralih gaya jadi kerudung mencekik leher. Dulu ketika masih menjadi ukhti, beliau rajin memposting video ceramah yang dilakukan oleh beliau sendiri, topiknya acak, yang jelas seputar keagamaan, biasanya si ukhti pensiun ini akan membuka question and answer dengan tema keagamaan. Setelah pensiun jadi ukhti, semua itu tidak dilakukannya lagi.

Sebagai orang yang kadang-kadang dikira ukhti karena penampilan, saya menyadari tentang bagaimana beratnya dianggap ukhti. Banyak orang yang berekspektasi tinggi kepada perempuan yang berpenampilan ukhti-ukhti. Saya yang berpikiran terbuka dan liar ini tidaklah sanggup untuk terus menerus dianggap ukhti yang lekat dengan perwatakan kalem dan tutur bahasa lemah lembut, setidaknya anggapan itulah yang melekat dengan kehidupan para ukhti. Mungkin juga karena anggapan sosial seperti ini membuat banyak ukhti memutuskan untuk pensiun jadi ukhti. Padahal sama seperti perempuan yang tidak dianggap ukhti lainnya, ukhti-ukhti juga punya karakter yang heterogen.

Semakin banyak ukhti pensiun melegitimasi bahwa tren hijrah mulai banyak ditinggalkan. Tren hijrah yang poros utamanya fashion syar'i tidak lagi menarik bagi beberapa ukhti karena tren fashion terus berganti dengan berbagai macam model.

Aneka ragam model pakaian yang jauh dari kata ukhti memang sangatlah menggoda. Atasan sabrina yang warnanya lucu dipadukan dengan pashmina yang dililit sekenanya ke belakang leher. Berpose dengan teknik tertentu agar kaki nampak jenjang, melihat hal seperti ini banyak ukhti jadi ingin pensiun. Belum lagi dress vintage yang sekarang sedang naik daun dengan warna earthone yang manis, berat sekali memang untuk tidak pensiun jadi ukhti jika melihat perkembangan fashion yang ada.

-- Imbet --

Komentar

Posting Komentar

Selalu berbuat baik dan menebar senyum kebaikan
".. Satu hal bahagia adalah ketika melihat senyum orang lain karena kebaikan yang kita lakukan .."
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?