Postingan

3 Dedemit Endemik Lombok yang Tidak Jelas Wujudnya

Masa kanak-kanak saya cukup banyak ternodai dengan kehadiran dedemit di pikiran saya. Betul memang hanya sekilas melalui pikiran. Walau tak pernah melihatnya sama sekali, tetapi kehadirannya pernah begitu terasa, betapa tidak, saat saya kecil, tiga dedemit yang akan saya bahas ini pernah sangat viral, tak satu pun bocil Lombok pada saat itu yang tidak mengenal tiga dedemit ini. Gema gaungnya mirip “Anjay” saat inilah. Minimnya pengetahuan parenting membuat orang tua jaman dulu menggunakan kekuatan menakut-nakuti agar anaknya mematuhi perintah mereka. Alhasil lestarilah kegiatan menakut-nakuti ini hingga anak cucunya, saya menjadi salah satu yang diwariskan kegiatan menakut-nakuti ini. Saya rasa, kegiatan yang satu ini lumrah terjadi, sangat subur pada masanya, tidak hanya di Lombok tapi juga di seluruh penjuru tanah air, betul apa benar? Meski dinamika hidup tetap berjalan, generasi terus berganti akibat pernikahan yang terus terjadi, tetapi tiga jenis dedemit ini tetap...

Sebuah Panduan Singkat Tata Cara Self Love yang Sebenarnya

Gambar
Sudah lama hiatus dari dunia leterer merubah banyak hal dalam diri saya, durasi kegiatan perenungan atau melamun menjadi lebih panjang dari sebelumnya. Saat otak mencapai posisi antara alfa dan beta, indah sekali rasanya, tapi itu tidak berlangsung lama. Alih-alih tenang karena merenung, sukma saya malah makin ruwet, rasanya mau meledak, terlalu banyak hal yang ingin dituliskan, terlalu banyak keresahan yang ingin disampaikan. Tersebab terlalu banyak tekanan batin cinta dan kehidupan, menulis jadi makin sulit saya lakukan, saya sekarang merasa sebagai manusia “baru” di dunia literasi, manusia baru yang kaku sekali dalam menulis, akan tetapi keresahan yang satu ini saya rasa harus banget wajib kudu mesti saya tuliskan, bagaimanapun hasil akhirnya, akan tetap saya tuliskan hingga tulisan ini menemukan endingnya sendiri. Saya sangat malu telah menuliskan kalimat seperti ini “ Semua wanita itu cantik adalah postulat tak terbantahkan ”. Pernyataan itu secara mutlak meligitimasi sempi...

Ketika Logika dan Rasa Tak Lagi Bersatu

Tulisan ini mungkin akan menuai pro kontra. Tapi dengan tulisan ini aku juga ingin bersuara bagi mereka yang takut untuk hanya sekedar bercerita padahal lukanya sudah berakar amat dalam. Semoga pembaca tidak baper, jika salah mohon dimaafkan dan jika ada kebermanfaatan mohon disebarluaskan ^^. Lagi-lagi kali ini mimin akan bahas tentang cinta. Ah gak pernah ada habis-habisnya memang jika membahas tentang perasaan bahkan sampai ada frasa “cinta tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata” memang buaya benar mimin kali ini hahaha.   Aku t’lah tahu kita memang tak mungkin  Tapi mengapa, kita selalu bertemu?  Aku tlah tahu hati ini harus menghindar  Namun kenyataan ku tak bisa?  Maafkan aku terlanjur mecinta  Sudah bubar-bubar jangan nyanyi lagi^^ Haloo kamu apakabar? Aku pengen ngajak kenalan boleh gak?. Ada lagi dengan jurus lainnya aku sedang cari patner nih buat bantuin sesuatu boleh gak aku minta hatimu*eh no hp. Aku udah lama bang...

Pecandu Kepastian

Gambar
Apakah hari ini akan baik-baik saja?. Apakah besok akan hujan?. Bagaimana jika 5 tahun lagi aku tidak akan bisa mencapainya?. Bagaimana jika dimasa depan aku berakhir mengecewakan?. Bukankah ini hanya frasa yang sering kita utarakan. Rasa khawatir yang terus mengebu-ngebu dan cemas yang tak berujung. Berteman dengan kepastian sudah sangat mengakar untuk aku, mungkin tanpa kamu sadari kamu juga pecandu. Menyusuri jalan yang sama setiap ingin pulang. Merasa aman jika membeli produk jika telah melewati ribuan kolom pencarian. Memilah dan menentukan pilihan tanpa ingin sejenak menoleh ke produk lainnya. Meminum vitamin dan suplemen untuk penyakit-penyakit yang kita belum ketemui. Mungkin yang paling relate dengan kita yaitu memilih mengenal orang lebih dalam. Apalagi untuk dijadikan pasangan hidup yang akan mengusap wajah di pagi hari dan ingin rasanya sehidup semati sampai pada akhirnya dipertemukan kembali di surga-Nya. Semua berusaha untuk kita setting seperti yang kita harapkan...

Toxic Parents ? #4

Gambar
Toxic Parents 3 Aku kembali ke rumah dan menemukan Bunda di meja makan dengan tangan menutupi wajahnya. Aku memantapkan diri melangkahkan kaki untuk menghampiri Bunda. Bunda yang sepertinya sadar seseorang melangkah ke arahnya, mengangkat kepalanya. Terciduk sedang menangis Bunda buru-buru menghapus air matanya. “ Sini duduk, Bunda mau ngobrol ”. Dengan lembut Bunda memintaku duduk di sampingnya. Bunda memutar tubuhnya agar berhadapan dengan ku, menatap wajahku lekat sampai-sampai rasanya Bunda bisa melihat ke dalam diriku. “ Bunda nggak sadar kapan kamu bisa tumbuh jadi sebesar ini ”, Bunda menarik nafasnya dalam dan membuangnya halus sebelum melanjutkan kalimatnya, “ Sepertinya selama ini Bunda menjadi Bunda yang kamu takuti bukan segani ya? ”, tanyanya pelan dan aku menggeleng cepat, Bunda tersenyum melihat reaksiku, “ Makasih, ya, sudah jadi anak baik. Makasih sudah tetap sayang Bunda walaupun Bunda egois ”. Aku sedih mendengar kalimat Bunda barusan, “ Makasih Bunda sudah...

Jangan Iri Dengan yang Hanya Terlihat

Sahabat kebaikan sudah lama mimin tidak menyapa. Apa kabar?, semoga dalam keadaan baik yah.. Iri menjadi salah satu sifat yang lumrah dimiliki oleh diri sendiri dan orang lain. Eits tapi jangan salah loh iri ini kemudian diwujudkan dalam berbagai tindakan. Ada sesi dimana iri ini akan berdampak untuk menyalahkan diri sendiri. Lah, ituloh istilah yang sekarang lagi hits insecure . Banyak banget yang sudah foto dengan toga mereka, pegang bunga, selempang dan segala perlengkapan atribut wisuda LDR. Tapi ada juga yang masih stagnan untuk memikirkan skripsi akan dibawa kemana. Lalu berucap aku, kapan yah begitu . Sebenarnya jawabannya sederhana ayo dikerjakan, jangan dipikirin. Cuma nih ternyata berdampak banget menjadi tekanan psikologis apalagi kalo dibumbui dengan pernyataan netizen 'kapan wisuda' atau emak yang udah lantang menyuarakan kegelisahan hati noh si onoh tetangga sebelah udah wisuda, kamu kapan? . Kasus paling membuat baper sejagat raya nih yaitu ta'aruf yan...

Maaf dari Saya

Gambar
Aku pernah bercakap di bawah langit Agustus saat malam tiba. Ditemani ribuan bintang yang semesta sisihkan untuk tata surya. Berbicara tentang gemerlapnya dunia, yang kerap kali membuat kita buta. Pertanyaanku masih tetap sama. Bagaimana cara jatuh cinta. Karena panjangnya tahun hingga dua puluh satu pun aku masih belum bergetar menatap netra keduanya. Karena hingga matahari kian memanas pun aku belum bisa meneteskan air mata karenanya. Sungguh, tak sepantasnya aku berulang menatap mereka, bersamaan dengan hati yang kosong tanpa kasih yang tak ku pilih. Begitu tega rasanya jika setiap pagi menjelang, suara lemah penuh harap dan do’a itu tak ku sambut dengan tenang. Entah kenapa, aliran darah yang mengikat kita tak menggetarkan jiwa yang kini meronta. Kerap kali aku menoleh iri pada sekitar. Pada mereka yang begitu jatuh cinta. Pada mereka yang setiap hari mengangkat telefon dari keduanya. Pada mereka yang air mukanya berubah ceria ketika melihat layar yang tertuliskan naman...